Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Amerika Serikat, Cina, dan Deglobalisasi (II)

Pandemi Terra Incognita: Amerika Serikat, Cina, dan Deglobalisasi (II)
Human Hamid. Foto: For AJNN

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Sebenanrnya tanpa pandemi pun, proses globalisasi telah sangat terganggu akibat ketegangan antara AS dan Cina. Takut akan kalah bersaing dengan Cina, AS di bawah Trump membatalkan rencana AS untuk bergabung dengan kluster perdagangan Trans Pasific yang sejatinya akan membuat setengah bumi terintegrasi dalam pakta perdagangan bebas.

Tentu saja integrasi kawasan perdagangan bebas negara-negara yang mengelilingi samudera Pasifik akan membawa kemakmuran bersama. Disamping itu bagi yang lalai juga akan menerima konsekwensi kerugian. Inilah rem tangan AS yang digunakan yang memperlambat kecepatan proses globalissi sebelum pandemi.

Kehebatan Cina dalam bersaing membuat negeri itu menjadi pengambil manfaat terbesar dalam proses globalisasi. Ketika sejumlah produksi barang-barang mereka murah, berkwalitas, dan bersaing, maka dalam konteks globalisasi, negara pengimpor barang-barang Cina justeru membunuh produsen dalam negerinya secara sistematis. Inilah kasus yang paling banyak diderita oleh AS dan membuat Trump marah kepada Cina bukan kepalang.

Perkembangan terakhir globalisasi yang memang sudah terganggu sebelum Covid-19 berlangsung, kini semakin tergerus akibat pandemi. Rasio perdagangan dengan GDP global yang telah merangkak naik dari 10 persen setelah berakhir Perang Dunia ke II menjadi 60 persen dalam beberapa tahun terakhir, dan dipastikan pada tahun ini akan turun menjadi 37 persen saja (Nikkei Asian Review, September 2020). Ini adalah pertanda besar sedang terjadi titik balik globalisasi yang seorangpun belum tahu apakah ini gejala sementara atau akan terus berlanjut.

Yang pasti, yang sedang terjadi hari ini, semakin kuat AS menarik diri dari panggung global, semakin terbuka pula ruang permainan yang tersedia dan akan diambil oleh Cina. Ketika Cina membuka Bank Investasi Infrastruktur Asia beberapa waktu yang lalu, Cina telah mengajukan alternatif Bank Pembangunan Internasional Cina sebagai tandingan Bank Dunia yang disponsori oleh AS dan sekutunya. Dan yang paling menarik, seakan membaca lebih cepat rencana penarikan diri AS dan kecendrungan proteksi perdagangan, Cina menggagas cikal bakal nadi globalisasi zaman baheula, yaitu jalur sutera.

Jalur sutera Cina abad ke XXI ini yang dikenal dengan OBOR adalah sebuah proyek ambisius Cina yang menghubungkan benua Asia, Eropah, dan Afrika dengan moda transportasi jalan darat, kereta api, dan laut. Ini adalah sebuah mega proyek global, bahkan mungkin menandingi dan bahkan lebih hebat dari proyek pembangunan sekutu yang disponsori AS di Eropa pasca Perang Dunia yang dikenal dengan Marshal Plan.

Bayangkan Cina berhasil mengajak 78 negara dengan membangun 6 koridor besar yang menghubungkan Laut Tengah Eropah dengan Samudera Pasifik dan Samudera India melintasi hampir semua negara di Asia, kecuali India, dan sebagian Eropah, utamanya Belanda, Italia, Yunani, dan Rusia. OBOR juga terhubungkan dengan Kenya dan cukup banyak ikutan negara Afrika lain, seperti Mesir Maroko, Ethiopia, Zimbagwe, Mozambig, Madagaskar, Zambia, Afrika Selatan, dan lain lain.

Apa yang menjadi daya tarik obor adalah konektivitas global yang luar biasa yang digagas Cina secara sangat terstruktur dan terukur, yang membuat banyak negara di Asia dan Afrika yang selama ini belum sepenuhnya bergabung dengan arus besar globalisasi, kini, dengan OBOR telah terhubungkan. Dengan fasilitas lintas darat laut yang canggih, maka OBOR akan menjadi nadi global baru yang membawa barang, uang, orang dan jasa dari sebuah pelosok dunia ke belahan bumi yang lain.

Bersamaan dengan OBOR, Cina juga menyiapkan pinjaman untuk infrastruktur melalui Bank Investasi Infrastruktur Asia kepada negara-negara yang tergabung dalam jaringan OBOR. Disamping itu diam-diam, dan dengan sangat sistematis, hampir seluruh negara-negara yang cukup lama terabaikan dari perhatian AS dan sekutunya kini telah menjadi mitra Cina yang handal. Kini, Afrika telah menjadi kawasan pemasok bahan mentah utama ke Cina, dan pada saat yang sama juga telah menjadi pasar besar produk barang-barang Cina.

