Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Masa Depan Kota (III)

Pandemi Terra Incognita: Masa Depan Kota (III)
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Bagaimanakah merumuskan atau menjelaskan tentang masa depan dan bentuk kota pasca Covid19 secara sederhana, mudah, dan gampang di mengerti? Seperti biasa yang digunakan oleh guru atau penceramah, pilih saja sejumlah kata kunci yang akan mampu menerangkan segalanya, dari yang paling enteng sampai kepada yang paling  kompleks. Dan kata kunci untuk masa depan kota, pasca Covid-19 tidak banyak, hanya tiga; digital, efek Zoom, dan efek Thunberg.
 
Memang benar, digital dan zoom sebenarnya tidak dapat dipisahkan, karena digital adalah “indatu” dari berbagai teknologi informasi, dan komunikasi, sedangkan zoom adalah sebuah instrumen komunikasi digital yang sampai hari ini dampaknya sangat fenomenal. Pemisahan ini penting untuk lebih mudah membuat partisi penjelasan yang lebih lengkap dari tiga kata kunci itu.
 
Sebenarnya, tanpa Covid-19 pun kota-kota masa depan telah dirancang dengan menempatkan digital sebagai hati dan jantung kehidupan dan pengelolaan wilayah perkotaan. Jauh sebelum pandemi terjadi istilah “smart city” sudah bergentayangan dimana-mana. Tak kurang kota seukuran Banda Acehpun digaungkan akan menjadi kota cerdas, paling kurang dalam “hafalan” para politisi yang digunakan dalam komunikasi publik.
 
Hantaman Covid-19 yang melumpuhkan kota-kota global selama hampir setahun yang terjadi ditengah-tengah gerakan besar kota-kota di dunia bertransformasi menjadi smart city-kota cerdas, telah  memberikan dua implikasi sekaligus. Pertama, karena keterpaksaan, jumlah anggota masyarakat yang menggunakan  tehnologi komunikasi bertambah sampai dengan empat kali dibandingkan dengan masa sebelumnya. Kedua,  konsep pengembangan kota cerdas dengan penerapan digital secara penuh yang selama ini kurang menempatkan pentingnya ancaman potensi pandemi untuk kehidupan perkotaan masa depan, kini perlu disisip ulang. Hal ini perlu dilakukan untuk memanfatkan kecanggihan digital untuk pengendalian pendemi, baik untuk mitigasi, survailance, maupun pengendalian yang lebih ketat dan teorganisir.
 
Tidak hanya itu, perhatian besar kepada kesehatan publik yang semakin besar, walaupun kurang berhubungan dengan pandemi, juga semakin dikaitkan dengan digitalisasi perkotaan. Secara tidak sengaja, pandemi Covid-19 telah menjadi katalis baru yang memicu adopsi teknologi digital untuk hampir semua aspek kehidupan dan penghidupan perkotaan di masa depan.
 
Berbagai kota dunia, terutama di negara-negara berkembang telah semakin terkaselerasi untuk mempercepat pembangunan kota cerdas, baik dari pemerintahan kota, maupun dari warganya. Istilah smart city-kota cerdas, kini semakin terkait dengan warga cerdas, pemerintahan cerdas, hidup cerdas, mobilitas cerdas, ekonomi cerdas, dan lingkungan cerdas, yang semuanya akan menjadi pilar kota pintar digital masa depan.
 
Kecanggihan dan mafaat digitalisasi dalam pengendalian pandemi kini tidak lagi memerlukan imaginasi untuk dapat melihat keampuhannya. Sejumlah pengalaman di Singapore, Cina, Taiwan, Korea Selatan, dan Vietnam telah menunjukkan bahwa  prinsip kota cerdas tidak hanya berguna dalam pemantauan dan pengendalian pandemi seluruh warga dan wilayah perkotaan, akan tetapi juga mampu sekaligus melayani konsultasi dan pelayanan perawatan warga secara virtual.
 
Kata kedua yang menjelaskan tentang kota masa depan adalah ucapan “selamat tinggal” terhadap perkantoran untuk sebagaian besar pekerjaan. Penggunaan teknologi komunikasi zoom, seperti rapat virtual, seminar virtual, dan berbagai pertemuan lainnya, semakin menunjukkan bahwa hampir tidak ada perbedaan yang berarti dibandingkan dengan pertemuan fisik biasa yang telah terjadi di masa-masa sebelumnya.  Ini artinya bagi sebagian besar pekerja-terutama pekerja otak, persoalan ruang dan waktu menjadi kurang relevan dalam pekerjaan, karena yang diminta adalah produk pekerjaan yang terukur dan telah ditentukan sebelumnya.
 
Efek zoom ini akan memberikan implikasi yang sangat luas terhadap berbagai sektor lain kehidupan perkotaan. Yang pasti kepadatan lalu lintas pada jam masuk dan keluar kantor di kota-kota besar akan berkurang secara luar biasa. Angkutan umum perkotaan kemungkinan besar tidak lagi terbebankan dengan penumpang yang melimpah, dan ini juga berakibatkan kepada menurunnya polusi perkotaan yang signifikan dibandingkan dengan masa sebelumnya.
 
