Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Amerika Serikat, Cina, dan Deglobalisasi (I)

Pandemi Terra Incognita: Amerika Serikat, Cina, dan Deglobalisasi (I)
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid

Tidak ada sejarawan manapun yang bisa membantah semenjak awal homo sapiens, telah ada hubungan antar berbagai tempat di muka bumi, awalnya antar suku-suku kecil dalam atau kawasan yang berdekatan. Kemudian, karena kemajuan tehnologi manusia mulai mampu bergerak, awalnya di daratan, kemudian melintasi sungai, teluk, laut dan akhirnya samudera.

Bentuk awal mobilitas manusia yang dimulai dengan ekonomi petukaran, kemudian menjadi ekonomi uang, dan berlanjut menemukan bentuk lain dalam berbagai perdagangan barang dan jasa. Kegiatan pertukaran dan perdagangan secara berkelanjutan membuat manusia semakin lama semakin terintegrasi kedalam suatu sistem ekonomi kawasan untuk kemudian menjadi lebih luas dalam sistem perdagangan dunia.

Cacatan pasti tentang dan pandemi yang menyertainya- arus orang, barang, dan jasa bukanlah barang baru. Sejarah abad pertengahan mencatat tahap-tahap awal mengalirnya manusia, barang, jasa, ilmu pengetahuan, dan bahkan budak melalui berbaigai rute ke hampir seluruh permukaan bumi.

Jalur Sutera yang mengaitkan Cina dengan seluruh bagian benua Asia, Afrika, dan Eropah adalah contoh klasik globalisasi tahap pertama yang mempersatukan berbagai suku bangsa dan kerajaan dari berbagai tempat di dunia.

Dalam perjalanannya, jalur sutera menjadi wahana utama yang mentrasformasikan endemi yang sudah terjadi berabad abad disebuah tempat, menjadi epidemi pada sejumlah kawasan dan kemudian menjadi pandemi yang tersebar melintasi benua.

Jalur Sutera menghasilkan kemakmuran dan perdagangan antar kawasan dunia, dan jalur sutera menjadi instrumen penting globalisasi, dan akhirnya globalisasi menjadi kenderaan pandemi untuk membunuh manusia dimana-mana dalam jumlah yang sangat besar melebihi bencana alam manpun lainnya.

Kemakmuran sebagai salah satu akibat dan sebab globalisasi akhirnya menghasilkan berbagai kota-kota besar di dunia, terutama di Eropah. Dalam kenyataannya, kota adalah magnit berkumpulnya manusia, baik karena ekonomi, perdagangan, tenaga kerja, maupun gaya hidup. Pandemi yang dibawa oleh globalisasi membunuh cukup banyak manusia terutama di kota-kota yang hidup berdesakan, kadang berdekatan dengan konsentrasi jumlah ternak untuk konsumsi manusia.

Setelah berkontribusi kepada kematian melalui pandemi, globalisasi juga membawa instrumen pengendalian dan pengobatan dari kawasan yang lebih maju, dan mungkin juga sudah pernah mengalami dan mengatasi ledak biak wabah yang membunuh manusia.

Sejarah dua negara kota di Italia Selatan yakni Venesia dan Dubrovonik mengendalikan wabah dengan sistem isolasi dan karantina pada pertengahan abad ke 14 adalah jasa globalisasi ilmu pengetahuan dan praktek kesehatan dari dunia Islam Timur Tengah.

Dengan cara pengetatatan dan kontrol pintu masuk pelabuhan, akhirnya perdagangan internasional terus berjalan yang megantarkan kemakmuran bagi Italia yang kemudian melahirkan babak baru perjalanan manusia, yakni era Renaissence -pencerahan pada abad ke 15, dimulai di Italia, kemudian menyebar ke seluruh Eropah.

Inilah awal titik tolak yang menjadi pemicu revolusi pengetahuan, seni, kebebasan yang membuat Eropah menjadi cemerlang dan menjadi pusat peradaban manusia selama berabad-abad berikutnya. Intinya interaksi pandemi dan globalisasi membuahkan dua hasil yang kontrakdiktif, korban manusia yang cukup banyak, yang dikuti dengan lompatan peradaban yang tak pernah terbayangkan sebelumnya, terra incognita.

Covid-19 kali ini juga menempuh jalur globalisasi sebagai penyebar sekaligus sebagai jaringan kerjasama antar negara, minus Amerika Serikat. Nasib globalisasi kini menjadi terancam, baik karena anggapan kebahayaan kuat dan derasnya integrasi global, maupun sentimen anti globalisasi yang telah mulai menggema dalam tahun-tahun terakhir ini.

