Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Covid-19 dan Transformasi Pendidikan Tinggi (II)  

Pandemi Terra Incognita: Covid-19 dan Transformasi Pendidikan Tinggi (II)  
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Ledakan Covid-19 yang telah memberi berbagai dampak global kini semakin menunjukkan ketidakpastian skenario akhir. Dalam sektor pendidikan tinggi, walaupun telah tampak peta awal tentang kecendrungan perkuliahan dan interaksi akdemik secara virtual, namun masih cukup banyak turunannya yang akan terjadi. Pengamatan biasa yang hanya menunjukkan akselerasi pengajaran dan bimbingan online, hanya dapat dikategorikan tidak lebih sebagai babak pembuka revolusi tehnologi digital 4.0.
 
Terlalu banyak, terlalu luas, dan terlalu dalam dampak yang telah dan akan ditimbulkan oleh revolusi digital dan pandemi dimasa depan. Oleh karena itu jika kita ingin membuat kesimpulan final tentang apa yang akan terjadi terhadap dunia pendidikan, apalagi pendidikan tinggi, tidak hanya akan salah, akan tetapi juga dapat berpengaruh terhadap jawaban dan langkah-langkah yang salah.
 
Ada baiknya dalam melihat ketidakpastian dan kecendrungan perkembangan pendidikan tinggi masa depan dalam kaitannya dengan pandemi dan revolusi digital kita bercermin kepada respons Zhou EnLai-Perdana Menteri Cina Ketika Mao Zedong berkuasa pada tahun 70an. Zhou merespons pertanyaan Henry Kissinger tentang dampak revolusi mahasiswa yang terjadi di Perancis terhadap Cina. Ia menyatakan terlalu dini untuk memberikan penilaian dan komentar.
 
Dampak pandemi dan tehnologi digital 4.0 terhadap pendidikan tinggi kurang lebih sama dengan jawaban Zhou Enlai  kepada Kissinger. Belum ada individu dan lembaga yang mampu melihat perjalanan akhir pandemi dan respon pendidikan tinggi, bahkan bentuk pendidikan tinggi masa depan. Kuncinya hanya satu, pandemi dan revolusi digital akan memberikan dampak jangka pendek, jangka menengah, dan jangka panjang yang sangat dalam. Akan terjadi gempa tektonik pendidikan dan bahkan peradaban. Persis walaupun tidak akan sama seperti Ketika mesin cetak Guttenberg ditemukan pada awal abad ke 15.
 
Cerita tentang bagaimana mesin cetak Guttenberg menciptakan revolusi  pendidikan dan bahkan  peradaban diceritakan dengan baik oleh Pelias dan Shaffer (2007) sebagai perbandingan antara budaya oral dan budaya cetak. Dalam budaya oral, manusia belajar secara magang, mendengar langsung, dan mengerjakan. Ketika terjadi revolusi percetakan Guttenberg manusia belajar melalui bacaan dari buku-buku cetak dengan berbagai referensi dan refleksi yang unik. Manusia membangun berbagai cara baru untuk belajar dan menuliskan berbagai temuan dan  pandangan yang dapat tersebar luas secara cepat. Tranformasi dari budaya oral kepada budaya cetak menjadi  tonggak sejarah moderen  penting dalam pendidikan dan peradaban manusia.
 
Dalam konteks pendidikan tinggi adalah menarik untuk melihat dampak besar mesin cetak Gutenberg terhadap sejumlah aspek penting keberadaan universitas. Pendidikan tinggi di Eropah mulai berobah semenjak bagian akhir abad  pertengahan secara perlahan, namun kemudian menemukan momentumnya dua sampai tiga abad kemudian. Moodie (2014) misalnya mencatat paling kurang ada lima komponen besar perobahan  akibat revolusi mesin cetak Guttenberg terhadap pendidikan tinggi pada masa itu.
 
Perobahan pertama adalah penggunaan bahasa ilmiah akademik yang dipakai dalam proses pendidikan dan pengajaran sehari-hari. Untuk diketahui, bahasa latin adalah bahasa yang mendominasi ilmu pengetahuan tidak hanya sebelum mesin cetak ditemukan, akan tetapi juga setelah itu. Butuh waktu lebih dari dua  sampai tiga abad hegomoni bahasa latin untuk digantikan oleh bahasa vernakular di berbagai negara Eropah.  Yang dimaksud dengan bahasa vernakular adalah bahasa penguantar sehari-hari yang lebih didasari kepada tradisi oral dan bukan bahasa tulisan.
 
Kedatangan mesin cetak Guttenberg telah membuat berbagai bahasa vernakular terangkat martabatnya. Penggunaan bahasa lokal, baik dalam bentuk buku, maupun berbagaii nformasi lainnya, telah membuat semua orang, baik awam maupun terpelajar mempunyai akses untuk tahu dan mengerti apa yang mereka ingin tahu dan tersedia dalam bentuk cetak.  Secara perlahan buku cetak dalam bahasa latin awalnya banyak, kemudian berkurang secara perlahan, dan akhirnya digantikan oleh berbagai bahasa vernakular.
 
