Unduh Aplikasi

Pansel Bantah Pernyataan Mantan Ketua STAIN Dirundeng Meulaboh

Pansel Bantah Pernyataan Mantan Ketua STAIN Dirundeng Meulaboh
Ilustrasi. Foto: Net

ACEH BARAT - Panitia Seleksi (Pansel) pemilihan Ketua Sekolah Tinggi Ilmu Agama Islam Negeri (STAIN) Teungku Dirundeng Meulaboh, membantah pernyataan dari Syamsuar, mantan ketua kampus tersebut yang mengatakan awal pencalonan Innyatillah dan Azhar, merupakan formalitas guna memuluskan Syamsuar untuk terpilih dan dilantik kembali sebagai Ketua STAIN Teungku Dirundeng Meulaboh.

Sekretaris Pansel, Suharman mengatakan tidak ada calon yang dianggap sebagai formalitas dalam pemilihan ketua. Pasalnya jika sekedar formalitas, sudah pasti dua calon lainnya yakni Innyatillah dan Azhar, tidak akan diterima berkasnya oleh Komite Seleksi (Komsel), Kementerian Agama.

"Saya pikir bahasa formalitas itu merupakan lips (polesan) bahasa saja. Untul mengajak calon lain untuk mau ikut pencalonan," kata Suharman, Senin (25/3).

Suharman menjelaskan dalam proses pencalonan tersebut, para calon harus melengkapi syarat berdasarkan Peraturan Menteri Agama (PMA) Nomor 55 Tahun 2015, dimana syaratnya harus lektor kepala dan juga bergelar doktor, bahkan ikut melampirkan surat keterangan sehat yang diurus langsung oleh calon.

Meski demikian, ia tidak membantah jika pencalonan Innayatillah, saat itu diajak oleh Ketua Pansel, Muchsinuddin. Namun, ia tidak sepakat jika ajakan terhadap Innayatillah untuk pencalonan dilakukan dengan proses lobby agar mau mendampingi atau mengantarkan Syamsuar terpilih kembali.

"Tidak ada lobby, ini murni mengajak untuk ambil bagian dalam kompetisi tersebut," tegasnya.

Baca: Ketua STAIN: Saya Lulus Sesuai Kemampuan, Tidak Ada Lobby Jabatan

Di dalam aturan, lanjut Suharman, tidak ada larangan untuk mengajak calon dari luar, lewat telepon, karena ajakan tersebut juga bagian dari pengumuman dibukanya pencalonan ketua di kampus itu.

"Terkait terpilihnya Innayatillah, saya rasa telah berjalan sesuai dengan prosedur yang diatur dalam PMA Nomor 68 Tahun 2015 yang dilakukan oleh komsel," ujarnya.

Memang, kata dia, pencalonan Innayatillah dan Azhar, dilakukan pada putaran kedua. Pasalnya pada saat dibuka pendaftaran tahap pertama, saat itu tidak ada bakal calon yang mendaftar selain Syamsuar, meski pihaknya telah menyebarkan pengumuman di seluruh Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN) seluruh Indonesia.

"Pada tahap pertama kami juga sudah mengajak dengan memyebarkan pengumuman ke PTKIN seluruh Indonesia, karena di STAIN tidak ada yang memenuhi syarat dengan jabatan lektor kepala. Kalau lektor bergelar doktor ada, seperti ketua senat," ungkapnya.

Karena tidak ada yang mendaftar hingga batas waktu yang ditentukan, pansel dan senat kemudian mengantarkan berkas pencalonan Syamsuar. Berkas tersebut ternyata ditolak karena tidak mencukupi syarat yaitu pencalonan minimal harus ada tiga.

"Karena tidak cukup syarat, kemudian pansel membuka kembali peluang tersebut, dan dengan mengajak mereka (Innyatillah dan Azhar) yang memenuhi syarat untuk mencalonkan diri," jelasnya.

Ada berbagai cara yang ditempuh pansel untuk mengajak orang-orang yang dianggap layak untuk maju, mulai dari menjumpai orang-orang tersebut, hingga sampai lewat telepon.

"Usaha saat itu membuahkan hasil, Innayatillah da Azhar bersedia mencalonkan diri. Terpilihnya ibu Innayatillah itu saya rasa sudah sesuai dengan PMA Nomor 68, dari seleksi melalui fit and proper test yang dilakukan tim komsel. Bagitu juga dengan kami sebelum mengantarkan berkas disini juga kami seleksi," imbuhnya.

Komentar

Loading...