Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Masa Depan Pendidikan  (I)

Pandemi Terra Incognita: Masa Depan Pendidikan  (I)
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Empat bulan setelah terjadinya Covid-19, tepatnya pada tanggal 4 April 2020, Arundhaty Roy, penulis novel kondang wanita asal India, The Good of Small Things, menulis di harian Financial Times dalam opininya tentang  Pandemi sebagai portal, tepatnya pintu gerbang baru yang menutup masa lalu, untuk masuk ke sebuah masa depan  yang akan di rajut. Dalam konteks sejarah ia melukiskan bagamana pandemi memaksa manusia untuk melepaskan kehidupan masa lalu dan membangun kehidupan baru masa depan.
 
Menurut Roy, tidak banyak pilihan yang tersedia. Pilihan pertama adalah membawa beban masa lalu sebanyak-banyaknya, membebani diri dengan ide-ide kadaluarsa, menghela bangkai pekerjaan yang tidak lagi relevan, atau membiarkan diri tenggelam dalam kekeruhan dan kesuraman. Pilihan yang lain adalah, memilih berjalan cepat dan lincah, membawa perangkat kehidupan seperlunya, siap untuk sebuah kehidupan baru, dan sangat siap untuk berjuang dengan segala cara untuk sebuah petualangan sebagai bagian dari peradaban baru yang sedang tumbuh.
 
Babak awal pandemi yang mulai merobah dan merasuk kehidupan sudah mulai terasa di segala sektor. Kehidupan keseharian, hubungan keluarga dan sahabat dekat, kegiatan ekonomi, pekerjaan, kesehatan, pesta kawin, dan kadang kala juga ibadah ritual keagamaan. Semua relung kehidupan telah diganggu dan digerus oleh makhluk hidup kecil itu.
 
Naskah klasik Charles Darwin tentang evolusi sekali lagi membuktikan kebenarannya tentang proses  adaptasi sebagai kata kunci bagi makhluk yang ingin berlanjut kehidupannya. Bedanya, pada makhluk manusia adaptasi itu kemudian berbaur dengan innovasi, karena memang manusia mempunyai akal budi sebagai anugerah terbesar sang Khalik.
 
Pandemi, adaptasi dan innovasi manusia telah tercatat dalam berbagai peristiwa sejarah sebelumnya. Setiap pandemi yang terjadi selalu menciptakan gelombang perobahan, kadang bagai tsunami yang segera menimbulkan gelombang besar dan menghantam apa saja, kemudian berhenti. Tak jarang seperti peristiwa biologi pandemi yang butuh masa inkubasi untuk kemudian baru timbul secara nyata, dampak sosial ekonomi  pandemi kadang juga butuh masa inkubasi. Kadang butun bulan, tahun, dekade, bahkan abad. Ingat saja renaisans Eropah, robohnya aristokrasi, atau munculnya kapitalisme moderen Eropah, yang butuh masa inkubasi berabad-abad, berakar pada wabah black death yang terjadi pada pertengahan abad ke 14.
 
 
Kecepatan perobahan yang diakibatkan oleh makhluk kecil virus ini tidak pernah terbayangkan bagi para ahli yang seringkali mampu memberi arah kecendrungan masa depan yang sedang terjadi. Walaupun Bill Gates (2018) sudah pernah memberikan warning tentang potensi pandemi yang bisa terjadi setiap saat, ia tidak pernah merinci bagaimana pandemi itu akan mengganggu dan memporak porandakan kehidupan manusia secara global. Bahkan penulis futuris terkenal Alfvin Tofler yang pernah memberikan beberapa pandangan futuristik yang kemudian terbukti pada era sembilanpuluhan, juga tak pernah mampu memberi indikasi kecepatan perobahan akibat Covid-19.
 
Seperti sektor kehidupan lain yang telah terkacaukan akibat kehadiran Covid-19, sektor pendidikan juga mengalami hantaman yang sangat dasyhat. Hampir seluruh sekolah dibanyak negara telah bereaksi terhadap Covid-19 dengan menutup sekolah secara temporer. Antara 1.3-1.5 milyar siswa dan mahasiswa telah terganggu proses pembelajarannya secara mendadak, dan sedang diatasi secara darurat dengan sistem pembelajaran daring.
 
Kecendrungan integrasi pendidikan dengan tehnologi yang bahkan telah terjadi sebelum Covid-19 kini semakin terakslerasi setelah wabah itu terjadi. Hampir tidak lagi apa saja yang tertulis tetang pendidikan yang tidak terhubungkan dengan kata “digital” bahkan untuk tempat yang paling udik sekalipun.
 
Zoom adalah contoh awal instrument tehnologi pembelajaran yang akan diikuti oleh berbagai instrument lain yang tak terhitung jumlahnya di masa yang akan datang. Akan masih banyak lagi saudara dan kerabat zoom yang akan meramaikan proses pembelajaran yang berbasis pada tehnologi digital.
 
Disrupsi pendidikan yang terjadi secara merata dan global, yang membuat tehnologi digital menyatu dengan pendidikan memberikan sejumlah konsekwensi penting dalam proses belajar dan mengajar.  Hal pertama menjadi catatan penting adalah redifinisi peran guru dalam proses belalar mengajar. Guru tidak akan pernah lagi menjadi “gudang” pengetahuan yang tugasnya setiap hari mendistribusikan pengetahuannya kepada murid, Tehnologi digital telah membuat peran itu hilang dan menjadi barang yang hanya akan disimpan di mesium.
 
