Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Masa Depan Kota (II)

Pandemi Terra Incognita: Masa Depan Kota (II)
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Sejarah peradaban pada dasarnya adalah sejarah kota. Logikanya sangat sederhana dan mudah dimengerti. Ketika pertanian telah menjamin ketersediaan bahan makanan, ketika pekerjaan telah terbagi antar jenis kelamin, dan ketika ada produksi yang berlebih, maka disitu mulai ada pengaturan dan kebiasaan. Secara perlahan kelembagaan mulai tumbuh,  dan pemerintahan, apapun namanya, mulai berjalan. Evolusi kota mulai berjalan, pusat pemerintahan,  pusat agama, pusat pengumpulan surplus dan perdagangan, pusat infromasi dan pengetahuan, dan akhirnya pusat kekuasaan.
 
Kota sebagai pusat innovasi-kreativitas dan juga sebagai pusat mesin pencetak uang, adalah dua fenomena yang menonjol yang menyertai evolusi perkotaan global. Itu yang terjadi di Athena dan Roma klasik, itu yang terjadi di  Florence Italia pada abad ke 13. Itu juga yang terjadi di New York, Melaka, Goa, dan Sunda Kelapa yang berobah namanya menjadi Batavia dan Jakarta. Aceh semasa Iskandar Muda juga punya Bandar Aceh Darussalam, yang hari ini disebut Banda Aceh, tempat semua kreativitas muncul dan uang datang, berkembang biak dari perdagangan.
 
Sulit membayangkan perkembangan filsafat, ilmu pengetahuan, tehnologi tanpa perkotaan, sama sulitnya dengan membayangkan adanya berbagai temuan tehnologi dan berbagai kemudahan hidup lainnya yang dinikmati oleh manusia sepenjang zaman. Bustanis  Salatin, karya Nuruddin Arraniry, ulama Gujarat India, dan  Hikayat Tajussalatin, karya ulama Johor Bukhari Aljuhari mungkin tidak akan pernah ada tanpa ada kota perdagangan Bandar Aceh Darussalam pada akhir abad ke 16 dan awal abad ke 17. Salah satu mesin uang kerajaan Aceh pada masa itu adalah pajak perdagangan yang dikutip dengan rajin oleh syahbandar, dan dicatat dengan baik oleh “keureukon” melalui lembaga Balai Furdah. Masalah uang itu tunduk kepada pemegang kas kerajaan  Orang kaya Sri Mahareja Lela, di  Ibu kota Bandar Aceh Darussalam.
 
Apa yang terjadi dengan Bandar Aceh Darussalam, sesungguhnya telah terjadi sebelumnya, semenjak uang dan bahasa tulisan telah mulai. Ketika Nicolo Machieveli menulis  The Prince pada abad ke 15, ia tinggal di kota  dan sekaligus Republik, Florence, di Italia,sama dengan ketika Aristoteles menulis Nicomachean Ethics, pada tahun 323 sebelum  Masehi. Salah satu kehebatan Florence pada masa Machieveli adalah kehadiran jasa keuangan perbankan yang lebih terorganisir, yang dipelopori oleh keluarga Medici, dan kota itu sendiri  bersama dengan Venesia dan Genoa adalah kota-kota termaju abad pertengahan Eropah di pesisir Laut Mideterania.
 
Pusat perdagangan, dan jasa keuangan Eropah Selatan itu kemudian berpidah ke kota-kota Eropah Utara, karena pengaruh besar demografi Eropah akibat wabah Black Death dan response kapitalis moderen. London, Amsterdam, Bordeux, Hamburg, dan cukup banyak kota-kota lain di sepanjang pesisir lautan Atlantik mengambil alih peran kota-kota laut Tengah. Sejarah kemudian juga menerangkan kreativitas kapitalis industri,  yang terjadi beriringan dan karya-karya pemikir besar yang merobah dunia seperti, Karl Marx, Adam Smith, Max Weber. Tidak hanya Ilmu sosial, ahli ilmu fisika, biologi, dan kimia juga  James Watt, Charles Darwin, Isac Newton, yang kesemua mereka berkarya di perkotaan dengan suasana hiruk pikuk mesin pencetak uang yang bekerja siang malam untuk pemodal, pekerja, dan pedagang.
 
Di zaman modern kontemporer kota-kota masih tetap berperan sebagai pusat kreativitas dan mesin uang yang semakin hebat. Bayangkan saja Dubai yang pada tahun 60an tidak lebih dari kota kecil pelabuhan di kawasan teluk, mendadak menjadi hebat dengan status teratas dalam jumlah pendaratan pesawat global dalam tahun-terakhir ini. Pasalnya hanya satu, Dubai telah berkembang menjadi sebuah kota di Timur Tengah yang menjadi salah satu mesin pencetak uang global yang berhubungan dengan jasa keuangan dan logistik, industri, sekaligus parawisata. Dubai yang juga sangat toleran, telah mampu menunjukkan dirinya sebagai kota yang melayani apa saja yang mendatangkan uang, sejauh tidak melanggar aturan keemiran dan aturan-aturan internasional.
 
