Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Masa Depan Pendidikan Tinggi (III)

Pandemi Terra Incognita: Masa Depan Pendidikan Tinggi (III)
Ahmad Humam Hamid. Foto: IST.

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Pernahkan kita bayangkan dalam beberapa waktu yang tidak terlalu lama ke depan, akan ada semacam tawaran “komoditas” ilmu pengetahuan dan skill yang dijajakan via Internet? Akan ada toko sekolah, tepatnya toko “pendidikan tinggi” seperti apa yang dijajakan oleh Tokopedia hari ini terhadap berbagai barang keperluan sehari-hari?
 
Di toko yang kita sebutkan, konsumen tinggal memilik bidang ilmu yang akan dipilih, mulai dari sejarah, filsafat, ekonomi, sastra Arab klasik, perminyakan, komputer, industri digital, rantai pasok dan logistik, dan bahkan cabang ilmu baru yang sampai hari  ini kita belum tahu dan apa pula namanya. Akan terjadi kompetisi kualitas, harga, lama waktu belajar, fasilitas tambahan, dan berbagai penarik lainnya.
 
Tidak berhenti dengan “komoditi” pengetahuan, akan hadir pula berbagai lembaga sertifikasi independen yang mempunyai reputasi dan integritas yang akan menilaii dan menempatkan status penjual “komoditi” itu. Akan ada rating mulai dari bintang satu sampai dengan lima, dan penjual komoditi, dan bahkan lembaga sertifikasi pun akan teruji kwalitas dan kredibilitasnya.
 
Tidak ada yang dapat disembunyikan atau tambah dan kurang. Semuanya akan open, akan transparant. Kecanggihan digital hari ini, apalagi di masa depan akan membuat semuanya termasuk komodifikasi ilmu pengetahuan menjadi lebih objektif, dan rasional.
 
Bayangkan saja dengan tumbuhnya berbagai perguruan tinggi swasta seperti jamur dalam dua dekade terakhir, dimana konsumen bisa memilih pendidikan dengan status STIA,-sekolah tidak ijazah ada-, sampai dengan lembaga yang berkwalitas menyamai bahkan lebih tinggi dari Perguruan Tinggi Negeri sekalipun.
 
Tetap saja ada peluang atau pihak yang akan berupaya menjaja ilmu pengetahuan “model STIA” tadi, akan tetapi kemajuan dan kemampuan dan kecanggihan digital akan melibas berbagai upaya palsu dan murahan itu.
 
Akankah model pendidikan tinggi seperti itu di masa depan? Kalau benar, dan memang bahkan sudah terjadi, maka kampus di masa depan mungkin tidak lagi membutuhkan bangunan fisik yang besar, kecuali untuk berkumpulnya para pengajar yang bahkan juga tidak memerlukannya.
 
Semua proses pendidikan, mulai dari administrasi pendidikan sampai dengan proses belajar dan mengajar akan total berjalan digital. Proses belajar mengajar yang saat berbasis zooming atau zooming like, akan lebih hebat lagi berkembang di masa depan.
 
Hampir seluruh proses kehidupan akan semakin terus terkait  mengikuti kelipatan daya pikir chip komputer yang berganda setiap 16 bulan seperti layaknya hukum Moore. Pendidikan tinggi juga akan seperti itu, dan bahkan bukan tidak mungkin  akan ada situasi dimana professor tidak dibutuhkan lagi, karena kecerdasan buatan akan mengambil sebagian besar pekerjaan akademik.
 
Akan ada profesor digital dengan kemampuan dan kecepatan berpikir berbasis algoritma yang akan membuat profesor manusia hampir tak berdaya. Dan anehnya, awalnya profesor digital itu dibuat oleh profesor manusia yang ketika jadi berbalik arah meninggalkan jauh kemampuan si pembuatnya.
 
