Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Akankah Dunia Kerja Sepenuhnya Berbasis Algoritma ? (III)

Pandemi Terra Incognita: Akankah Dunia Kerja Sepenuhnya Berbasis Algoritma ? (III)
Foto: Ist

Oleh : Ahmad Humam Hamid
 
Dapatkah dbayangkan ada sebuah pusat perakitan mobil terbesar di Indonesia, ditengah puncak pandemi, ketika pemerintah menerapkan pembatasan sosial berskala besar (PSBB) total, dengan ancaman hukum yang keras masih beroperasi? Tidak hanya beroperasi 8 jam kerja sehari, namun bekerja 24 jam setiap hari tanpa libur. Dapatkah kita bayangkan semua pekerjaan itu diperintah dan dikelola dari sebuah tempat yang tidak jauh dari kompleks perakitan itu?Dapatkah kita bayangkan, perakitan  itu tidak mengenal jam istirahat.
 
Mungkinkah ada sebuah kompleks  industri seperti perakitan mobil itu tidak memerlukan serikat buruh, tidak  memerlukan upah minimum regional, namun setiap pekerjanya harus membayar pajak kepada pemerintah? Dapatkah kita bayangkan akan ada sebuah situasi, dimana peringatan hari buruh nyaris tidak relevan, dan demostrasi buruh meminta kenaikan upah menjadi pertunjukan aneh. Selanjutnya bagaimana jadinya ketika pemilihan umum suara buruh tidak masuk lagi dalam dafar inti kelompok pemilih yang menjadi target politisi?
 
Jawaban terhadap semua pertanyaan itu, bukanlah kata mungkin. Jawabannya adalah ya, dan itu sudah dan sedang terjadi, dan bahkan akan terjadi secara lebih cepat dan meluas dari yang seharusnya terjadi. Sekalipun skenario awal hal itu akan terjadi dalam waktu yang relatif tidak terlalu cepat, akan tetapi pandemi telah memaksa pembuat dan pengguna alat yang tidak memerlukan manusia itu mempercepat kehadiran makhluk itu.
 
Ide dasar Abu Musa Alkhwarizmi, algoritma,  kini telah dapat digunakan untuk menciptakan manusia buatan yang dalam banyak hal, dapat menggantikan manusia. Sekalipun kata robot telah jamak disebutkan dalam masyarakat kita, dan dianalogikan sebagai makkluk hidup yang mati, tak berperasaan, kasar, dan kurang teliti, dalam kenyataannya tidak persis sama seperti itu. Dalam beberapa hal robot bahkan lebih baik dan hebat dari manusia.
 
Robot yang dalam banyak hal diasosikan sebagai benda tak “berotak”, dalam kenyataannya hari ini menjadi lain. Robot yang dalam banyak hal dianggap hanya berurusan dengan pekerjaan manual, kini telah mulai berekspansi dengan pekerjaan yang lebih memerlukan kognitif. Robot yang oleh pembuatnya telah ditempelkan otak, kini telah semakin bisa berpikir, walaupun masih dikontrol oleh manusia.
 
Sebenarnya semua yang menyangkut dengan revolusi digital 4.0 itu jauh telah berkembang sebelum pandemi Covid-19. Akan tetapi sang virus itu telah mengacaukan kehidupan manusia dengan kapasitas tak terbatas, dan tak terhingga. Hal inilah yang kemudian dicari jawabannya, dan sebagian besar jawabannya itu diberikan oleh revolusi ini.  Namun pandemi telah berperan menjadi super katalis yang mempercepat semuanya.
 
Rancangan pabrik, seperti pusat perakitan otomotif, sebelum pandemi sudah berkembang, walaupun belum diterapkan secara penuh dan meluas. Kini apa yang disebut dengan smart factory atau smart manufacturing, yakni pabrik cerdas untuk berbagai produk itu akan dibangun besar-besaran di seluruh dunia. Pabrik itu akan sepenuhnya bekerja dengan kecerdasaan buatan, robot, big data, dan internet of things, yang membuat mandiri, dengan kemampuan koreksi yang akurat.
 
Ditengah-tengah ketidakpastian pandemi, terutama dengan kasus gelombang kedua dan mungkin  ketiga Covid-19, adopsi “pabrik pintar” tidak hanya penting, namun juga strategis dalam jangka panjang, hanya ketika pandemi telah teratasi sekalipun. Semua pekerjaan manual, terutama yang kasar, kotor, berat, dan memerluan akurasi akan dikerjakan oleh robot. Sebagian pekerjaan dengan otak kecerdasan buatan yang dicangkokkan oleh manusia.
 