Tehnologi digital telah membuat gudang ilmu pegetahuan berpindah dari otak dan mulut guru, atau pustaka paling canggih sekalipun ke mesin pencari, tidak hanya dalam bentuk tertulis, tergambar, namun juga dalam bentuk yang lebih informatif semisal you tube dan lain. Akan ada berbagai aplikasi untuk pelajaran apapun yang lebih komprehensif, sederhana, dan mudah dimengerti untuk berbagai tingkatan. Peran guru menjadi berubah dari  sepenuhnya “menggurui” kepada sepenuhnya “memfasilitasi” anak didik, tidak hanya dalam mempelajari ilmu pengetahuan, tetapi juga dalam menciptakan ilmu pengetahuan.
 
Disrupsi digital pendidikan yang karena Covid-19 menjadi sangat akseleratif menuntut sebuah paradigma baru proses belajar mengajar. Yang dimaksud adalah perpindahan peran guru dari gudang dan  distributor pengetahuan menjadi fasilitator pengetahuan, dan ini hanya akan efektif bila terjadi perpindahan gradual, pada awalnya untuk kemudian menjadi ekstrim dari teaching culture kepada learning cuture.
 
Ketidakseimbangan dalam pembelajaran kelas dalam keseharian antara guru dan murid akan berobah. Dominasi guru sebagai seseorang yang maha tahu dalam paradigma digitalisasi pendidikan akan dipertanyakan. Dengan terbukanya akses digital ke berbagai mesin pencari, guru dan murid akan berpeluang sama untuk memperoleh informasi atau pengetahuan apapun yang mereka inginkan.
 
Monopoli pengetahuan kini menjadi barang yang relatif langka, karena pengetahuan juga telah terdigitalisasi dengan baik. Ini membuat guru dan murid dalam era digitaisasi berada dalam sebuah situasi leissez-fire pengetahuan, sebuah situasi “pasar bebas” dimana siapapun akan berpeluang sama untuk mendapatkan apapun ilmu dan infomasi yang diinginkan, hanya dengan memiiki sejumlah kualifikasi yang tidak sangat berat.
 
Dalam keadaan seperti itu situasi pendidikan satu arah menjadi  tidak relevan, dan yang terjadi adalah sebuah situasi intelektual yang sangat berbeda dari sebelumnya. Guru yang dalam perspektif konvensional selama ini dianggap mempunyai kelebihan yang dicirikan oleh asosiasi antar umur kalender dan umur intelektual kini menjadi kurang. Umur intelektual guru kini dengan gampang dapat disusul dan bahkan dilampaui oleh murid hanya  dengan mengandalkan mouse atau telunjuk ke layar instrumen digital menggunakan mesin pencari. Ketika hal itu terjadi tidak akan ada lagi ketimpangan intelektual yang tajam antara guru dan murid, dan ini menjadikan budaya pendidikan mengajar menjadi  tidak relevan.
 
Digitalisasi  yang telah merobah berbagai aspek kehidupan bahkan sebelum Covid-19, harus diakui masih tetap mengungkung struktur pendidikan dan pembelajaran masih tetap belum banyak berobah. Dengan akselerasi digital pedidikan yang disruptif akibat pandemi, tidak banyak pilihan yang tersedia kecuali dengan secepatnya mengerjakannya dengan sepenuh hati.  Harus diingat pula bahwa digitalisasi pendidikan itu juga tak ubahnya seperti tsunami yang mengubah landskap pendidikan dan pengajaran dengan skala dan kecepatan yang dasyhat.
 
Akses pendidikan yang terbuka dua puluh empat jam yang membuat guru dan murid bepeluang  mempunyai umur intelektual yang sama mempunyai implikasi besar kepada sebuah sistem, apa yang disebut dengan sekolah. Imaginasi sekolah yang selama lebih bersasosiasi dengan bangunan, dalam konteks digital telah berobah menjadi tidak lebih sebagai apa yang disebut oleh  petinggi Microsoft yang menangani pendidikan, Anthony Salcito,  sebuah entitas learning hubs-titik simpul belajar. Disinilah esensi learning culture kemudian menjadi sebuah keniscayaan untuk lebih mendominasi proses pendidikan ketimbang teaching culture.
 
Yang akan terjadi adalah sebuah proses pemberdayaan diri dari kedua pihak, murid dan guru secara lebih fleksibel yang akan merobah secara total hubungan diantara keduanya, bahkan dengan orang tua murid sekalipun. Model pendidikan “nasi bungkus” yang membuat sebuah kerangka pendidikan satu paket untuk semua dengan jam masuk, istirahat, dan selesai ditandai dengan bunyi bell atau lonceng segera akan berobah. Guru akan berperan tidak hanya sebagai fasilitator, tetapi juga akan melangkah lebih jauh menjadi coach, komunikator, dan bahkan secara bersama akan memimpin murid untuk menjadi knowledge creator.
 
Model pembelajaran learning culture akan merobah pendidikan model pabrik yang seragam seperti yang telah terjadi selama ratusan tahun, menjadi sebuah proses yang memberikan peluang kepada individu secara unik yang akan dicirikan oleh menonjolnya kekuatan dan kemampuan individual untuk mendapatkan apapun yang terbaik yang diinginkannya.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...