Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Asia sebagai Epicentrum Baru Dunia? (V)

Pandemi Terra Incognita: Asia sebagai Epicentrum Baru Dunia? (V)
Ahmad Humam Hamid

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Sebagai kawasan yang pertama menderita pandemi, dan juga pertama sembuh,  -negara Asia Tmur dan sejumlah negara ASEAN kini mempuyai dua kekuatan ekstra untuk lebih cepat berperan dalam pemulihan ekonomi global. Kekuatan pertama adalah pertumbuan pra pandemi yang relatif lebih tinggi dari kawasan lain, dan yang kedua adalah kecepatannya menjinakkan pandemi, dengan pengendalian yang cepat dan terstruktur.
 
Optimisme peluang besar tampilnya negara-negara Asia dalam masa pasca pandemia nantinya kini semakin terbuka dengan melihat hantaman gelombang kedua Covid-19 yang telah mulai terjadi baik di AS maupun di kawasan Eropah. Perkembangan terakhir semakin menunjukkan bukan hanya kehebatan Asia yang menonjol, akan tetapi kelemahan pengendalian Covid-19 Eropah dan AS lah yang membuat kedua kekuatan ekonomi itu semakin terpuruk.
 
Kayakinan akan cepatnya pemulihan ekonomi Asia sesungguhnya mempunyai sejarah panjang terutama dalam tiga puluh tahun terakhir. Secara keseluruhan, negara-negara Asia telah mengalami tiga kali krisis global yang dasyhat dan selalu keluar secara lebih baik dari kawasan-kawasan bahkan dengan Uni Eropah dan AS sekalipun.
 
Krisis keuangan Asia yang terjadi pada tahun 1997, krisis keuangan global yang terjadi satu dekade yang lalu, dan kali ini, Pandemi Covid-19 telah membuktikan secara konsisten bahwa Asia mempunyai daya tahan dan bahkan tangguh. Rata-rata negara Asia hanya butuh waktu paling lama 2 tahun untuk kembali ke pertumbuhan positif semenjak krisis terjadi, dan kemudian mempunyai pertumbuhan yang terus menaik atau konsisten tinggi selama 30 tahun, sementara AS dan Eropah cenderung meneruskan kurva yang mendatar.
 
Kemampuan navigasi ekonomi negara-negara Asia dalam masa 30 tahun dengan dua, dan kini tiga kriris besar sesungguhnya juga berhadapan dengan tantangan domestik seperti urbanisasi yang tinggi dan tumbuhnya kelas menengah secara sangat cepat, dan globalisasi ekonomi yang terus menggelinding. Kenyataan itu memaksa negara-negara Asia menjadi lebih adaptif dan kreatif, dan hal ini pula yang akan kembali dijadikan sebagai modal kuat dalam menghadapi pendemi dan pasca pandemi ini.
 
Dalam editorialnya pada bulan Mei tahun ini, Harian Asia Times yang berbasis di Hongkong,  mengklaim bahwa dalam goncangan ekonomi akibat pandemi abad Asia telah dimulai pada bulan Mei 2020. Pada saat itu banyak negara di Asia telah kembali bekerja secara normal, sementara di Eropah dan AS, negara dan rakyatnya sedang berjuang keras menghadapi serangan Covid-19. Asia telah tampil secara sendiri dalam korteks Covid-19, terlepas dari serangan berat pandemi dan goncangan besar ekonomi seperti yang dialami oleh AS dan Uni Eropah.
 
Klaim itu bukan tanpa alasan, karena sejarawan ekonomi di masa depan dapat membuka jejak digital Google misalnya, untuk melihat pergerakan manusia di muka bumi pada saat itu. Tiga negara Asia, Korea Selatan, Vietnam, dan Taiwan menunjukkan mobilitas harian manusia secara normal. Hanya Jerman dan Jepang yang mencapai angka mobilitas 20 persen dari keadaan normal harian.
 
Pada saat yang sama AS, Inggris dan Perancis tidak menunjukan aktivitas biasa. Sayang, karena tameng perlindungan digital Cina yang hebat, Google tidak mampu membaca mobilitas harian masyarakat Cina, walaupun dari observasi dan laporan yang ada menunjukkan kegiatan harian ekonomi Cina berjalan normal sama dengan tiga negara Asia lain pada saat itu.
 
