Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita : Asia sebagai Epicentrum Baru Dunia ? (IV)

Pandemi Terra Incognita : Asia sebagai Epicentrum Baru Dunia ? (IV)
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Apakah dampak ekonomi Covid-19 yang telah meluluhlantakkan setiap sudut di muka bumi akan mejadi faktor penghambat  tampilnya Asia di panggung dunia masa depan? Sulit untuk mengatakan tidak, bahkan bagi sebagian pengamat, kejadian pandemi ini justru akan menjadi faktor yang akan mempercepat tampilnya Asia sebagai pemain besar dan kuat di dunia.
 
Alasannya sangat sederhana. Sebelum pandemi terjadipun, Asia telah  tumbuh dan berjalan sama, bahkan dalam beberapa hal lebin hebat dan cepat dari adidaya dunia AS, termasuk Uni Eropah. Kini, ditengah ketidak pastian recovery AS dan Eropah, kecuali Jerman, yang terjadi adalah Cina, Jepang, Korea Selatan, Taiwan dan sejumlah negara ASEAN yang mengalami hantaman Covid-19 tidak separah AS dan Eropah secara keseluruhan, telah mulai bergerak kembali. 
 
Kejadian di Asia Timur dan Asia Tenggara juga terjadi di tempat lain di Asia. Salah satu pusat regional investasi, perdagangan, dan keuangan Asia lainnya di di Timur Tengah, di United Arab Emirat- Dubai, Abu Dhabi-, dan Kuwait juga mempuyai tingkat ketahanan dan recovery yang relatif sama dengan kawasan Asia Timur. Sekalipun kawasan Asia Selatan, India, Bangladesh, dan Pakistan keadaannya tidak sebaik di tempat lain, tetapi dalam rekam jejak sejarah,  ini adalah kawasan yang memang selalu hidup dalam bencana, terutama bencana alam berskala sedang  dan besar secara berkelanjutan, dan selalu berhasil keluar dengan selamat.
 
Sekalipun ekonomi dunia kini  terpuruk hebat, negara-negara Asia karena kemampuan pengendalian pandeminya yang relatif baik, kini mempunyai titik start yang lebin awal dan baik dibandingkan dengan negara-negara di kawasan lain didunia, terutama motor besar ekonomi dunia, AS dan Eropah. Cina dan negara-negara Asia Timur lainnya tidak hanya menang karena kehebatannya, tetapi juga didukung oleh bebarapa kesalahan kebijakan AS sendiri yang semakin membuat negeri itu terpuruk.
 
Sejumlah ruang kosong global yang ditinggalkan oleh AS via kebijakan Trump kini telah diisi oleh Cina. Kasus keluarnya AS dari WHO misalnya haruslah dilihat bukan hanya persoalan AS melepas diri dari tanggungjawab kesehatan kolektif masyarakat global, tetapii juga berimplikasi mempersilakan Cina untuk mengambil alih tanggung jawab yang lebih besar. Ini artinya, posisi Cina dengan kekuatan uang dan menjadi kontributor besar untuk wadah kesehatan masyarakat global akan mempunyai dampai politik besar secara internasional. Dengan cara itu, kepemimpinan Cina telah semakin maju dan mengkristal dalam tatanan dunia  baru pasca Covid-19.
 
Hal lain yang juga sepertinya akan menjadi tragedi ekonomi bagi AS adalah keputusan Trump untuk mengabaikan wadah perdagangan Trans Pasific Partnership-TPP yang dirancang oleh pemerintahan Obama untuk menyaingi Cina dalam perdagangan global. Gagasan itu memasukkan  12 negera besar Samudra Pasifik dalam sebuah aliansi perdagangan bebas dengan peserta terbesarnya adalah sekutu AS di kawasan ini. AS tidak hanya  berkehendak untuk menyaingi Cina di kawasan Pasifik, tetapi juga mencegah sekutunya untuk bergabung dengan Cina secara terstruktur dan teratur dalam sebuah pakta besar ekonomi kawasan.
 
Keputusan Trump untuk mengabaikan terbentuknya TPP sebelum pandemi terjadi telah menggoncangkan iklim “persaudaraan” dengan para sekutunya di Asia Pasifik. Dengan kebangkitan Cina sebagai kekuatan besar ekonomi dunia, negara-negara kawasan Pasifik kini mulai berpikir lain untuk keluar dari krisis pasca pandemi dan mencari alternatif baru untuk aliansi perdagangan, investasi, dan keuangan. Ini artinya, tidak ada pilihan lain selain berkawan “baik” dan bergabung secara ekonomi dengan Cina, walau dengan sikap sangat hati-hati.
 
