Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Akankah Dunia Kerja Sepenuhnya Berbasis Algoritma? (II)

Pandemi Terra Incognita: Akankah Dunia Kerja Sepenuhnya Berbasis Algoritma? (II)
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Salah satu fenomena baru dunia kerja pasca Covid-19 adalah semakin dominannya kehadiran tehnologi, khususnya tehnologi informasi. Alasannya sangat sederhana, semakin sedikit pekerjaan manual yang  memerlukan tenaga manusia, dan akan semakin banyak pula pekerjaan yang memerlukan otak dan pikiran akan digantikan oleh perangkat kecerdasan buatan yang terus menerus diteliti, disempurnakan, dan diproduksi oleh berbagai perusahaan di berbagai negara.
 
Sebenarnya Covid-19 bukanlah penyebab utama dari hadirnya berbagai perangkat digital dalam dunia kerja. Perobahan dramatis akibat hadirnya Covid-19 secara global telah mempercepat pekerjaan barbasis digital diterapkan di sektor publik dan sektor swasta dimana-mana. Skenario yang seharusnya tentang situasi dunia kerja seperti hari ini yang diproyeksikan akan terjadi dalam waktu empat atau lima tahun mendatang, telah dipaksa oleh Covid-19 untuk aborsi, hanya menjadi  antara empat sampai delapan minggu.
 
Dalam waktu singkat ratusan aplikasi baru tentang pekerjaan telah diciptakan. Aplikasi Zoom yang hari ini dipakai oleh 300  juta pengguna setiap hari adalah perusahaan kecil yang dilihat sebelah mata sebelum Covid-19. Ini adalah sebuah aplikasi teleconference yang sangat fleksibel untuk rapat, kuliah, seminar, dan berbagai petemuan lainnya, termasuk bercinta. Film serial Emily in Paris yang ditayangkan oleh jaringan TV kabel Netflix misalnya memperlihatkan, Emily gadis AS yang bekerja di Paris bermesraan dengan pacarnya di AS melalui layar tablet sebelum tidur malam.
 
Bayangkan saja, aplikasi  ini awalnya hanya kreasi iseng Eric Yuan, pria Cina pencinta digital berbangsa AS yang dirancang untuk berkomunikasi dengan pacarnya pada tahun 2012. Aplikasi ini kemudian berkembang lambat dengan rancangan sangat sederhana namun kompatibel dengan berbagai platform seperti  IOS, Linux, Window, Mac, dan Android. Aplikasi Zoom yang merangkak lambat dan kecil di kalangan korporasi digital, setelah Covid-19 berbiak global, mendadak besar, menggelembung, dan membuat Eric Yuan segera masuk menjadi 400 milyarder kaya dunia versi Bloomberg.
 
Perusahaan Zoom Technologies yang sahamnya dimilki oleh Eric sekitar 22 persen kini mempunyai nilai sekitar 35 milyar dolar. Dalam tahun 2020 yang belum habis ini, ketika banyak perusahaan AS bangkrut, perusahaan ini naik berlipat nilainya sekitar 400 persen, dan itu semata-mata terjadi karena makhluk halus Covid-19. Ukuran kemajuan dan capaian kekayaan, dan jumlah pengguna aplikasi Zoom perlu diperhatikan, karena ini adalah noktah kecil, namun sangat signifikan pengaruhnya dalam dunia kerja dan interaksi manusia. Ini adalah representasi pelatuk yang sedang mengaduk  samudra peradaban yang sedang menuju ke sebuah horizon baru yang masih belum permanen, masih dalam wilayah terra incognita.
 
Aplikasi zoom kini tidak sendiri merajalela, masih ada lagi perusahaan lain yang sudah beredar dn sedang mencari pasar baru yang sedang terbuka lebar, bahkan akan terus melebar dihari-hari yang akan datang. Paling kurang ada 8 perusahan besar yang berspesies sama dengan zoom yang kini menjadi petarung, mulai dari perusahaan raksasa Google Meet sampai kepada raksasa lain Microsoft Slack yang dimiliki oleh milyarder kondang Bill Gate. Selebihnya ada Cisco Webex, Skype Meet Now, Hangouts, StarLaef, Jitsi Meet, dan Wherebay. Tidak terhitung pula berapa banyak start up yang sedang mengadu nasib dalam bidang yang sama seperti para raksasa itu.
 
Kenapa perlu kita menyebutkan jumlah perusahaan besar yang terlibat, jumlah pertambahan kekayaan yang mereka dapatkan, jumlah strat up yang sedang tumbuh, jumlah pendapatan dan kekayaan berbagai perusahan aplikasi itu.  Revolusi informasi atau revolusi digital yang dimulai 60 tahun yang lalu, mulai dengan merangkak perlahan pada tahun enampuluhan, bergerak agak cepat pada tahun tujuhpuluhan, dan sedikit lebih cepat pada tahun delapan puluhan.
 
Generasi kuliah tahun delapan puluhan tentu ingat software menulis, Wordstar, dilanjutkan dengan, IBM PC,  komputer grafik Aple, temuan internet dan email, Window 95, dan HTML. Revolusi digital mulai menciptakan arus ketika mesin pencari Yahoo mulai menghubungkan manusia keseluruh dunia, namun segera diambil alih Google, MicrosoftOn lIne, dan lain-lain. Kehadiran Youtube, Face book dan lain sebagainya terus berbiak . Berbagai aplikasi telah tumbuh beranak pinak dan sekarang sedang menuju kepada aplikasi kecerdasan buatan untuk menggantikan manusia.
 
