Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita : Masa Depan Kota (IV)

Pandemi Terra Incognita : Masa Depan Kota (IV)
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Kota, manusia, dan pandemi adalah tiga kata yang terus menerus bergulir sepanjang sejarah manusia. Suatu hal yang pasti, jumlah manusia seiring dengan perjalanan waktu terus menerus bertambah meninggalkan kawasan pedesaan, menuju kota. Tidak mengherankan perang tata ruang kota, perang politik kota, selalu berurusan dengan upaya memperebutkan kosentrasi kawasan mesin penghasil uang, baik itu central business district -pusat kota, mall dan hiburan, dan kawasan pemukiman elit.
 
Daerah kumuh yang padat dan miskin adalah  limbah dari pergumulan kepandaian dan keahlian sumber daya manusia yang kalah. Daerah kumuh seringkali menjadi ukuran kehebatan kota ketika pandemi terjadi. Kali ini kota sehebat Singapore, yang  juga berstatus  negara kota dan dianggap sebagai salah satu negara terbaik dalam pengelolan pandemi, tetap saja bobol pertahananya dari Covid-19. Daerah yang diserang dan terlemah pertahanannya adalah daerah miskin, dimana banyak pekerja migran yang hidup berdesakan menjadi tuan rumah Covid-19 di Singapore.
 
Catatan dari AS yang menyebutkan proporsi korban dan jumlah kematian masyarakat kulit hitam dan warga latin yang jauh lebih banyak dari warga kulit putíh juga mengambarkan kerentanan kawasan pemukiman kumuh perkotaan, dimana warga kulit hitam dan warga latin umumnya bertempat tinggal dan mayoritas mereka adalah warga miskin. Hal yang sama juga terjadi di Mumbai, Nairobi, Jakarta, dan juga Surabaya. Tetapi semua itu tak akan pernah menyurutkan niat warga pedesaan untuk terus berdatangan ke daerah perkotaan di masa yang akan datang.
 
Kecendrungan konsentrasi manusia di perkotaan sebelum Covid-19 telah  sangat fenomenal. Pada tahun 2008, untuk pertama kalinya dalam sejarah, jumlah penduduk perkotaan global melebihi penduduk pedesaan. Saat ini saja tidak kurang dari 4 milyar manusia tinggal diberbagai kota di dunia. Diproyeksikan pada tahun 2050, 68 persen penduduk dunia  akan tinggal diperkotaan. Pada tahun 1950, hanya ada dua mega city di dunia, New York dan Tokyo, dan hal itu dalam perjalanan waktu telah berubah. Dua tahun yang lalu, 2018, jumlah mega city dunia telah bertambah menjadi 31 kota. Sebelum Covid-19 Cina juga telah mempersiapkan 19 wilayah super industrial baru.  Sehubungan dengan itu kajian PBB menyebutkan pada tahun 2030 paling kurang 10 mega city akan menambah jumlah 31 mega city yang telah ada.
 
Di negara maju, seperti Jepang, AS, dan banyak negara Eropah, penduduk perkotaan sudah mencapai sekitar 90 persen lebih dari total penduduk. Sebelum Covid angka itu diperkirakan akan terus menaik, sehingga tidaklah berlebihan ketika beberapa kota kecil di Jepang bersedia memberikan insentif bahkan subsisdi kepada warga yang mau pindah ke kawasan pedesaan.
 
Kedatangan Covid-19, seperti juga kedatangan beberapa pandemi sebelumnya yang mematikan, telah mengusik kembali pemukiman perkotaan. Kejadian beberapa pandemi sebelumnya semenjak wabah Antonine pada abad ke dua dan berbagai pandemi selalu menggerakkan warga untuk pindah ke kawasan pedesaan untuk berberapa waktu, untuk kemudian ketika pandemi reda kembali ke kota.
 
Peristiwa sejumah pandemi di kota-kota Eropah pada revolusi industri pertama dan kedua juga membuat banyak warganya yang mengungsi ke pedesaan dan ketika pandemi reda kembali ke perkotaan. Kota kemudian beradapasi dengan membuat rekonstruksi tata ruang dan peningkatan sanitasi yang luar biasa, sehingga ancaman pandemi yang terjadi akibat makhluk kecil- bakteri atau virus dapat di atasi dengan baik. Dalam perjalanannya, warga yang pindah keluar kota dalam jangka waktu yang tidak begitu lama  kembali ke kota, atau paling kurang akan menetap di kawasan pinggiran kawasan perkotaan.
 
Respon warga perkotaan yang saat ini banyak meningalkan kawasan perkotaan, kini berada dalam pertanyaan besar. Apakah mereka akan keluar secara permanen atau hanya sementara sebagai upaya menghindar dari pandemi yang mematikan?  Akankah fenomena ini mengikuti pola yang telah terjadi berkali-kali, yang pada akhirnya justru tidak hanya membuat mereka kembali, akan tetapi juga membuat banyak penduduk pedesaan yang bermigrasi ke kota, yang kemudian melahirkan berbagai mega city, terutama di negara berkembang.
 
Ada sesuatu yang unik yang membuat pandemi Covid-19 ini berbeda dari sejumlah pandemi sebelumnya, baik yang melekat dengan sifat penyakit itu sendiri, maupun dengan realitas lain seperti tehnologi digital yang belum ada pada saat kejadian sejumlah pandemi sebelumnya. Kekhususan Covid 19 sebagai penyakit paru-paru dan pernafasan yang mensyaratkan social distancing , isolasi diri, dan pentingnya menghindari kerumunan dan kepadatan manusia dalam ruang tertentu dipastikan akan mejadi variabel penentu interaksi manusia sekalipun covid-19 berakhir nantinya.
 