Sekalipun pada awal mesin cetak diperkenalkan, pada 50 tahun pertama, 75 persen buku akademik  yang dicetak ditulis dalam bahasa latin. Jumlah itu kemudian berkurang. Butuh waktu satu abad lebih untuk bahasa vernakular digunakan dalam bahasa ilmiah, yakni pada akhir abad ke 16 Ketika 50 persen buku cetak akademik menggunakan berbagai bahasa negara-negara di Eropah, utamanya Inggris, Jerman, Belanda, dan Perancis.
 
Penggunaan bahasa vernakular semakin bertambah ketika kampus-kampus di Inggris mulai menggunakan bahasa ganda dalam pendidikan dan pengajaran, yakni penggunaan bahasa Latin dan juga bahasa Inggris. Perobahan penggunaan bahasa negara masing-masing di Eropah semenjak itu semakin bertambah, terutama dengan mengikuti pola Inggris dengan pola dwi bahasa sekaligus.
 
Penggunaan bahasa Inggris, terutama di dua kampus tua terhebat, Cambridge dan Oxford terjadi semenjak tahun 1750an, sekitar tiga abad setelah mesin cetak ditemukan. Mungkin saja penggunaan bahasa Inggris sebagai bahasa pengantar telah dimungkinkan dengan ketersediaan berbagai buku cetak dalam bahasa Inggris, maupun sejumlah faktor signifikan lainnya. Salah satu faktor itu adalah tumbuh suburnya kurikulum matemetika sebagai dampak dari munculnya filsafat ilmu alam yang dikembangkan oleh Newton. Lebih dari itu kemajuan revolusi industri akibat dari kemajuan ilmu pengetahuan, terutama di Inggris telah semakin memperkuat penggunaan bahasa vernakular-dalam hal ini bahasa Inggris di negeri kepulauan itu.  Penggunaan bahasa vernakular juga terjadi dengan derasnya di kampus-kampus besar negara-negara industri awal di Eropah, terutama Jerman, Prancis, dan Belanda.
Apa bedanya mesin cetak Guttenberg dan  revolusi digital 4.0 dan bahkan 5.0 terhadap penggunaan berbagai bahasa dalam komunikasi ilmiah hari ini? Dengan berlandaskan kepada hukum Moore dan prinsip-prinsip algoritma, semua bahasa kini dapat saling diterjemahkan oleh siapapun, kapanpun, dan dimanapun. Apapun informasi, baik informasi biasa, maupun ilmiah, kini dengan mudah dapat diterjemahkan. Terjemahan itu kini tidak hanya dari bahasa Inggis atau bahasa lainnya ke bahasa Indonesia, akan tetapi juga sebaliknya.
 
Dengan penyempurnaan terjemahan yang semakin baik, berbagai buku text klasik yang sangat susah dicerna akan lebih gampang dibaca, dan bahkan mungkin akan diterjemahkan menurut peringkat intelektual pembacanya. Misalkan saja berbagai text klasik Adam Smith, Karl Marx, Hegel, Darwin, Newton, dapat dibaca oleh setiap orang dengan pilihan bahasa masing-masing dengan tingkatan pilihan bacaan umum awam, ilmiah pemula, ilmiah intermediate, maupun ilmiah advance.
 
Di aras lain bayangkan juga bacaan klasik fiqih Imam Syafii al-Risalah al-Qodimah, atau al-Risalah al-Jadidah dalam hitungan detik lansung diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia. Dan bukan tidak mungkin semua kitab kuning yang digunakan di pengajian pesantren akan kembali dapat dialihbahasakan kepada bahasa vernakular, seperti bahasa Aceh, ataupund bahasa pengajian klasik Jawoe.
 
Itu artinya, Ketika bahasa tidak lagi menjadi masalah, bahkan rasa bahasa yang dapat dikodifikasi dan ditransformasikan oleh mesin algortma digital, dunia pengajaran dan pendidikan di universitas akan mejadi lain. Bahasa ilmiah referensi pusat-pusat peradaban baru global akan mudah diakses, dan akan memberikan implikasi besar dalam pembentukan kepribadian dan wawasan anak didik. Bukan tidak mungkin, jika revolusi Guttenberg telah membuat berbagai bahasa vernakular di Eropah menjadi bahasa pengantar ilmiah akademik, revolusi digital yang diakselerasi oleh pandemi Covid-19 akan memungkin banyak lagi bahasa vernakular hadir menjadi bahasa ilmiah. Bayangkan saja  bahasa Aceh, dan berbagai bahasa lokal lainnya di Indonesia akan mejadi bahasa ilmiah satu hari kelak. Memang benar Zhou Enlai Ketika merespons Kissinger dengan istilah “terlalu awal utuk memberikan penialain dan kommentár”. Bedanya, Zhou dan Kissinger  menyinggung tentang dampak geo politik, kali ini topiknya adalah revolusi digital dan pendidikan tinggi dengan akselerator pandemi. Topiknya berbeda, substansinya sama saja. Too early to tell.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...