Sejarawan kondang Yahudi Yuval Noah Harari telah memberi signal awal revolusi algoritma sedang begabung dengan revolusi bioteknologi dan akan menjungkirbalikkan tidak hanya kerja, cara hidup, namun akan merasuk kedalam cara manusia berfikir, berfilsafat, dan bahkan beragama.  Sebagai pebandingan, salah satu output dari revolusi industri adalah lahirnya komunisme yang diprakarsai oleh Karl Marx pada abad ke 19 yang melihat ketidakadilan dan penindasan kapitalisme terhadap pekerja. Faham itu kemudian berkembang semenjak itu ke seluruh dunia.
 
Revolusi dan perang terjadi dimana-mana dengan lawan utama adalah penjajahan dan penindasan terhadap kekuatan kapitalis, dunia usaha, yang bergabung dengan imperialis, negara penjajah. Banyak orang lupa ada sejarah penting revolusi industri dan kehadiran kapitalime moderen yang merobah prinsip dunia usaha, cara dan metode kerja, dan prinsip investasi, laba dan rugi. Semua itu dimulai dari sejarah panjang pandemi black death pada ujung abad ke 14 , berkembang pada abad ke 15, untuk seterusnya menjadi epidemi, dan endemi selama beabad-abad . Pandemi black-death yang beranak pinak dan menyebabkan  mati nya puluhan juta populasi di benua Eropah tak penah tergantikan secara penuh sampai abad ke 17.
 
Hancurnya demografi pedesaan merobah hubungan kerja akibat ketiadaan buruh di pedesaan Eropah, upah mahal, dan untuk pertama kalinya masuknya perempuan dalam dunia kerja. Kekurangan tenaga kerja manual akhirnya melahirkan mesin uap dan mulai menggantikan tenaga manual manusia.  
 
Para pedagang yang awalnya berurusan dengan jual beli, semenjak itu beralih menjadi investor dalam berbagai bidang, sebuah keadaan yang menandai kelahiran revolusi industri dan kapitalisme moderen. Dengan kehadiran industri para kapitalis tidak pernah berhenti siang malam berpikir pada efisiensi, terutama dalam kitannya dengan pekerjaan yang dilakukan oleh manusia.
 
Pembelajar filsafat muda yang bernama Karl Marx melihat ada ketidakadilan dan penindasan dari kapitalsime, dan akhirnya memutuskan penindasan itu mesti dilawan dengan mengajukan tesis komunisme, dengan impian memerdekan pekerja dari kapitalisme sang penindas. Tesis itu kemudian menjadi ideologi dan menyebar seperti Covid-19 hariini,  awalnya di Eropah, kemudian ke seluruh tanah jajahan di Asia, Afrika, dan Amerika Latin.
 
Peringatan terhadap perobahan peradaban  diberikan dalam Homodeus,  (2018), sebuah buku yang ditulis oleh Harari, yang  menjelaskan perobahan kehidupan manusia  yang kini berlangsung dengan sangat cepat, dan bahkan ada sebagian yang berupaya menuju untuk menggangalkan posisi Tuhan dalam kehidupan. Kalau perkembangan tehnologi pada tahun sebelum tahun 2000 telah memberi dampak yang luar biasa kepada kehidupan manusia pada 20 tahun pertama abad ke 21, maka dunia yang bagaimana yang akan terjadi dan akan  dialami oleh anak cucu kita dalam tempo sepuluh atau duapuluh tahun yang akan datang. Kecepatan itu semakin bertambah dengan kehadiran pandemi Covid-19.
 
Dunia kerja ke depan tidak hanya menjadi terra incognita tentang pekerjaan, tappi juga akan beranak pinak dengan peradaban, filsafat, dan bahkan mungkin ideologi. Apakah PKI  dan sejumlah pemberontakannya akan ada di Indonesia, kalau Karl Marx tidak mengajukan ideologi alternatif komunisme yang dipeluk oleh Alimin, Muso,  Tan Malaka, dan Aidit? Apakah Karl Marx mampu menulis Communist Manifesto pada tahun 1884, tanpa melihat realitas penindasan pada masa revolusi industri di Eropah pada abad ke 18. Bagaimana kapitalisme dan revolusi industri bisa lahir, seadainya tidak ada black death pada ujung abad ke 14.
 
Kehidupan dan peradaban  memang kompleks. Pandemi rupanya menjadi salah satu pemicu besar perobah peradaban. Dan kini layaknya revolusi industri yang merubah dunia kerja abad ke 18 akibat jangka panjang black death, pandemi Covid-19 telah bekontribusi mempercepat revolusi digital dan dunia kerja manusia kedepan. Kita tidak tahu dengan pasti bagaimana keadaan dunia kerja sepuluh tahun atau duapuluh tahun yang akan datang. Ibarat kata ahli georafi Roma pra Masehi Plotemus, mungkin wilayah itu diketahui bujur dan lintangnya, tetapi tak diketahu dengan lengkap landskap dan rupanya. Itulah terra incognita.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...