Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Covid-19 dan Transformasi Pendidikan Tinggi (I)

Pandemi Terra Incognita: Covid-19 dan Transformasi Pendidikan Tinggi (I)
Foto : Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Apa hubungan antara wabah global dengan pedidikana tinggi? Jawabannya sangat sederhaha. Wabah telah membuat sekolah beserta dengan murid, siswa, dan mahasiswa, mulai dari TK sampai ke jenjang tertinggi Universitas tidak dapat belajar seperti biasa. Covid-19 telah menjungkirbalikkan proses pendidikan global hanya dalam tempo mingguan, dan sepertinya akan terus berlanjut sampai dengan waktu yang   belum bisa ditentukan.
 
Dampak pandemi terhadap pendidikan telah direspon dengan cepat, walaupun belum sempurna dengan pengajaran model daring, yang memang sebelum pandemi pun telah digunakan. Tidak peduli negara maju atau negara berkembang, tidak kurang dari 1.5 milyar anak didik global tidak dapat lagi belajar secara fisik di ruangan kelas tatap muka.
 
Secara bisnis, mengutip dari HolonIQ (2020),  World Economic Forum(2020) menulis tidak kurang dari 2.2 triliun dolar nilai pendidikan tinggi global sedang dan akan terus tergoncang dengan wabah ini. Berbeda dengan mazhab pendidikan tradisional yang melihat pengajaran daring tidak lebih sebagai instrument, menggunakan istilah kesehatan, Pertolongan Pertama Pada Kecekelakaan (P3K), sepertinya daring tidak akan pergi jauh. Ia akan terus menetap, dan terus menetap dengan berbagai penyesuaian, innovasi, terutama dengan berbagai kecanggihan algiritma digital.
 
Online learning yang sebelum pandemi dilihat sebelah mata, dan selama pandemi dianggap sebagai penyelamat sementara akan menjadi sebuah wajah baru pendidikan. Zoom, Webex, Skype, Google Met, Mikogo, Whereby, dan masih banyak lagi perangkat komunikasi  pendidikan lain akan menjadi kehidupan keseharian, terutama di Perguruan Tinggi. Walaupun tidak 100 persen perubahan, untuk sementara istilah selamat tinggal ruang kelas fisik, dan selamat datang ruang kelas virtual akan menjadi semboyan baru.
 
Online learning yang sudah berjalan lebih dari satu dekade, tiba-tiba kini menjadi juru selamat. Pertanyaannya kemudian, apakah online learning saja yang dipercepat oleh pandemi, dan hanya akan menjadi wajah inti kampus masa depan? Kecendrungan dan implikasi dari pandemi terhadap pendidikan tentu saja tidak hanya akan berputar disekitar komunikasi daring akademik. Tanpa pandemipun sebenarnya pendidikan tinggi akan masuk bengkel besar overhaul, terutama untuk menghadapi perkembangan tehnologi digital dan tantangan era industri 4.0. Pandemi hanya menjadi semacam katalis yang mempercepat transformasi itu sembari menitipkan sebagian penyesuaian  lain tentang pandemi dan masa depan.
 
Proses pengajaran dengan  metoda daring akan semakin menjadikan keterpaduan pendidikan dengan tehnologi, Itu artinya proses pendidikan akan semakin bersenyawa dengan tehnologi dalam arti yang sesungguhnya. Berbagai kreativitas IT akan hadir untuk memudahkan proses pembelajaran berlangsung, termasuk didalamnya mencari pola untuk semakin mengefektifkan tidak hanya bidang ilmu semata, akan tetapi juga pengalaman sosial, seperti layaknya ditemui dalam kuliah konvesional sebelumnya.
 
Salah satu kelemahan sistem perkuliahan daring adalah hilangnya “pengalaman kampus”, termasuk didalamnya  interaksi fisik dosen dan mahasiswa. Interaksi sesama mahasiswa dalam berbagai kegiatan intra dan ekstra kurikuler juga tidak kurang kalah pentingnya sebagai bekal dalam kehidupan karir mahasiswa pasca tamat dari perguruan tinggi.
 
Menghadapi tantangan itu, pilihan yang tersedia hanya dua. Pertama, dengan berbagai kecanggihan tehnik pencegahan pandemi, akan diracik keseimbangan kuliah tatap muka dengan sistem daring yang proporsional, sehingga menu pembelajaran tidak hanya semata ditujukan pada peningkatan ilmu pengetahuan semata, akan tetapi juga kepada pengalaman sosial kehidupan kampus yang lebih interaktif. Pilihan kedua adalah menciptakan jumlah kelas kecil yang banyak yang memungkinkan pembelajaran daring dengan interaksi kelas yang lebih dalam, tidak hanya antara pengajar dengan mahasiswa, akan tetapi juga sesama mahasiswa itu sendiri. Kata kunci untuk itu adalah tidak hanya soal kurikulum semata, akan tetapi pengalaman social bounding, keterkaitan dan kedalaman  keintiman sosial dalam kehidupan akademik sehari-hari.
 