Efek zoom juga memberikan dua peluang besar terhadap pola pemukiman perkotaan masa depan. Pertama, pola pemukiman yang selama ini telah terjadi tetap saja dipertahankan, dengan sejumlah penyesuaian, dan yang kedua adalah tempat tinggal ke arah pinggiran kota, bahkan yang semakin berdekatan dengan kehidupan yang lebih alami semakin terbuka lebar. Apalagi bila berbagai pelayanan yang berbasis digital semakin tersedia dengan baik, efek zoom akan semakin memberi keleluasaan kepada warga untuk memilih tempat tinggal yang disukainya.
 
Sebagai bukti semakin kuatnya penggunaan zoom dalam kegiatan sehari-hari adalah fenomena zoom sebagai merek telah berobah menjadi kata benda dalam kehidupan perkantoran, pendidikan, kesehatan, dan berbagai urusan pelayanan publik sehari-hari, persis ketika pada tahun tujupuluhan  orang Aceh menyebutkan kata “honda” kepada apapun kenderaan roda dua yang bermesin dari merek apapun. Hal ini paling kurang terbukti dengan data kuantitatif, dimana setahun yang lalu jumlah pengguna harian zoom dari 10 juta orang menjadi 300 juta pengguna perhari pada akhir bulan Agutus kemarin. Pada saat yang sama, saingan zoom dari raksasa digital Miccrosoft, Teams telah mencapai 200 juta pengguna harian, sementara software Meet dari Google telah mencapai angka pengguna harian sebesar 100 juta.
 
Efek Thurnberg adalah kata kunci ketiga yang akan mewarnai masa depan kota di dunia. Peringatan tentang ancaman lingkungan, terutama akibat pemanasan global dan ancaman hilangya keanekaragaman hayati telah didengungkan jauh sebelum Covid-19 dimulai di  Wuhan yang kemudian menyebar ke seluruh kota-kota besar dan negara di dunia. Dua bulan sebelum Covid-19 mulai meneror Cina dan dunia, Greta Thunberg aktivis lingkungan remaja dari Swedia menjadi headline media -media besar dunia sekaligus juga menjadi pembicaraan politisi, pemimpin bisnis dan negarawan terkemuka global. Ia memberikan peringatan keras tentang pemanasan global dan pesan dan sikap non komprominya terhadap keberlanjutan praktek pengrusakan lingkungan yang sedang terjadi.
 
Uniknya ketika pandemi terjadi dan kota-kota di dunia menghentikan aktivitasnya secara serentak, atmosfir bumi segera memberikan reaksi yang luar biasa.  Tingkat keparahan polusi kota-kota besar di dunia berkurang dengan drastis, jumlah CO2 di atmosfir juga mengalami penurunan yang nyata. New York, Bejing, Mumbai, Rio de Junairo dan banyak kota-kota besar lainnya di dunia yang telah berkurang polusinya secara luar baisa. Bukti itu semakin memberi keyakinan kepada masyarakat global dan generasi Z, bahwa pemanasan global dapat dihentikan.
 
Hadirnya Thurnberg dalam isu lingkungan telah menjadi pemantik generasi Z global mulai di seluruh dunia untuk bergabung. Baik di negara maju maupun di negara berkembang remaja yang jumlahnya ratusan juta dan bahkan mungkin milyaran telah bergabung menuntut masa depan kehidupan mereka yang lebih baik. Tuduhan yang dilakukan sederhana, tetapi sangat menusuk. Generasi tua global-terutama para pemimpin, ini telah gagal mengurus lingkungan, terutama yang berkaitan dengan fenomena pemasana global.
 
Dengan kecanggihan media sosial hari ini, peringatan dan panggilan Thurnberg telah berpengaruh dalam wacana lingkungan global hari ini. Dan ketika Covid-19 menulari kota-kota di dunia, peringatan itu mejadi catatan besar dalam mengantisipasi kehidupan perkotaan masa depan. Apalagi, kini semakin diketahui pengaturan tata ruang kota yang sudah ada, berikut dengan sistem angkutan, dan konsumsi energi telah menjadikan kota sebagai ladang biak virus yang cukup sempurna.
 
Sekalipun green economy  dan green cities telah cukup lama di dengungkan, akan tetapi ledakan Covid-19 dan daya kejut dari gerakan Thunberg bersama generasi Z diseluruh dunia telah semakin memperkuat daya ungkit politiknya untuk segera direalisasikan. Dan diantara semua wilayah georafis dan adminstratif, mungkin kotalah yang paling cepat merealisasikan panggilan Thunberg untuk masa depan yang lebih baik.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Pemkab Bener Meriah _Ramadhan

Komentar

Loading...