Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Asia sebagai Episentrum Baru Dunia? (III)

Pandemi Terra Incognita: Asia sebagai Episentrum Baru Dunia? (III)
Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Paul Salopek, seorang wartawan dan penulis AS terkenal, pemenang dua kali Putlizer Prize, dan juga anggota teras majalah National Geography pada tahun 2013 membuat sebuah proyek keliling dunia berjalan kaki sejauh 33.796 kilometer. Proyek yang diberi nama Walk of Eden itu butuh waktu 7 tahun perjalanan yang dilakoni sendiri oleh Salopek dan akan berakhir pada tahun ini.
 
Ia  mulai perjalannnya dari Ethopia, Afrika, menyusuri Timur Tengah, melewati laut Kaspia, melewati Uzbekistan, Tajikistan, Pakistan, Afghanistan, India, kemudian berhenti di Myanmar. Sepanjang jalan ia menulis tentang orang dan masyarakat yang ditemui, tempat yang dilewati dan disinggahi, yang dilengkapi dengan video dan foto. Ia kemudian melanjutkan perjalanannya ke Amerika Selatan.
 
Perjalannya Solopek adalah perjalanan napak tilas peradaban yang dilakukan ketika dunia sedang berobah menjadi sebuah desa kecil, dimana berbagai entitas kecil telah tersambung kedalam sebuah tali temali global yang terangkai hampir sempurna. Dalam konteks Asia, Solopek menulis berbagai pengalamannya menempatkan berbagai gugus budaya dan masyarakat  dari berbagai segi dunia bagai sebuah mozaik raksasa, atau berbagai dunia mikro yang telah pernah tersambungkan kini menggumpal menjadi sebuah makro yang sifgnifikan.
 
Dengan napak tilas Solopek, terutama ketika menyusuri rute    perdagangan klasik Jalur Sutera yang terjadi satu atau dua  milenium yang lalu, tergambarkan Asia tidak seperti yang diajarkan dalam geografi. Ia menulis Asia sebagai bagian dari sebuah benua yang besar yang dinamakan dengan Eurasia,  atau Asia dan Eropa .  Sebuah benua besar yang dimulai dari Laut Mediterania  mengambil sebagian Rusia hari ini, untuk kemudian berhenti di Samudra Pasifik. Tidak hanya itu, Asia juga tersambungkan dengan baik dengan benua Afrika, sehingga tidak salah kalau kemudian ada orang yang menyebut kebangkitan Asia dengan EuraAfroAsia, sebuah kebangkitan yang mengabungkan 3 benua sekaligus, Asia, sebagian  Eropah, dan sebagian atau seluruh Afrika.
 
Kalau dahulunya globalisasi klasik berurusan dengan Jalur Sutera Cina, kemudian berevolusi menjadi globalisasi  mempunyai analogi dengan Amerikanisasi dan Eropanisasi. Namun dalam beberapa tahun terakhir telah terjadi globalisasi yang hampir identik dengan Asianisasi. Pergilah ke AS atau ke Eropah dan masuklah ke berbagai super market atau berbagai pusat perbelanjaan, dan dapatkan 50 persen barang dagangannya berasal dari Asia, terutama dari Cina, Jepang, Korea Selatan, India, dan kadang-kadang Indonesia.
 
Dominasi produk perdagangan juga tidak terhenti disitu. Sebutkanlah secara random CEO perusahaan-perusahaan besar global, pasti ada nama orang India disitu. 12 perusahaan besar global mula dari IBM, Microsoft, Google, Mastercard, dan lain-lain semuanya dikomandoi oleh kerturunan India. Ada sampel lain yakni 58 CEO dari bebagai perusahaan yang berbasis di AS, Canada, dan  Singapore yang mempekerjakan 3.2 juta karyawan di seluruh dunia, dan mempunyai total pendapatan setahun lebih dari 1 Triliun dollar. Ini adalah contoh barang kwalitas manusia Asia- India yang terus berkembang dan merajai di berbagai sektor bisnis dan keuangan.
 
Kedigdayaan Asia juga menjadi sempurna, ketika AS mengalami persoalan keuangan, maka negara yang mampu membantunya bukanlah satu, dua, atau banyak negara Eropah. Yang bersedia membantu AS adalah Cina yang bersedia membeli surat utang AS  yang hari ini bernilai 1.08 Triliun dolar. Ini adalah sebuah utang keuangan biasa, dan pada saat yang sama ini juga adalah sebuah prestise Cina yang empat dekade yang lalu dianggap sebagai  negara miskin dan pariah di muka bumi.
 