Prinsip geopolitik lama yang cenderung mempuyai analogi sekutu politik “beririsan” bentuknya dengan sekutu ekonomi, kini telah berevolusi. Adagium lama “kami sekutu politik dan juga sekutu ekonomi” kini telah diubah kalimatnya.  Dalam konteks yang lebih konkret, kini Jepang, Korea Selatan, bahkan Australia dan Kanada sekalipun yang merupakan sekutu Amerika dalam format awal TPP, telah menjadi teman baik Cina. Kini semboyan mereka adalah AS sekutu kami, dan Cina adalah “sahabat” kami. Ini adalah sebuah perobahan besar dalam tata dunia baru  yang sedang berobah cepat.
 
Ditengah-tengah perang ekonomi AS vs Cina, terutama dengan kebijakan proteksi perdangangan AS, dalam suasana pandemi dan pasca pandemi nampaknya dunia berpikir sebaliknya. Hampir semua negara anggota  TPP yang belum sempat terbentuk  sampai kini semakin menjadi gundah dengan model proteksi perdagangan AS ala presiden Trump. Akhirnya pada bulan Maret 2018 mereka sepakat membentuk Kesepakatan Progresif dan Komprehensif Kemitraan Trans-Pasifik (CPTPP) di Santiago. Sekalipun tanpa AS, kesepakatan 11 negara yang terdiri Australia, Brunei, Kanada, Cile, Jepang, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Peru, Singapura, dan Vietnam akan mempunyai pasar sekitar 500 juta orang, dan menjadikannya salah satu kesepakatan perdagangan terbesar global.
 
Skenario CPTPP tanpa Cina diyakini tidak akan bergerak, karena tanpa CPTPP pun Cina hari ini secara praktis, relatif sudah mengusai ekonomi global.  Skenario CPTTP dengan keikutsertaan Cina akan semakin membuat globalisasi ekonomi menjadi lebih dinamis, namun Cina harus mengikuti regulasi yang lebih ketat dan membutuhkan waktu, terutama tentang keikutsertaan  BUMN Cina dalam kemitraan perdagangan itu. Namun demikian posisi AS juga belum sangat final, bahkan seandainya Joe Biden memenangkan pemilihan presiden AS dalam beberapa minggu lagi, bisa raja membuat posisi AS berobah, untuk kembali duduk bersama Cina, dan mencari pola kerjasama baru yang menguntungkan semua pihak.
 
Skenario CPTPP dengan keikutsertaan Cina jelas akan sangat menguntungkan  banyak negara berkembang, terutama di Asia. Integrasi ekonomi kawasan sesama negara Asia dengan Cina sebagai titik simpul utama seperti yang terjadi selama ini, akan bergerak lebih kuat lagi, dan seakan memastikan negara-negara Asia akan bangkit bersama menjadikan abad ke 21 sebagai abad Asia.
 
Tetapi kemitraan itu tidak selesai disitu saja, negara-negara Asia tidak puas dan ingin membuat kemitraan yang lebih besar, dan kali ini sebagian besar negara  CPTPP ditambah dengan Cina dan India. Dan akhirnya, 10 negara ASEAN ditambah degan Cina, India, Korea Selatan, Australia, dan Selandia Baru bersepakat untuk untuk membentuk Kemitraan Ekonomi Komprehensif Regional -RCEP. Ini adalah kumpulan 16 negara yang akan melayani setengah penduduk bumi dan 40 persen dari produk domestik bruto global. India kemudian karena beberapa alasan tersendiri membatalkan keikutsertaannya dalam kemitraan itu.
 
Kenapa faktor Cina menjadi krusial bagi negara-negara Asia dan kebangkitan Asia di masa depan? RCEP tanpa Cina tentu sana tidak lengkap, dan sekalipun dalam perselisishan sejumlah negara ASEAN tentang laut Cina Selatan mendapat perhatian besar dari AS, namun ASEAN tetap tidak mau memihak AS atau Cina dalam perseteruan dua kekuatan global itu. Bahkan tawaran AS untuk memihak kepada negara ASEAN  yang terlibat konflik dengan Cina, tidak dihiraukan oleh negara ASEAN, karena kini bukan saatnya lagi untuk memilih kawan, atau lawan. Kepentingan ekonomi kawasan kini menjadi  faktor  dalam berikap.
 
Sepertinya para anggota RCEP yakin hanya Cina lah yang akan mampu berperan ganda,  sebagai “mesin besar” pengerak kawasan, dan penggerak ekonomi global yang sesungguhnya. Sekali lagi tidak salah kesepakatan 15 negara anggota RECP  bahwa kemitraan yang mereka buat itu akan menjadi kunci pemulihan ekonomi kawasan, sekaligus salah satu kunci penting pemulihan ekonomi global.  
 
Bagi negara-negara Asia, ketika mesin besar itu telah bergerak, apalagi bergerak dengan dinamika sebagai penarik kuat perdagangan, investasi dan keuangan, secara otomatis akan membuat negara-negara Asia juga akan terhela. Semakin cepat pemulihan domestik sosial ekonomi pasca pandemi, akan semakin cepat pula negara-negara Asia mengambil peran ikutan, mengikuti “imam” baru ekonomi dunia, Republik Rakyat Cina.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...