Kini semua kota-kota di dunia telah menjadi akang malapetaka kematian dan penderitaan akibat pandemi. Akankah kota-kota itu  kalah atau mengalah  dengan pandemi. Akankah pusat-pusat kreativitas dan mesin pencetak uang global, dan bahkan mesin besar peradaban manusia ditaklukkan oleh pandemi? Memang benar dalam sejarahnya, ketika pandemi menyerang perkotaan, banyak warganya yang lari keluar, meniggalkan kota untuk berberapa saat, untuk kemudian kembali dengan sejumlah penyuaian atau tidak melakukan penyesuaian.
 
Seperti ditulis oleh Thucydes  sebagian warga Athena keluar kota termasuk dia sendiri ketika wabah terjadi pada 500 tahun sebelum Masehi, sama seperti wabah Antonine menyerang Roma pada tahun pertengahan abad ke 2 Masehi seperti uangkapan Galen (Kohn 2001) atau Konsantinopel pada abad ke 5 Masehi yang terus berlanjut sampai dengan abad ke 7 Masehi (Rosen 2011) Kota yang diserang pandemi  oleh sebagian penduduk ditinggalkan, bukan selamanya, untuk kemudian mereka kembali ketika pandemi sudah reda.
 
Tulisan  opini wartawan dan pemikir global sekaligus anchor GPS CNN, Fareed Zakaria di harian The Washington Post beberapa  hari yang lalu meyakinkan pembaca bahwa  manusia sebagai makkluk yang punya akal dan keinginan selalu mempunyai pikiran dan tenaga untuk mengatasi segala gangguan dan ancaman. Gempa, perang, dan pandemi. Setelah mengalahkan penduduk kota sebentar,  ketika pandemi wabah berhenti, manusia selalu membuat penyesuaian, bahkan kadang membangun peradaban yang lebih hebat dari semula.
 
Ia mengambil contoh kota Florence, Italia yang diserang oleh pandemi blackdeath pada abad pertengahan justeru menjadi salah satu pusat abad pencerahan pada masa itu dan menjadi lokomotif awal yang menggerakkan perobahan di seluruh Eropah. Mengambil contoh Ibu kota AS pertama, Philadelphia yang diserang Demam kuning pada tahun 1793 yang mematikan puluhan ribu warganya tidak membuat warga kota itu menyerah.
 
Presiden AS Thomas Jefferson yang pada saat itu menjabat sebagai menteri luar negeri AS yang tidak suka dengan kota yang padat- dia sendiri tinggal di pinggiran kota, menduga kota tak akan tumbuh lagi setelah pandemi itu berhenti. Pikiran dan dugaan Jefferson tidak hanya salah, karena setelah itu warga Philadelphia kembali, dan kota tumbuh menjadi salah satu kota terbesar AS  yang ke 6.
 
Kini, sekalipun pandemi belum selesai, tanda-tanda awal manusia tidak menyerah dengan pandemi sudah mulai tampak. Evolusi Teori Miasma (Tulchinsky 2018), yang pada abad ke 19 berspekulasi tentang lingkungan sebagai penyebab berbagai penyakit menular, kini telah menemukan peta ilmiah yang benar tentang proses penularan, penyebaran, dan ethnic pengendalian pandemi. Sekarang, dengan kemajuan tehnologi, akurasi penyakit dan pola penularannya semakin dikuasai, dan bahkan kini dengan kemajuan industri digital, telah cukup banyak prospek yang tersedia kepada manusia untuk tetap tinggal di kota dengan sejumlah penyesuaian yang diperlukan.
 
Konsep kota sebagai pusat kegiatan ekonomi, pemerintahan, tempat tinggal, seni dan budaya, bahkan agama semakin dikaitkan dengan kepadatan manusia, jalur hijau dan transportasi dan ruang publik, dan komponen estetika. Paris dan London adalah kota yang sebelum pandemipun telah mempersiapkan kotanya untuk lebih sehat dan menyenangkan. Dan kini, setelah pandemi kota itu akan membangun tempat itu yang memberi perhatian besar kepada potensi pandemi ke depan dan ancaman pemanasan global yang diambang mata.
 
Menurut blue print Paris 2024, yang dikenal dengan judul Plan Velo (Forbes 2020) menyebutkan semua warga Paris akan mendapatkan kebutuhan apapun dalam tempo 15 menit dengan hanya berjalan kaki atau bersepeda dari tempat tinggalnya. Semua kebutuhan warga seperti sekolah, pelayanan pemerintah, toko retail, dan berbagai tempat hiburan semuanya harus dicapai sepeda atau berjalan kaki. Diperkirakan akan terjadi peningkatan pemakaian sepeda sebesar 50 persen dari pemakaian sekarang. Hari ini saja setiap harinya ada sekitar 840.000 rute sepeda yang ditempuh di Paris.
 
Di London, perencanaan jalan baru kota akan merobah sebagian jalan besar untuk dijadikan jalan kaki atau rute sepeda. Ketika pandemi selesai dan keadaan sudah mulai membaik akan bertambah 10 kali jumlah pejalan kaki dan pesepeda dari jumlah yang ada pada hari ini. Krisis transportasi besar di London selama ini, akan terjawab dan bahkan akan teratasi.
 
Untuk saat ini saja sudah terbayangkan bagaimana dua kota besar itu mengurangi  dengan drastis, untuk tidak mengatakan hampir meniadakan transportasi publik yang ramai dan gaduh. Ruang kota, mobilitas warga, dan kesehatan  hanyalah baru sebagian kecil saja dari reformasi kota dan perkotaan masa depan pasca Covid-19.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...