Memproyeksikan perkembangan benua Asia kedepan bagaimanapun memerlukan dua skenario, Cina tanpa negara Asia lainnya, ataupun negara-negara Asia lainnya bersama dengan Cina. Namun menurut Parag Khanna (2018), adalah salah menyatakan Asia hanya Cina, sama salahnya dengan mengatakan Asia tanpa Cina.
 
Menurutnya sejarah keunikan tampilnya Asia ke panggung global, tidak sama dengan tampilnya Inggris atau AS yang hegemonik. Inggris tampil dalam sussana konflik berkepanjangan dengan sejumlah negara Eropah lainnya, sementara AS menjadi hegemonik setelah perang Dunia ke II, karena memang Inggris telah sangat lelah secara keuangan dan pertahanan.
 
Kehebatan ekonomi Cina telah terbentuk dengan soliditas yang kuat dengan pertumbuhan ekonomi 9.5 persen pertahun selama 30 tahun, mulai dari tahun 1978 sampai dengan tahun 2018. Bersamaan itu Cina juga secara bersamaan telah menarik  banyak negara lain, di Asia dan Afrika untuk tumbuh secara bersama-sama.
 
Selanjutnya, kecuali di wilayah negara-negara kecil emirat di Timur Tengah, hampir semua negara Asia barat lainnya secara ekonomi sangat tergantung dengan ekonomi minyak, dan sangat sukar terhela dengan pertumbuhan Cina. Hal ini sangat berlawanan dengan apa yang terjadi kawasan lain benua Asia yang interaksi ekonominya dengan Cina sangat erat.
 
Tidak hanya itu, beberapa negara-negara lain di Asia, khususnya Asia Timur, sekalipun besaran kue ekonominya tidak sebesar Cina, namun kemajuan industri, perdagangan, dan sektor jasanya ada yang menyamai, dan bahkan dalam beberapa sektor mengungguli Cina. Dalam hal semi konduktor misalnya, Cina masih tertinggal dibandingkan dengan Korea Selatan. Dalam hal mobil hibrida , Jepang meninggalkan Cina jauh dibawah.
 
Menurut Khanna (2018) kebangkitan Asia kali ini bukanlah kebangkitan Cina semata, karena yang terjadi adalah kebangkitan benua secara keseluruhan. Memang ada ketimpangan di dalam, terutama di wilayah yang belum sangat terbangun seperti di Asia Tengah, dan juga sebagian negara penghasil minyak Asia Barat. Selebihnya Asia Timur, Asia Tenggara, dan Asia Selatan, terutama India, plus sejumlah negara kecil di kawasan Teluk dengan pusat utamanya di Dubai, Abu Dhabi, dan Kuwait.
 
Fenomena India dengan kemajuan tehnologi, kemajuan perdagangan, dengan komposisi demografi yang besar juga menjadi kekuatan ekonomi tersendiri. Apalagi bila kekuatan ekonomi India bersanding baik dengan ekonomi Cina, maka abad Asia akan semakin  kuat dan tak terelakkan.
 
Disebalik kemajuan dan integrasi ekonomi kawasan Asia yang semakin kuat dan dinamis, termasuk ketika sedang dalam dan pasca Covid-19, Cina juga menciptakan masalah baru. Kelakuan Cina akhir-akhir in menjadi penganggu yang berpoteni merusak pesan Deng Xio Ping yang menginginkan Cina tumbuh dan bangkit dengan damai. Namun gaya  pemerintahan Presiden Xin Ji Ping akhir-akhir ini membuat banyak pihak kuatir.
 
Keputusan sepihak klaim Cina atas sebagian besar kawasan Laut Cina Selatan sangat menganggu banyak negara ASEAN, sama halnya dengan pertikaian Cina dengan Jepang di perbatasan laut kedua negara. Konflik Cina dan India akhir-akhir ini disepanjang batas India-Cina di pergunungan puncak Himalaya menampilkan Cina dengan wajah baru yang lebih asertif. Selanjutnya juga politik represif Cina di Tibet, Mongolia Dalam, dan Singkiang juga membuat banyak pihak merasa tidak nyaman dengan kebangkitan Cina.
 
Tidak ada yang tahu apakah Cina akan besar sendiri dan menyendiri. Akan tetapi dengan ataupun tanpa Cina, sebagian besar negara-negara Asia telah mempunyai fondasi ekonomi tersendiri yang akan siap menghadapi tekanan apapun, kebangkitan Asia tanpa Cina sepertinya tidak akan membuat Asia hebat, sama tidak hebatnya kalau Asia sendiri bangkit tanpa Cina.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 

Komentar

Loading...