Kejadian yang terjadi akhir- akhir ini memberi kesan  seolah kehebatan Asia hanya bertumpu semata pada kekuatan Cina dan India saja, ditambah dengan beberapa negara Asia Timur lainnya seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan. Yang terjadi sesungguhnya, tidak demikian, karena hampir semua negara Asia telah dan sedang bangkit secara bersama-sama untuk menjadikan abad ke 21 sebagai abad Asia. Hari ini secara serentak, banyak negara-negara Asia yang pada dekade enampuluhan di kenal sebagai negara miskin, kini telah banyak berubah menjadi negara kelas menegah atas, seperti yang dialami oleh indoensia hari ini.
 
Ketika ada sebutan analogi globalisasi adalah sama dengan asianisasi, yang sesungguhnya terjadi tidaklah totalitas seperti yang dibayangkan. Yang sedang terjadi secara sungguh dan sangat serius adalah asianisasi  sesama negara - negara asia secara ekonomi, keuangan, perdagangan, dan investasi. Secara bersamaan beberapa kawasan yang berdekatan seperti Afrika,  beberapa negara Eropah, Australia, dan Selandia juga  telah tertarik secara  sentripetal alami kedalam episentrum baru Asia.
 
Menggunakan ukuran napak tilas Solopek, maka Asia yang sedang tumbuh hari ini adalah sebuah kawasan yang terbentang dari Turki dan semenanjung Arab di ujung barat ke Jepang dan New Zeland di ujung timur, dan dari Rusia di Utara ke Australia di Selatan. Secara keseluruhan kawasan ini, sebelum pandemi mempunyai 50 persen dari total GDP global, dan dua pertiga dari pertumbuhan ekonomi dunia (Khanna 2019). Menurut sebuah perhitungan, dari estimasi 30 triliun dolar pertumbuman konsumsi kelas menengah global antara tahun 2015-2030, hanya 1 triliun yang berasal dari AS dan Eropah. Sisa 29 triliun diperhitungkan akan berasal dan di dominasi oleh negara-negara Asia.
 
Khanna (2019), mencatat Asia secara gugus ekonomi, maka produksi, ekspor, dan impor dan konsumsi, semua aliran itu lebih besar nilainya antara sesama  negara Asia, dibandingkan yang terjadi dengan AS dan Eropah. Insikator lain, lihat saja kebesaran ekonomi Asia di jajaran G20. Negara-negara Asia mempunyai 8 negara di klub itu, Eropah 6 negara, benua Amerika 5 negara, dan Afrika 1 negara. Tidak berhenti disitu Asia juga terkenal dengan kekuatan keuangan terbesar dunia, dan bahkan dari 10 besar bank di dunia atas dasar nilai aset 6 diantaranya berada di Asia, 2 di AS, dan 2 di Eropah.
 
Menggunakan ukuran demografi, Asia juga mengalahkan semua benua lain di dunia. Hari ini Asia mempunyai 4,6 milyar atau  60 persen dari total 7.8 milyar penduduk bumi. Dengan melihat dan menggunakan asumsi demografi  tentang pertumbuhan penduduk dunia yang akan mencapai 10 miliar di masa depan untuk kemudian kurvanya akan berjalan datar, jumlah penduduk dunia mayoritas diperkirakan  tetap berada di Asia.
 
Yang paling menarik adalah ketika sejumlah negara Asia seperti Jepang, Cina, dan Korea Selatan, akan mengalami transisi demographic tahap 3 yang dicirikan oleh banyaknya penduduk berusia lanjut, maka sejumlah negara Asia lain telah siap dengan status bonus demografi, seperti India, Bangladesh, dan sebagian besar negara-negara ASEAN termasuk Indonesia. Ini artinya perpindahan atau relokasi industri atau manufacturing yang berurusan dengan persoalan tenaga kerja masih akan tetap berada di Asia, dan tidak akan berpindah ke tempat lain.
 
Kejadan 10 tahun terakhir agaknya menjadi contoh nyata, bagaimana Jepang dan Korea Selatan memperkuat dan mempersiapkan negara-negara ASEAN untuk semakin terlibat sebagai salah satu pusat rantai pasok global. Terakhir bahkan Cina ikut juga secara aktif mendorong ASEAN seperti yang dilakukan oleh Jepang dan Korea Selatan.
 
Mereka sadar bahwa kemajuan dan pertumbuman ekonomi mereka mempunyai konsekwensi kenaikan upah tenaga kerja. Oleh Jepang, Korea Selatan, dan Cina industri yang mengalami persoalan itu dengan gampang dipidahkan ke sejumlah negara ASEAN yang upah buruhnya relatif lebih rendah. Bahkan ketika presiden Trump mengancam Cina dengan perang dagang dan relokasi investasi industri AS di Cina, pilihan yang tersedia bagi perusahaan-perisahaan AS itu tetap  di Asia, terutama negara-negara ASEAN, semisal Vietnam, Indonesia, Filipina, atau Malaysia.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...