Tidak pernah ada dalam sejarah moderen dunia yang mencatat tuduhan kepala negara, apalagi sekaliber Amerika Serikat yang menuduh Cina sebagai pencipta Covid-19 yang bertujuan untuk mengacaukan kehidupan dunia, khususnya Amerika Serikat.

Selanjutnya, AS bahkan menuduh Cina telah menggunakan pengaruhnya sebagai penyumbang terbesar WHO untuk menyembunyikan sesuatu yang harus diketahu publik global pada awal perkembangan pandemi ini. Sebagai konsekwensinya AS keluar dari WHO, dan menarik diri sebagai pemangku kepentingan utama dalam penanganan pandemi Covid-19. Ini adalah sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh semua presiden Amerika Serikat sebelumnya.

Sinyal AS menarik dari berbagai kerjasama dan perjanjian multilateral sesungguhnya telah mulai terjadi semenjak Trump maju dan kemudian menang sebagai presiden AS. Ia berjanji dan menerapkan kebijakan American First- “dahulukan AS” yang didalam kacamata hubungan internasional dibaca sebagai strategi proteksi dan isolasi AS dalam percaturan dunia.

Ia bahkan menuduh berbagai kerjasama dan tata dunia selama ini telah sangat merugikan AS. Dibawah kepemimpinan Trump, AS menjadi kawan yang tidak menyenangkan Uni Eropah, bahkan ia mendukung Brexit secara terbuka, yang kemudian membuat Inggris keluar dari Uni Eropah.

AS menarik diri dari perjanjian pedagangan bebas Amerika Pasifik NAFTA. Tidak berhenti dengan itu semua, bahkan AS juga menarik diri dari Kerjasa Pemanasan Global, perjanjian nuklir Iran, dan bahkan mengobrak abrik lembaga perdagangan Internasional WTO.

Hanya dengan menggunakan akal sehat, terlihat jelas apapun yang sedang dilakukan oleh AS selama kepemimpinan Trump adalah sesuatu yang sangat terbalik dari pekerjaan semua presiden AS yang berbeda secara ideologi dari kedua partai yang silih berganti memerintah AS.

Semenjak berakhirnya perang dunia ke II AS selalu menadi penganjur dan “Touke” yang mempromosikan perdagangan bebas, demokrasi, dan kerjasama internasional, yang didalam kepustakan hubungan internasional disebut dengan Tata Dunia Liberal Internasional. Tata dunia itulah yang telah menjadi payung keamanan berbagai kawasan di dunia selama lebih dari 60 tahun dengan berbagai dinamika yang telah membuat dunia menjadi lebih maju.

Payung keamanan dunia dibawah kepemimpinan AS, bersama dengan konvensi perdagangan bebas menjadi energi besar globalisasi yang telah mampu mengeluarkan cukup banyak negara dari lautan kemiskinan, dan bahkan telah membuat sejumlah negara berkembang menjadi bagian dari kelompok 20 negara ekonomi terbesar di dunia.

Memang harus diakui, Cina adalah negara yang memperoleh keuntungan terbesar dari globalisasi perdagangan, Tidak hanya Cina berhasil mengeluarkan 800 juta warganya keluar dari kemiskinan, ia bahkan telah pula mampu menjadikan dirinya sebagai kekuatan terbesar ekonomi dunia kedua setelah AS, hanya dalam tempo sekitar 40 tahun.

Kejadian Pandemi Covid-19 pada masa akhir pemerintahan Trump semakin memberikan tanda AS semakin menarik diri dari urusan kepentingan global, dan bahkan semakin menunjukkan sikap yang semakin bermusuhan dengan Cina. Banyak kepustakaan hubungan internasional dalam bulan-bulan terakhir yang mengulas kecendrungan “perang dingin II” antara AS tengan Cina, setelah “perang dingin I antara AS dengan bekas Uni Soviet yang berakhir pada tahun sembilanpuluhan.

Apakah ketegangan AS dan Cina akan membuat proses globalissi tergangu? Akankah pandemi Covid-19 menjadi pemicu besar terjadinya penarikan total seluruh negara dari globalisasi perdagangan. Akankah politik isolasi menjadi trend tata dunia baru setelah pandemi Covid-19? Mungkinkah Cina mengambil alih peran besar AS dalam tata dunia baru yang semakin terpicu dengan dampak Covid-19? (Bersambung)

Penulis Adalah Sosiolog dan Guru Besar Universitas Syiah Kuala

Komentar

Loading...