Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita : Amerika Serikat, Cina, dan Deglobalisasi (III)

Pandemi Terra Incognita : Amerika Serikat, Cina, dan Deglobalisasi (III)
Foto : Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Apakah benar Cina akan memenangkan pertarungan global dalam segala aspek dengan kemajuan ekonomi, kehebatan angkatan perangnya? Apakah Cina akan semakin besar wilayah pengaruhnya, berikut dengan kemauan dan kemampuannya  untuk semakin berperan dalam berbagai persoalan global yang semakin rumit?
 
Betapapun tercerai berainya rantai pasok ekonomi global, baik yang disebabkan oleh perang dagang AS- Cina, proteksi perdagangan AS dengan negara lain, maupun yang diakibatkan oleh dampak  Covid-19, kerugian yang diderita oleh masing-masing pihak tetap saja menjadi beban tersendiri.
 
Pandemi yang dalam pandangan kasat mata hanya persoalan kesehatan semata, ternyata telah menyebabkan penurunan yang tajam terhadap aliran uang, barang dan jasa terparah dalam sejarah ekonomi moderen pasca perang dunia ke dua.
 
Gita Gopinath, (2020) ekonom Princeton yang kini menjadi Chief Economist di IMF  memperkenalkan istilah the Great Lockdown untuk mengimbangi kejadian the Great Depresion,-resesi dunia 1930-an. Menurut Gita, resesi global kali ini jauh lebih parah dari yang pernah terjadi pada tahun 1930. Dengan assumsi moderat ia memperkirakan  bahwa akhir tahun 2020 pandemi telah dapat dijinakkan, Gita memproyeksi pertumbuhan global berada pada -3 persen.
 
Dengan assumsi optimis, negara-negara diseluruh dunia mampu mengatasi persoalan kebangkrutan perusahaan domestik, mampu mengatasi persoalan pengangguran, dan mampu mengatasi berbagai persoalan keuangan domestik, diperkirakan pertumbuhan ekonomi global pada tahun 2021 akan mencapai angka 5.8 persen.
 
Namun demikian, kehilangan komulatif GDP global akibat dari  pandemi ini diperkirakan akan mempunyai nilai sekitar 9 trillun dolar. Dengan angka kehilangan yang seperti ini, dapatlah kita bayangkan jika semua asumsi Gita tidak terjadi, dan memang semakin berpeluang untuk tidak mungkin terjadi, paling kurang sampai dengan pertengahan tahun 2021.
 
Sebuah perkiraan awal menunjukkan pandemi telah menyebabkan terjadi nya penurunan antara 13-32 persen perdagangan  internasional, 30-40 persen penurunan penanaman modal asing, dan penurunan antara 40-80 persen penumpang pesawat internasional untuk  tahun 2020.
 
Turunnya penanaman modal asing, utamanya di negara berkembang  terjadi bersamaan dan bahkan lebih awal  dari pengumuman WHO tentang darurat global untuk Covid-19. IMF (2020) mencatat sampai dengan 4 bulan pertama pasca Covid-19  lebih dari 100 miliar dolar penanaman modal asing telah dipindahkan dari sejumlah negara berkembang.
 
Itu adalah angka terbesar penarikan investasi asing yang pernah terjadi selama ini. Angka ini kemungkinan akan terus membesar sejalan dengan ketidak jelasan kapan pandemi ini akan berakhir.
 
Sejarah pertumbuhan ekonomi negara berkembang dalam tiga dekade terakhir sangat terkait dengan hadirnya penanaman modal asing. Jumlah total penanaman modal asing yang hanya 14 milyar pada tahun 1985 menjadi 690 milyar dolar pada tahun 2017.
 
Pertumbuhan ekonomi dan penurunan kemiskinan yang hebat di negara berkembang yang terjadi dalam tiga dekade terakhir adalah produk dari globalisasi. Penanaman modal asing industrialisasi, dan perdagangan internasional di negara berkembang adalah mesin globalisasi pamungkas yang telah membuat perobahan besar di hampir semua negara berkembang.
 
