Unduh Aplikasi

Pandemi Terra Incognita: Akankah Dunia Kerja  Sepenuhnya Berbasis Algoritma ? (I)

Pandemi Terra Incognita: Akankah Dunia Kerja  Sepenuhnya Berbasis Algoritma ? (I)
Ahmad Humam Hamid

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Ketika ahli matamatika Islam, Muḥammad bin Mūsā Al-Khawārizmī menulis kitab, Al-mukhtasar fi hisab al-jabr wa’l-muqabala, pada tahun 830 M, ia mungkin tidak pernah membayangkan, karyanya itu akan mejadi tonggak besar sejarah peradaban yang tak pernah berhenti mengalir sepanjang masa. Kitab itu adalah rangkaian sintesis matematika kuno, perpaduan dari India dan Yunani yang memberi landasan kepadanya untuk membuat sebuah dasar dari matematika moderen, yang kemudian terkenal dengan nama aljabar.
 
Setelah ilmunya diserap dunia barat dan dikembangkan dalam berbagai bentuk matematika terapan, pada abad ke 20 nama Alkhawarizmi menjadi sangat penting karena namanya telah melekat pada sebuah teknologi loncatan peradaban. Kalau hari ini dunia mengenal teknologi informasi, akrabnya dunia digital, itu adalah nama yang melekat dengan Alkhawarizmi. Tidak ada kata perangkat lunak komputer yang tidak berurusan dengan kata digital dan algoritma, dan kedua kata itu adalah  nama Alkhawarizmi yang diEropahkan.
 
Istilah algoritma bermula dari kata algorismi, sebuah kata latin sebutan tentang metode otomotis yang ditabalkan kepada nama pemiliknya Alkhawarizmi, kata Arab yang sangat sukar diucapkan dalam bahasa latin. Kata itulah yang kemudian diserap kedalam bahasa Inggris menjadi algorithm. Kata digit atau atau deretan angka yang didalam  bahasa Portugis disebut dengan algarismo juga mengambil nama Alkhawarizmi.
 
Seluruh pekerjaan komputasi yang berurusan dengan revolusi digital ini yang terjadi pada abad ke 19 dan 20 berurusan dengan prinsip-prinsip Alkhwarizmi-baca algoritma yang telah membuat capaian peradaban yang luar biasa dalam sejarah manusia. 

Algoritma telah membuat Bill Gates, Marck Zuckenberg, mendiang Steve Jobs, Lary Page, Lary Olison,  dan cukup banyak yang lain menjadi pendikte sejarah. Mereka menciptakan berbagai perangkat lunak komputer yang memudahkan manusia bekerja, dari membaca, menulis, memprediksi, berdagang, mencari pasangan, bergosip ria, menyebarkan kebaikan dan kebencian, sampai dengan berperang sekalipun.
 
Logika algoritma telah membuat para pemuka teknologi informasi bergabung ke dalam kelompok  papan atas milyarder dunia hanya dalam rentang waktu kurang dari 20 tahun. Selama rentang waktu itu, logika yang diambil oleh Jeff Bezos (1994) dengan toko online Amazonnya dan  Jack Ma (1999), dengan Ali Babanya, telah membuat  perdagangan internasional, dan bahkan perdagangan retail global bergoncang, karena kecuali aplikasi, mereka tak perlu pabrik, gudang, dan bahkan toko. Algoritma telah membuat mereka sangat cepat kaya, dan kaya sekali. Hal yang sama juga dikerjakan oleh Travis Klanik dan Garret Camp, 2009, dengan group Uber yang menjadi trend yang diikuti oleh Gojek Nadiem Makarim di Indonesia.
 
Kini hampir tidak ada kehiduapan di dunia ini yang tidak berurusan dengan algoritma, dan kedepan dunia akan menyaksikan perkembangan algoritma yang luar biasa, dan salah satu yang akan menjadi tonggak besar peradaban kehidupan adalah loncatan algoritma dalam urusan dengan pekerjaan manusia. Kejadian pandemi Covid-19, sepertinya telah menjadi “turbo” baru yang seakan mempercepat loncatan kehidupan manusia, membuat hidup tidak akan pernah sama lagi dibandingkan dengan masa pra pandemi.
 
Sebenarnya jauh sebelum pandemi terjadi, telah cukup banyak pemikir dan peneliti memproyeksikan  akan terjadi pergeseran dunia kerja yang perlahan, merambat, dan akhirnya merobah seluruh cara kerja, subjek pekerjaan, dan pekerja itu sendiri. Kemajuan revolusi digital akan memproduksi paling kurang dua hal. Pertama, akan semakin banyak pekerjaan manual yang akan beralih kepada pekerjaan robotik. Kecerdasan buatan yang dciptakan oleh manusia akan membuat sebagian pekerjaan tercabut dari manusia, tepatnya dari pekerja atau buruh.
 
