Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Asia sebagai Episentrum Baru Dunia? (II)

Pandemi Terra Incognita: Asia sebagai Episentrum Baru Dunia? (II)
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Kerja keras Cina kemudian membuatnya menjadi negara dengan kekuatan ekonomi kedua setelah AS, dan bahkan dalam beberapa tahun lagi akan mengambil alih posisi AS sebagai adidaya ekonomi dunia. Cina telah membuat sebuah sejarah baru pembângunan ekonomi internasional. Durasi waktu untuk mencapai kemajuan dan kebesaran sejumlah negara industri Eropah dan AS, yang relatif panjang dan rumit dan dicapai dalam ratusan tahun,  Cina mencapainya  sedikit lebih dari 40 tahun.
 
Akibat dari lompatan itu, ratusan juta rakyat Cina keluar dari perangkap kemiskinan. Hal yang sama juga terjadi di India, Indonesia, dan semua negara ASEAN lainnya. Secara sangat unik di hampir semua negara Asia di kawasan Indo Pasifik yang mengikuti peta jalan Jepang via empat macan Asia, kini telah tumbuh dan maju, dan bahkan kalau saja dapat keluar dengan baik dari pandemi Covid-19 ini, akan menggeser posisi sejumlah negara-negara industri Eropah dalam ranking ekonomi internasional.
 
Di sebalik kemajuan ekonomi semua negara itu, terutama dengan terintegrasinya negara-negara Asia maju kedalam sistem ekonomi global, hampir semua negara Asia mempunyai sister ekonomi yang tidak ada di Eropah dan AS. Kecuali Jepang, semua negara lain memperkenalkan spesies baru sistem kapitalis.
 
Jenis kapitalisme baru itu adalah  apa yang disebut dengan state capitalism, perusahaan negara yang bertarung dengan perusahaan swasta. Perusahaan negara  itu ada Singapore, Malaysia, Thailand, Vietnam, India, dan Indonesia. Dan Cina adalah rajanya sistem kapitalisme negara. Ini adalah keunikan tersendiri dan sepertinya menjadi salah satu hybrid dari kapitalisme Asia abad ke 20.
 
Keputusan negara-negara Asia untuk mengizinkan perusahaan negara sebenarnya sangat beralasan. Apapun alasan kelemahan yang dikemukakan, bukti menujukkan bahwa perusahaan negara menjadi kontributor penting GDP nasional, 30 persen di Cina, 38 persen di Vietnam, 20 persen di Thailand ( Kim &Ali 2017), Singapore antara 25-30 persen (Wiki 2018) dan Indonesia ,13 persen (The Jakarta Post 2019)
 
Keunikan lain yang dimilliki oleh negara-negara Asia adalah keunikan nilai-nilai Asia, terutama yang berhubungan kepatuhan warga kepada negara, baik dalam hal politik maupun hal-hal lainhya. Ada kesamaan relatif antara patuh dan hormat kepada otoritas di negara—negara Asia mulai dari yang sangat patuh, Cina, Singapore, dan Vietnam.
 
Sejumlah negara lain yang demokratis, seperti Taiwan dan Korea Selatan, dan Jepang ketika dihadapkan kepada tantangan keamanan nasional negaranya, tetap saja patuh dan hormat kepada otoritas, bahkan tanpa ada tantangan ketika negara menjadi lebih dominan.
 
Apa yang unik dengan tampilnya negara-negara Asia adalah kemampuan mengambil yang terbaik dari barat, yang kemudian diracik dengan rasa dan gaya Asia. Lihatlah, sejumlah negara  demokrasi di Asia, seperti Jepang, Korea Selatan, dan Taiwan, dan bahkan India yang didalam pelaksanaan pembangunan dikawal dengan pendekatan tehnokrasi yang ketat.
 
Sehebat apapun kebijakan politik yang diambil dan ditentukan, dalam pelaksanaannya kekuasan selalu mengandalkan kepada para ahli yang terlatih secara tehnis atas dasar keahlian dan pengetahuan khusus yang dimiliki. Para tehnokrat menempati berbagai posisi penting di berbagai lembaga ekonomi dan politik yang dominan.
 
Bangkitnya negara-negara Asia mempunyai keunikan tersendiri karena masing-masing mempunyai kelebihan yang kemudian dapat saling melengkapi. Artinya, dalam keadaan paling buruk sekalipun, ketika katakanlah AS dan Uni Eropah melakukan  blokade ekonomi kepada Cina, negara itu tetap saja dapat hidup dan berproduksi karena ada negara Asia lain yang bisa mengisi kekosongan itu.
 
