Unduh Aplikasi

Pantau Tes CPNS, Taqwaddin: Ternyata Anak Ketua Panitia Tak Lulus Passing Grade

Pantau Tes CPNS, Taqwaddin: Ternyata Anak Ketua Panitia Tak Lulus Passing Grade
Ombudsman Aceh pantau proses seleksi CPNS Kemenkumham. Foto: Istimewa

BANDA ACEH - Ombudsman RI perwakilan Aceh memantau proses seleksi penerimaan Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) Kementrian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) yang berlangsung di Universitas Abulyatama, Kamis (14/9) sebanyak 7.593 orang.

"Kami memantau semua proses mulai dari registrasi, pemberian PIN ujian, absen kehadiran, pemeriksaan barang bawaan, masuk ke ruang pengarahan. Setelah pengarahan masuk ke ruang ujian. Total pendaftar sebanyak 7.593 orang," kata Kepala Ombudsman Aceh Taqwaddin Husin dalam rilisnya yang diterima AJNN.

Taqwaddin mengaku bahwa hingga saat ini proses seleksi belum terkendala, ketika tim ini meninjau ruang serves monitor nilai real time. Listrik dan jaringan masih lancar, bahkan Unaya menyiapkan genset besar yang mampu mengaliri listrik ke seluruh perkarangan kampus.

"Saya dan warga masyarakat atau anggota keluarga peserta test bisa menyaksikan secara langsung nilai ujian para peserta per detik via minitor real time," ujarnya.

Kata Taqwaddin, ujian ini dibagi dalam lima sesi per harinya, setiap sesi ikuti oleh 300 orang peserta. Informasi yang diterima pihaknya dari Ketua Panitia seleksi Zulkifli selaku Kadiv Administrasi Kanwil Kumham Aceh disampaikan bahwa peserta lulus passing grade hanya mencapai 6%. Dan diketahui anak dari ketua panitia seleksi juga tak bisa maju ke tahapan selanjutnya.

"Ternyata anak Ketua Panitia Seleksi, termasuk yang tidak lulus passing grade dalam seleksi pada sesi yang kemarin," tutur Taqwaddin Husin.

Taqwaddin menyampaikan, minimnya perseta lulus passing grade ini membuktikan para peserta kurang mempersiapkan diri secara serius. Terutama dalam ujian Tes Wawasan Kebanggsaan (TWK), Tes Intelegensia Umum (TIU) dan Tes Kompentensi Kepribadian (TKP).

Dirinya meminta, hasil ujian yang berlangsung secara objektif ini harus menjadi pendorong bagi semua perguruan tinggi untuk mengoptimalkan kembali pendidikan kebangsaan.

Komentar

Loading...