Kecendrungan lain pendidikan tinggi pasca Covod-19 adalah permintaan dunia kerja yang semakin mensyaratkan ketrampilan daripada penguasaan ilmu pengetahuan. Knowledge   based teaching, yang telah menjadi trade mark besar mayoritas industri pendidikan tinggi yang telah berkutat semenjak revolusi industri  pada abad ke 18 kini menjadi kurang relevan. Revolusi digital kini telah memungkinkan penguasaan dan pengkayaaan ilmu pengetahuan dapat dilakukan dengan metode digital yang bahkan mampu mengurangi atau mengambil alih pekerjaan Guru Besar paling hebat sekalipun. Perangkat digital dengan berbagai varian kecerdasan buatan dapat mempersingkat penguasaan materi perkualiahan bahkan dengan pengkayaan yang lebih sempurna.
 
Dalam dunia kerja yang semakin berbasis digital, maka output perguruan tinggi yang mempunyai ceruk pasar yang mempunyai permintaan tinggi adalah mereka yang mempunyai keteranpilan. Ini artinya akan terjadi pergeseran besar arah pendidikan tinggi ke skill based teaching. Model pendidikan tinggi yang selama ini dianut dan dipraktekkan melalui diploma ketrampioan ataupun politehnik akan menjadi landasan baru untuk model umum pendidikan tinggi masa depan. Para pengajar yang selama ini bergumul dengan knowledge based teaching, sebagian mungkin akan tetap, sedangkan sebagian lainnya kemungkinan besar terpaksa bermigrasi kepada pendidkan ketrampilan.
 
Ketrampilan inti yang paling dasar yang diperlukan oleh mahasiswa adalah ketrampilan digital yang akan memberikan penguasaan pengolahan beragam informasi, berikut dengan kolaborasi virtual dengan berbagai pihak dalam dunia kerja. Keteranpilan  digital juga diperlukan sebagai jalan untuk peningkatan kapasitas individu secara personal melalui berbagai sumber dan fasilitas online yang tidak pernah berhenti.
 
Selanjutnya, ketrampilan apapun yang diajarkan di perguruan tinggi dipastikan sebagai keterampilan yang didasari kepada permintaan pasar tenaga kerja yang berbasis tehnologi digital untuk sektor apapun. Hampir tidak ada sektor ekonomi di masa depan, seremeh apapun yang tidak didasari kepada tehnologi digital. Ketrampilan ini disebut sebagai ketrampilan teknis yang berhubungan dengan spesifik dunia kerja yang akan ditekuni.
 
Kecendrungan masa lalu tentang persyaratan dunia kerja yang melihat rekor akademik semacam lembaran nilai mata kuliah yang dikaitkan indeks prestasi mahasiswa akan dipaksa bongkar oleh kecendrungan baru rekruitmen pasar tenga kerja. Prestasi itu tentu saja diakui, namun juga perlu diikuti oleh sejumlah ketrampilan tambahan.
 
Ketrampilan kognitif yang selama ini sebagiannya telah disyaratkan oleh dunia kerja, kedepan akan lebih dipertajam lagi dengan memberikan bobot lebih kepada ketampilan berpikir kritis. Ketrampilan non kognotif yang sering disebut dengan ketrampilan perilaku yang menyangkut dengan kemampuan komunikasi, pemecahan masalah, fleksibilitas, kedisiplinan, dan berbagai ketrampilan lunak kehidupan lainnya.
 
Pendidikan tinggi yang berada pada saat ini tidak hanya mempuyai kecendrungan kepada aspek pengetahuan semata, sangat sedikit mengajarkan ketrampilan, dan bahkan sama sekali tidak mengajarkan ketrampilan perilaku yang akan menjadi salah satu  pilar penting dalam pasar tenaga kerja pasca pandemi. Capaian pendidikan keterampilan kognitif selama ini, kedepan akan semakin mewajibkan diikuti oleh ketrampilan tehnis dunia kerja dalam kehidupan keseharian dan keterampilan non kognitif yang semakin  menjadi syarat penting dalam kehidupan dan pekerjaan era 4,O. Pandemi Covid-19 tak lebih hanya menjadi akselerator dan katalisator saja.

Komentar

Loading...