Sifat kegiatan ekonomi perkotaan dan pekerjanya kini telah sangat berbeda dibandingkan dengan serangan pandemi yang terjadi sebelumnya, terutama pada masa revolusi industri. Jika dahulunya yang menonjol adalah kegiatan industri yang didominasi pekerja kerah biru-pekerja manual kasar, realitas ekonomi perkotaan hari ini adalah knowledge based economy-ekonomi ilmu pengetahuan dan jasa yang semakin mengarah kepada pekerja otak. Hal ini telah membuat persoalan kedekatan para pekerja dengan pusat produksi komoditas jasa pengetahuan tidak lagi menjadi relevan, dan kehadiran tehnologi digital telah menjadi akselerator kuat terhadap realitas itu.
 
Akankah kemudian work from home-kerja di rumah, social distancing- jarak sosial, hindari kerumunan, akan membuat wilayah pedesaan menjadi alternatif tempat tinggal dari perkotaan? Persoalan kerja rumah di perkotaan yang sangat terbatas ruangnya, harga tanah dan ruang yang mahal tentu saja kalah menarik dengan tinggal di wilayah pedesaan dengan ruang yang relatif lebar, ruang bermain keluarga yang lebih luas, dan paparan kehidupan di alam terbuka telah menjawab gaya hidup sehat yang komplit. Ini sangat berbeda dengan kehidupan apartemen di perkotaan yang bernuansa sarang kecil, dan hanya berfungsi memberikan ruang istirihat di tengah hiruk pikuk perkotaan yang chaotic.
 
Rumah di wilayah  pedesaan pada era pasca Covid-19 menjadi tempat kerja yang tenang dan produktif, tempat tinggal yang nyaman dan sehat, dan juga menjadi arena mendekatkan anak-anak dengan kehidupan yang lebih alami. Itu semua sangat dimungkinkan, karena akan terjadi  konektivitas digital, konektivitas fisik, jalan yang mumpuni, dan konektivitas via drone massal yang akan melayani berbagai kebutuhan rumah tangga secara online. Digitalisasi juga dapat melayani pendidikan daring, telemedicine, dan bahkan berbagai jasa pelayanan lain yang dibutuhkan.
 
Dengan mengacu kepada statistik PBB yang menulis 90 persen korban penularan dan kematian Covid-19 berada di daerah perkotaan, maka pertanyaan yang layak dicari jawabannya adalah apakah warga kota yang pindah ke pedesaan, terutama dari kota-kota negara maju akan kembali ke kota ketika pandemi usai? Jawaban terhadap itu mulai diperlihatkan  oleh data awal yang memberikan indikasi yang menarik untuk terus diikuti.
 
Penelitian pendahuluan di AS oleh Harris Poll Survey (2020) menemukan hampir 40 persen warga AS mempertimbangkan untuk pindah ke tempat tinggal baru yang kurang padat penduduknya- pedesaan, dan itu alasannya lebih didasari kepada pengalaman dan ancaman Covid-19. Di Jepang untuk pertama kalinya, jumlah penduduk yang keluar dari Tokyo pindah ke kawasan pedesaan lebih banyak dari warga baru yang masuk dan tinggal di perkotaan.
 
Penelitian awal di negara-negara Scandanivia juga menemukan sekitar 1 juta pekerja di Finlandia lebih memiilih tinggal di kawasan pedesaan, dan ketika Covid-19 usai nantinya, setengah dari itu masih tetap memilih kawasan pedesaan sebagai tempat tinggal permanen. Survey di kota London menemukan  51 persen calon pekerja baru tahun 2020 lebih memilih bekerja di luar kota London- di pedesaan, dibandingkan dengan hanya 20 persen pada tahun yang lalu. Sejumlah kota-kota di Ingris juga menunjukkan naiknya jumlah warga yang berkeinginan membeli rumah di pedesaan naik drastis dari tahun lalu, Liverpool 275 persen, Edinburg 205 persen, dan Birmingham 186 persen.
 
Kita belum bisa memastikan bagaimana bayangan pasti kehidupan perkotaan dimasa yang akan datang, tetapi yang pasti apa yang telah terjadi sebelum Covid-19 berpeluang besar untuk tidak akan pernah terjadi lagi. Kekuatan tarik menarik antara mempertahankan kehidupan kota dengan bebagai penyesuaian dengan pandemi akan terus bergulir, sementara alternatif warga kota pindah ke wilayah pedesaan tetap saja terbuka lebar. Covid-19 kini sedang mengusik peradaban besar manusia, kawasan pemukiman, kota, dan desa.
 
Untuk kita di Aceh, sebenarnya tidak terlalu payah membayangkan trend apa yang sedang terjdi di kota-kota besar didunia, dan mungkin juga akan terbawa ke Aceh, Bayangkan saja sejumlah pegawai kantor gubernur, atau pegawai Bank yang tinggal di Lamsujeun, kecamatan Lamno, atau di Kale, kecamatan Laweung Pidie, atau Seune’uam, kawasan kaki Seulawah di atas Kota Jantho, yang tinggal dan hidup, namun setiap hari mengerjakan tugasnya dengan baik dan rapi. Apel senin cukup dengan zoom, menerima intruksi dan mengirim pekerjaan nya via internet. Selamat datang kehidupan baru pasca Covid-19.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

HUT Pijay

Komentar

Loading...