Tidak berhenti dengan membangun konektivitas biasa Cina juga mempunyai pelabuhan sendiri di hampir semua titik penting di sepanjang tepi samudra India, Chittagong di Bangladesh, Gwadar di Pakistan, Hambantota di Sri Lanka, Kyaupkyu Myanmar, Malaka di Malaysia, Jibouti, dan Mombasa di Kenya. Menurut sebuah catatan pengamat, pelabuhan laut itu kini telah semakin diperkuat lagi dengan pembangunan pergudangan yang besar. Bahkan diperkirakan, jika terjadi konflik global, semua fasilitas pelabuhan dan pergudangannya dapat dengan mudah dialihkan untuk menjadi pusat pengendalian fasilitas dan markas perang regional.

Sekuat apapun AS mengurangi perannya dalam proses globalisasi, terutama bila ditujukan untuk melemahkan Cina, perdagangan hari ini menunjukkan realitas lain. Semakin AS keluar dari panggung global, semakin cepat pula Cina mengisinya. Uniknya keuntungan Cina hari ini lebih diakibatkan oleh kompleksitas arus investasi dan outsourcing dari satu produk final hari ini terjadi tidak di satu atau dua negara.

Bayangkan saja Iphone yang didesign di Silicon Valey, California AS, yang akan menjalani perakitan terakhir di Cina. Sebagian komponen akan dibuat di AS sebelum dikirim ke Cina, perusahaan Italia membuat layar sentuh, flash memory, and kontrol audio. Setelah itu perusahaan Italia lainnya akan menyiapkan pengaturan tenaga.

Tidak berhenti disitu, perusahaan Korea Selatan membuat aplikasi iprocessor dan memory, perusahaan Jepang menyiapkan blue tooth dan wifi, perusahaan Jerman menyiapkan komponen jaringan, perusahaan Taiwan menyiapkan akselerometer, ditambah dengan beberapa komponen yang dibuat oleh beberapa perusahaan Asia lainnya. Akhirnya semua itu dirakit di Guandong Cina untuk kemudian dikirim lagi untuk pemasaran ke berbagai negara.

Pekerjaan perakitan terakhir dikerjakan oleh perusahaan Taiwan yang beroperasi di Cina. Dengan contoh ini saja sudah sangat tampak bahwa ada atau tak ada AS, proses globalisasi ekonomi tetap berjalan, karena dalam dunia yang semakin maju, tidak ada lagi monopoli ilmu pengetahuan dan dominasi pengaruh yang dipaksakan. Ini adalah sebuah kenyatan kompleksitas investasi global, dimana tidak hanya kepentingan perusahaan saja yang tampil, tetapi juga setiap negara punya kepentingan tersendiri.

Persiapan Cina menjadi penting untuk dicatat, karena kecendrungan politik proteksi dan meninggalkan gelanggang global AS menjadi lebih deras arusnya setelah Covid-19 timbul dan meluluh lantakkan seluruh tatanan global, kesehatan, politik, keamanan, dan utamanya ekonomi.

Cina sudah cukup lama membuat persiapan untuk menjadi adi kuasa baru. Ia bangkit, berselancar, dan berjaya dengan globalisasi. Politik Deng Xio Ping yang dilanjutkan oleh penerusnya selalu berwajah damai dan tak menjadi ancaman bagi siapapun. Namun, Cina sangat tahu bahwa kesuksesan AS adalah modal utamanya yang membuat AS lemah. Posisi adi kuasa AS membuat negera itu ingin mengurus dunia dan segala isinya, lebih banyak menurut kepentingannya sendiri. Dan itu membuat AS menjadi lemah. Cina tahu AS memang raksasa, tetapi raksasa yang sedang sakit sakitan.

Sejarah mencatat pertarungan dua adidaya dunia 2500 tahun yang lalu antara Sparta dan Athena adalah pertarungan yang sangat sengit. Athena yang sangat maju dan demokratis akhirnya kalah, bukan karena kehebatan Sparta, tetapi karena dikalahkan oleh pandemi yang datang dari Afrika.

Penungguan Cina yang sangat sabar terhadap raksasa yang lelah itu mungkin saja akan terwujud, apalagi kalau melihat angka kematian Covid-19 AS itu kini mencapai lebih dari seperempat total kematian global pandemi itu. Padahal, jumlah penduduk AS hanya 4 persen dari total penduduk bumi. Kalau Athena kalah dari Sparta karena penyakit tipus, kali ini AS mungkin akan hilang tajinya karena Covid-19. Jangan pernah anggap enteng Cina. Abad ke 21 bukan tidak mungkin menjadi abad Cina, dan kalau itu terjadi, maka palu godam terakhir perpindahan episentrum dunia dimulai di Wuhan, Cina.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...