Kalau hal itu terjadi, maka para guru besar perguruan tinggi hari ini berpeluang besar menjadi “spesies” terakhir manusia yang “hidup” dan “berkeliaran” di kampus-kampus yang sebagian besar tidak lagi punya tempat untuk makkluk ini.
 
Menulis statemen seperti ini bukanlah sama sekali bermaksud merendahkan kemampuan manusia, akan tetapi harus diakui pada suatu hari yang tidak akan terlalu lama, hukum Moore akan menjadi contoh terbaik bagaimana gambaran istilah “senjata makan tuan akan terjadi”. Tetap saja akan ada manusia, bahkan profesor sekalipun di berbagai kampus, tetapi lembaga  pendidikan tinggi tetap mempunyai substansi sebagai ajang mencerdaskan manusia, hanya saja telah berubah  rupa dan cara.
 
Dan perobahan itu memulai bola salju dari masa Covid-19 dan akan terus bergulir ketika Covid berhenti, dan akan terus bergulir cepat, kedalam suatu bentuk yang tidak mampu dibayangkan hari ini. Bayangkan saja pernahkan para Filosof Yunani semenjak tahun 450 SM yang mengajar dua bagian “gumnastike”- fisik dan “mousike”-intelektual, mempunyai imajinasi tentang perguruan Tinggi seperti hari ini.
 
Pernahkan ada bayangan dikalangan filosof sekelas Plato atau Aristoteles tentag pendidikan tinggi seperti Universitas Bologna (1188 ) di Italia, Universitas Oxford (1096) di Inggris, dan Universitas Salamanca (1134) di Spanyol. Rentang waktu antara dua bagian “gumnastike”- fisik dan “mousike”-intelektual, Yunani, dengan lahirnya kampus-kampus Eropa itu lebih dari satu setengah milinium, untuk tidak membandingkan dengan Universitas Harvard di AS, Sorbone di Perancus , apalagi Tsing Hua di Cina.
 
Dengan kekuatan hukum Moore, kita tidak bisa membayargkan bagaimana bentuk pengajaran dan pendidikan masa depan, terutama dalam konteks pendidikan tinggi sangat cepat untuk tahun 2030 yang hanya waktunya sembilan tahun dari sekarang. Akan tetapi untuk membantu imajinasi kita di masa depan bagaimana bentuk awal “disrupsi” pendidikan tinggi sedang dan akan terjadi akan tampak jelas dari apa yang telah dialami dan dijalani oleh anak Aceh tulen 100 persen.
 
Namanya Alif, anak dari pengajar USK, Prof.Taufik Abidin, cucu dari sedikit senior USK mempunyai keberkahan usia, Prof Abidin Hasyim. Alif adalah anak Aceh yang makan bu, asam sunti, sie reuboh, dan kuah masam keueung, walaupun sekali dua makan McDonald dan juga Pizza Hut. Ia juga belajar  membaca Alquran dan ilmu-ilmu agama yang tidak kurang, karena memang kakek buyutnya adalah seorang ulama terkemuka ketika hidupnya di Sibreh, Aceh Besar.
 
Alif adalah tipe anak cerdas, cemerlang, dan haus akan prestasi. Ia baru saja menamatkan bidang studi manajemen, Fakultas Ekonomi, UI dan saat ini bekerja di sebuah perusahaan di Jakarta. Karena ia “lapar” pengetahuan diwaktu senggang ia mencari tahu apa saja, dimana saja, dan kapan saja, sesuatu yang dia inginkan di berbagai jejaring internet.
 
Alif sangat tertarik dan senang dengan ilmu dan ketrampilan analisa data untuk menjadi kenderaan karirnya di masa depan. Alif kemudian tertarik dengan program sertifikat data analysis yang setara dengan 8 SKS perguruan tinggi S1 yang “dijual” online oleh perusahaan raksasa digital Google.
 