Kejadian pandemi ini mempunyai implikasi besar untuk ekonomi negara berkembang, terutama menyangkut dengan kelambanan bahkan tidak aktifnya perkembangan sektor industri, energi, penerbangan, dan jasa yang sebagian besarnya adalah turunan dari modal asing. Padahal pertumbuhan ekonomi negara negara itu sangat  tergantung dengan sektor sektor tersebut.
 
Dengan kata lain, pandemi telah membuat arus penanaman modal asing yang selama ini menjadi mesin besar pertumbuhan ekonomi banyak negara berkembang telah menjalani proses mati suri, untuk tidak mengatakan terhenti.
 
Gangguan pada penanaman modal asing juga secara berantai mempunyai dampak kepada skala perdagangan international atau sebaliknya. Kedua komponen ini adalah jantung sekaligus nadi dari globalisasi yang kini sedang dirusak oleh pandemi Covid-19.
 
 
Data yang dikemukanan oleh World Economic Forum (2020) menunjukkan pada bulan-bulan pertama tabun 2020, telah terjadi penurunan impor ekspor antara 3 pemain besar ekonomi global, Cina, Uni Eropah dan Amerika Serikat.
 
Ekspor Cina ke Uni Eropah turun sekitar 30 persen, dan sebaliknya ekspor Uni Eropah ke Cina  juga turun 18.9 persen. Selanjutnya impor Cina terhadap barang-barang dari Amerika Serikat turun 8 persen, dan ekspor barang-barang Cina ke Amerika Serikat turun 27 persen.
 
Prediksi yang dibuat  Solleder dan Velasques (2020) memperkirakan  impor barang manufakturing Uni Eropah akan berkurang senilai 147 milyar dolar, dimana 101 milyar dolar merupakan perdagangan sesama anggota Uni Eropah, selebihnya, 46 milyar dolar dengan negara-negara lainnya.
 
Penutupan sejumlah industri di AS dan Cina juga menurunkan pemintaan impor manufakturing sebesar 38 milyar dolar -AS dan 48 milyar dolar. Secara total, pandemi diperkirakan telah akan mengurangi permintaan barang manufakturing di tiga pusat sistem produksi  global yang disebut sebagai Global Value Chain sebesar 228 milyar dolar pada tahun ini.
 
Gangguan di pusat tiga besar sistem produksi global, AS, Cina, dan Uni Eropah yang mempunyai tali-temali dengan penamanan modal asing dan perdagangan internasional telah memberi pukulan telak terhadap globalisasi ekonomi.
 
Karena prinsip kinerja globalisasi tidak lain dari sebuah sistem integrasi ekonomi global, maka ketika  tiga kutub sistem produksi global mengalami gangguan, secara otomotis akibatnya menjalar secara sistemik keseluruh dunia, terutama di kawasan negara berkembang.
 
Kelesuan ekonomi segera terasa secara bertingkat, dari inti, menyebar ke lapis tengah antara, dan kemudian menjalar ke pinggiran. Semakin tinggi integrasi ekonomi sebuah negara kedalam sistem ekonomi global, maka semakin tinggi pula goncangan yang dialami.
 
Singapore adalah contoh sempurna korban kelesuan ekonomi global akibat pandemi. Negara itu adalah salah satu pusat regional ekonomi  yang sangat maju dan terintegrasi penuh dengan sistem ekonomi global. Namun, laporan terakhir menunjukkan bahwa Singapore akan mengalami pertumbuhan minus 13,2 persen.
 
Akankah globalisasi berakhir? Catatan sejarah  menunjukkan tingkat ketahanan untuk kemudian bangkit kembalinya globalisasi selalu terjadi, bahkan dalam 30-40 tahun terakhir telah menunjukkan perkembangan yang luar biasa.
 
Saat ini yang bisa terlihat hanya dampak jangka pendek yang kelihatannya memang parah, akan tetapi dalam sejarahnya globalisasi selalu mempunyai daya tahan dan daya pulih yang kuat.
 
Globalisasi yang telah berjalan selama ribuan tahun, berkali kali menghadap bencana; berbagai pandemi, krisis keuangan global, maupun perang besar, seperti Perang dunia I dan II. Tak lama setelah keadaan mereda, kehidupan baru kembali menjadi normal, dan globalisasi kembali bekerja.
 