Konsep smart factory bagi pemilik modal juga akan diuntungkan oleh hilangnya sejumlah kendala dibandingkan dengan situasi dimana pekerjaan pabrik dilakukan oleh manusia. Kejadian pabrik rusak yang membuat pabrik tidak bisa bekerja, yang di dalam istilah kerja industri disebut dengan down time tidak ada lagi. Pabrik cerdas otonom juga mempunyai kecepatan yang konstan, tidak berubah-ubah. Karena tidak ada down time, maka yang ada adalah uptime, atau durasi kerja tanpa interupsi. Selanjutnya pabrik cerdas juga memiliki siklus produksi yang stabil dan pasti, dan yang paling menguntungkan pabrik juga terbebas dari menghasilkan produk yang cacat, kurang sempurna atau rusak.
 
JIka pabrik dan industri telah memberikan ilustrasi tentang bagaimana tenaga manusia di depak dan dikeluarkan dari dunia kerja oleh robot, kini bagaimana pula dengan sektor jasa, seperti Rumah Sakit? Industri jasa kesehatan seperti Rumah Sakit juga tidak bisa terlepas dari  revolusi industri 4.0, dan Covid-19 juga telah mendorong adopsi kecanggihan tehnologi digital itu  dalam kinerja pelayanan kesehatan.
 
Serangan pandemi  yang dimulai di Cina telah mempercepat  Rumah Sakit di negeri tirai bambu itu menyerahkan seluruh urusan kebersihan Rumah Sakit dikerjakan oleh robot. Tidak berhenti disitu, pekerjaan melayani pasien yang normal dikerjakan oleh tenaga perawat manusia, kini dalam situasi “normal baru” telah digantikan oleh robot. Prinsip yang digunakan dalam pergantian tenaga kerja itu adalah pekerjaan biasa manual dan juga sedikit pekerjaan otak.
 
Tanpa harus ke Cina, di Indonesia pun kini telah diterapkan perawat khusus yang menangani pasien Covid-19. Rumah Sakit Petamina di Surabaya kini telah memperkerjakan  sang robot, dan tentunya manfaat yang paling langsung adalah melindungi pekerja kesehatan dari paparan virus Covid-19. Robot yang ada di RS Pertamina itu berbeda secara kategori, yakni yang mengantarkan makanan dan obat kepada pasien. Bayangkan saja sang robot akan membawa makanan tepat pada waktunya, mengantarkan makanan yan berbeda untuk pasien yang berbeda, dan mengantarkan obat dan dosisnya secara tepat waktu.
 
Kategori satu lagi adalah robot yang melayani konsultasi dengan pasien. Sang robot akan menjawab pertanyaan pasien tentang keadaan terakhir kesehatan pasien, kapan ke luar dari rumah sakit dan lain sebagainya. Bayangkan juga akan ada diskusi panjang dengan pasien yang akan dijawab oleh robot secara cerdas, karena sang robot tersambung kedalam sebuah ekosistem besar digital dengan berbagai komponen, temasuk kecerdasan buatan.
 
Ilustrasi robot, dan  kecerdasan buatan pada pabrik cerdas, dan rumah sakit cerdas hanyalah noktah kecil dari sebuah perobahan besar revolusi algoritma yang kecepatan perkembangannya semakin menjadi jadi setelah Covid-19 bekembang dan menjalar di seluruh dunia. Pandemi itu telah mendikte percepatan sebuah revolusi menjadi super revolusi industri 4.0 yang akan menghasilkan disrupsi yang luar biasa dalam kehidupan manusia.
 
Perkiraan sementara untuk Indonesia jika revolusi industri 4.0 bekerja secara penuh, maka 51.4 juta, 51,8 persen penduduk Indonesia akan kehilangan pekerjaannya (Menristek 2020). Sektor atau subsektor yang diperkirakan pengalihan pekerjaan dari manusia ke otomatisasi, kecerdasan buatan, dan  robotik adalah manufacturing 65 persen, transportasi dan pergudangan 64 persen, perdagangan eceran 53 persen, pertanian 49 persen, dan konstruksi 45 persen.
 
Percepatan otomatisasi, robotik dan kecerdasan buatan juga akan mengambil alih pekerjaan awam biasa yang dikerjakan sepenuhnya oleh manusia yang tidak memerlukan kognitif hebat. Secara lebih spesifik, sederet pekerjaan yang akan dimangsa oleh berbagai perangkat berbasis algoritma itu adalah  nelayan, pekerja pabrik, operator mesin las dan pematerian, salesman, pedagang eceran, kasir, petugas tiket, pekerja konstruksi, pandai besi, karyawan adminstrasi level rendah, petugas gudang, dan berbagai pekerjaan manual lainnya.
 
Deretan panjang pekerjaan yang akan diambil alih bebagai instrument digital itu  seharusnya tidak akan terjadi secara cepat, dan bahkan akan memakan waktu yang relatif lama. Pandemi Covid-19 telah membuat percepatan kehadiran perangkat itu, dan itu adalah ancaman lain yang juga mungkin hampir sama seriusnya dengan Covid-19.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...