Dalam pengelompokan Asia, Cina  menduduki tempat tertinggi dan dapat dianggap sebagai jangkar ekonomi Asia, karena telah berperan, dalam innovasi dan konektivitas kawasan. Kini dengan kebijakan one belt one road policy, Cina semakin memperkokoh lagi konektivitas itu melintasi Afrika dan Eropah.
 
Ketersambungan itu tidak saja hanya menguntungkan Cina, tetapi juga terlimpahkan kepada semua negara yang berada  dalam konektiviats tersebut. Martin Jacques (2009) dalam bukunya yang paling terkenal When China Rules the World  melihat  baik melalui one belt one road policy ataupun berbagai kemitraan perdagangan, penanaman modal, dan kerjasama pembangunan, Cina selalu menjadi lokomotif penghela banyak negara berkembang. Ini adalah sesuatu yang sebelumnya terabaikan dalam waktu lama, atau kurang terperhatikan dari rezim Breton Woods- Bank Dunia dan IMF yang dipelopori AS dan Uni Eropah.
 
Dalam kenyataannya apa yang membuat kebangkitan Cina berbeda dengan upaya Amerikanisasi terhadap berbagai negara berkembang lainnya di berbagai belahan bumi, Cina tidak pernah mau mengurus persoalan “domestik” negara mitranya. Sesuatu yang sangat berbeda dengan AS yang membantu, bekerjasama, namun selalu kritis dan ikut campur dalam persoalan negara mitra.  Di masa lalu, dalam banyak kasus, AS selalu berupaya menyuntik ideologi demokrasi liberal dan hak asasi manusia kepada negara mitra, sesuatu yang tidak akan pernah disentuh oleh Cina, bahkan dengan nilai-nilai komunisme sekalipun.
 
Kemajuan Cina tidak hanya berhenti pada penanaman modal asing dan perdagangan internasional. Dalam konteks inovasi dan kreativitas, dan penemuan, pada tahun 2017 saja, dari total paten dunia, 44 persen diantaranya adalah milik Cina. Selanjutnya pada tahun 2019, Cina menggunguli jumlah unicorn- perusahaan start up yang mempunyai modal lebih dari 1 miliar dolar dengan jumlah  206 , sedikit di atas AS, 203, dari 494 jumlah total unicorn global.
 
Strata media negara-negara Asia adalah apa yang disebut dengan advanced  Asia, yang terdiri dari Jepang, Korea Selatan, Singapore, dan Taiwan. Negara-negara ini tidak hanya memiliki tehnologi, tetapi juga mempunyai modal. Dari I triliun dolar perputaran penanaman modal 2013-2017 di kawasan Asia, negara advanced Asia ini mempunyai sekitar 54 persen. Penamanan modal di Vietnam saja misalnya, 33 persen berasal dari Korea Selatan. Sedangkan  Jepang mempunyai investasi sekitar 35 persen dari total modal asing di Filipina, dan 17 persen di Myanmar.
 
Emerging Asia adalah istilah yang diberikan umumnya kepada negara-negara ASEAN, kecuali Singapore. Negara -negara ini tidak haya mengandalkan buruh murah, tetapi juga menawarkan produktivitas, kekayaan sumber daya alam, dan konsumsi. Semua negara emerging Asia ini tersimpul secara cukup baik dan teratur dalam aliran orang, uang, barang dan jasa.
 
India adalah negara yang unik, karena besar, berpenduduk tinggi, kompleksitas sosial ekonomi yang rumit, namun tetap mempunyai pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Secara integrasi ekonomi, India dalam konteks aliran regional uang, barang dan jasa baru sekitar 31 persen dan  belum sepenuhnya terpadukan dengan tiga kelompok negara diatas.
 
Disamping India, Bangladesh juga menunjukkan kemajuan yang cukup berarti secara pertumbuhan ekonomi. Kenyataan belum kuatnya integrasi India ke negara Asia lainnya ini bukanlah sesuatu yang baru, karena India sudah cukup lama terhubungkan dengan Afrika, Timur Tengah, dan Eropah. Namun demikian, sejalan dengan perkembangan kemajuan, tidak dapat dihindari integrasi ekonomi India dengan Cina, kelompok advanced ekconomies, emerging economies dan banyak negara Asia lain akan semakin meningkat dan kuat.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...