Banyak pengamat memperkirakan seburuk apapun dampak yang akan terjadi akibat pandemi Covid-19, globalisasi ekonomi tetap berlanjut, mungkin saja dengan menjalani sebuah transformasi dan akan mempunyai wajah baru.
 
Prediksi yang paling banyak disebutkan adalah globalisasi akan terus berlanjut dengan pola yang berubah. Akan semakin tumbuh dan intensif integrasi ekonomi kawasan, ketimbang hanya terpusat pada tiga kawasan inti- AS, Cina, dan Uni Eropah.
 
Pertarungan kekuatan AS dan Cina, dan perlakuan “kurang bersahabat” AS terhadap sekutunya, Uni Eropah dan Jepang juga akan membuat pola pengelompokan baru ekonomi regional yang lebih netral. Kelompok baru ini tidak akan memihak terhadap kedua kekuatan raksasa itu secara ekstrem.
 
Intinya, kekuatan tiga kutub ekonomi dan kekuatan dunia akan terbagi kedalam sejumlah kluster ekonomi regional yang akan berfungsi sebagai pusat-pusat baru sistem integrasi ekonomi regional yang lebih kuat.
 
Integrasi ekonomi ASEAN misalnya tidak akan “sangat terdikte” dengan perilaku AS, karena ketika ASEAN sudah kuat ASEAN juga akan bertambah kuat jika bisa bekerjasama baik dengan AS maupun Cina. Dilain pihak, ketika Cina semakin ekspansif di laut Cina Selatan, maka ASEAN butuh AS untuk mentralisir Cina. ASEAN juga yakin, AS tidak akan perch membiarkan Cina merajalela di laut Cina Selatan.
 
AS akan tetap tetap terobsesi dengan sejarah panjang sebagai “penguasa dominan” Samudra Pasifik selama beratus-ratus tahun semenjak Comodore Perry memaksa Jepang terbuka kepada dunia luar pada tahun 1853, mengalahkan Jepang Perang pada Perang Dunia ke II, dan perang Vietnam. Intinya format baru  globalisasi ASEAN jika mengikuti logika ini akan lebih pragmatis secara ekonomi, kurang ideologi, dan akan bermain “cantik” baik dengan Cina maupun AS.
 
Selain ASEAN, maka fraksi-fraksi baru integrasi ekonomi regional akan terlihat di kelompok negara-negara Amerika Latin, mungkin bergabung dengan negara-negara Amerika Tengah, kelompok negara Asia Timur non Cina (Jepang, Taiwan, dan Korea Selatan).
 
Akan terbentuk pula  kelompok negara-negara di benua Afrika, kelompok negara-negara Timur Tengah, MENA, yang berpusat dengan pusatnya di UAE, utamanya Dubai dan Abu Dhabi. India kemungkinan besar akan tampil sendiri, karena telah terkepung dengan sejumlah “kawan” Cina di kawasan seperti Pakistan, Sri lanka, dan Bangladesh.
 
Kemungkinan kedua terhadap masa depan globalisasi adalah format yang ada semarang akan tetap berlanjut, dengan berbagai penyesuaian di sana sini. Format ini juga tetap akan terpengaruh dengan “derajat” permusuhan antara Cina dengan AS. Jikapun presiden AS ke depan dimenangkan oleh Joe Biden dari parti Demokrat, sikap dan asumsi AS terhadap Cina tidak berubah banyak.
 
Kedua partai besar di AS itu mempunyai banyak perbedaan, tetapi ketika berhadapan dengan Cina, mereka mempunyai kesamaan yang hampir total. Bedanya Trump lebih “grusa grusu”, sedangkan Biden akan lebih cermat, penuh perhitungan dan hati-hati.
 
Intinya, kepungan pandemi telah memberikan peluang “terra incognita “  yang kita belum tahu bentuk konkritnya, namun telah melihat kecendrunganya. Alternatif apapun yang akan terjadi terhadap masa depan globalisasi ekonomi, masih akan tetap sangat dipengaruhi oleh perilaku dua raksana dunia, AS dan Cina.
 
Apa yang membuat dunia beda sekarang? Hampir seluruh negara-negara  di dunia baik kawan dekat, maupun yang simpati dengan AS, telah semakin sadar untuk mengakui “realitas” dunia baru, dimana Cina sama sekali tidak boleh diremehkan.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...