Biaya yang mesti dibayar oleh Alif adalah 12 dolar AS sebulan sampai dengan berhenti atau lulus ujian. Karena Google menghargai otak cerdas dan tekun, ada waktu uji coba gratis tujuh hari yang diberikan. Hebatnya waktu yang tujuh hari itu diselesaikan oleh Alif hanya dalam tempo lima hari. Alif diganjar “gratis” oleh Google, tidak usah membayar hingga tamat.
 
Ganjaran yang luar biasa yang diberikan oleh Google terhadap luluşan program seperti Alif adalah sertifikat yang setara dengan lulusan strata satu (S1) 4 tahun. Paling kurang Google sendiri akan menerima lulusan program itu atau sejenisnya made in Google,  sebagai calon pekerjanya dan seritifikat itu sama dengan ijazah S1 4 tahun.

Sertifikat dari Google untuk Alif. Foto: IST.

Untuk diketahui peluang kerja untuk masuk di Google, jauh lebih rumit dari perusahaan global manapun di dunia, bahkan mengalahkan Unversitas Harvard sekalipun. Untuk diketahui tingkat penerimaan pekerja di Google rata-rata hanya sekitar 0.02 persen dari pelamar, artinya dari 100 orang yang memenuhi kriteria calon pegawai, yang diterima hanya 2 orang saja.
 
Ketika saya melihat sepintas WA komunikasi antara Prof Taufik dengan Alif, terbaca oleh saya ia juga rupanya telah mengambil sertifikat online yang serupa di salah satu kampus terkemuka di AS dan dunia, Duke University. Masih cukup banyak lagi kampus-kampus lain yang juga segera akan mengikuti substansi dan spirit pendidikan professional ala Google
 
Apa yang telah dialui oleh Alif hanyalah baru halaman depan sebuah disrupsi besar pengajaran dan pendidikan tinggi masa depan, sehingga imajinasi kita tentang Tokopedia pendidikan tinggi masa depan bukanlah sesuatu yang mustahil. Bola salju akan terus berlanjut sampai ke titik tak terhingga.
 
Ketika pembaca melihat ada sertifikat Alif yang menjadi ilustrasi tulisan ini, saya harus mengaku, saya “memaksa” Alif dan orang tuanya untuk ikhlas mensedekahkan bukti prestasinya itu kepada masyarakat Aceh, terutama, sebagai bukti nyata tentang apa yang sedang terjadi dengan pendidakan tinggi masa depan.
 
Awalnya mereka bersikeras tidak mau, tidak mau pamer,dan takut kepada Allah SWT dengan kesombongan, terutama dalam bulan ramadhan. Namun akhirnya setelah saya bujuk bahwa ini adalah dakwah, bahwa ini adalah sedekah terbaik untuk membuka mata rakyat Aceh, terutama untuk para pegiat dan pemegang kebijakan pendidikan di Aceh, hati mereka luluh.
 
Gambar ilustrasi diatas adalah contoh nyata sertifikat profesional yang dipilih, yang  boleh diikuti oleh tamatan  SMA dengan nilai SKS 8 dan diakui keseteraannya dengan tamatan S1 Harvard, Princeton, MIT, Cambridge, London School of Economic, Tsing Hua, UI, ITB, dan USK. Dan itu diselesaikan dalam tempo hanya dua bulan saja.
 
Untuk konteks Aceh saya ingin mengistilahkan apa yang telah dilalui oleh Alif dengan sertifikat Googlenya adalah “Alif shock” yang membangunkan kita semua tentang apa yang sedang dan akan terjadi dengan pendidikan tinggi masa depan. Yang paling penting untuk diingat adalah ini baru babak pendahuluan dari model pendidikan tinggi pasca pandemi Covid-19. More to come. Terra in cognita.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh.

Idul Fitri - Disdik
Idul Fitri - BPKA
Idul Fitri - ESDM Aceh
Idul Fitri - Disbudpar
Idul Fitri- Gubernur Aceh

Komentar

Loading...