Hal lain akibat revolusi digital, berbagai macam pekerjaan yang seharusnya terikat dengan ruang waktu, secara perlahan akan berobah. Kemajuan digital telah membuat waktu dan ruang menjadi tidak penting.  Semua orang bisa bekerja dimana saja, dan mungkin kapan saja, sejauh ada produk yang dihasilkan. Hal itu telah terjadi, jauh sebelum pandemi Covid-19 muncul dan menimbulkan fenomena goncangan besar terhadap seluruh aspek kehidupan, terutama kerja, pekerjaan, dan dunia kerja.
 
Teleconfrence  dan outsourcing pekerjaan koginitif sudah terjadi lebih dari satu dekade yang lalu. Ingat saja betapa banyak percakapan kepala negara dengan gubernur atau kepala daerah beberapa waktu yang lalu. Ingat juga dengan universitas terbuka, kursus online, jual beli online, tiket pesawat dan hotel online, dan lain sebagainya.
 
Kejadian yang agak kolosal dan mencolok terjadi sekitar 10  tahun yang lalu ketika pekerjaan akuntan dan adminsitrasi distribusi dan pergudangan AS dialihkan kepada pekerja di India yang upahnya jauh lebih murah dari pekerja AS. Ketika di AS tutup kantor pada sore hari, file pekerjaan itu dikirim ke India yang baru saja akan terbit mataharinya, untuk kemudian dikerjakan.
 
Begitu matahari terbenam di India, file pekerjaan yang telah selesai itu dikirim kembali ke AS yang sudah mulai pagi hari untuk dilanjutkan lagi pada fase berikutnya. Pekerjaan itu melibatkan puluhan dan bahkan mungkin ratusan ribu pekerjaan, tidak hanya antara India dan AS, akan tetapi juga terjadi antar negara di  berbagai tempat di dunia.
 
Sebenarnya apa yang disebut dengan istilah WFH,-work from home, kerja di rumah, baik pada perusahaan, maupun pada kantor pemerintah sudah mulai terjadi dalam tahun-tahun terakhir ini, terutama di negara-negara maju. Kajian organisasi buruh dunia (ILO ,2020) melaporkan sebelum pandemi terjadi, sekitar 260 juta pekerja-7,9 persen  diseluruh dunia sudah bekerja di rumah baik yang berbasis digital, maupun yang non digital. Pekerja tidak berhubungan dengan atau sedikit berhubungan dengan digital, umumnya adalah pengrajin, pekerja mandiri, dan pekerja free lance. Pada tataran global, hanya 2,9 persen  yang beverja di rumah yang tehubung dengan koneksi digital sebelum Covid-19.
 
Setelah terjadinya pandemi pada tahun 2020 yang sedang berjalan ini keadaannya menjadi berbeda dan telah menunjukkan angka yang sangat  kontras. Berbagai penelitian menunjukkan sekitar 34 persen pekerja AS tidak lagi bekerja di kantor (Dingel dan Neiman 2020). Sementara itu di berbagai negara Eropah angka karyawan yang bekerja tidak lagi dikantor, dan menggunakan koneksi digital  adalah; Italia, 28 persen, Jerman, 29 persen, Perancis, 28 persen, Spanyol, 25 persen, dan Inggris dan Swedia, 31 persen ( Boeri  dkk, 2020). Di kawasan Amerika latin seperti di Argentina, jumlah karyawan yang bekerja di rumah adalah Argentina, antara 26-29 persen, dan Uruguay, antara 20-34 persen(Guntin 2020).
 
Proyeksi yang dibuat oleh ILO, (2020) sekitar 18 persen karyawan pada tataran global, terutama yang tinggal di negara yang mempunyai infrastruktur konektivitas digital akan bekerja di rumah. Angka itu tentu saja bervariasi dengan tingkat kemajuan negara masing-masing. Karyawan negara maju mungkin berada pada angka disekitar 27 persen, sementara negara dengan pendapatan rendah di perkirakan sekitar 13 persen.  Negara-negara yang termasuk dengan kelompok pendapatan menengah atas mempunyai karyawan yang bekerja di rumah sekitar 17 persen.
 
Logika perbedaan angka karyawan antara negara dengan hirarkhi pendapatan sangat mudah dimengerti. Semakin maju negara, akan semakin banyak pekerjaan kognitif yang tidak memerlukan kehadiran fisik ke tempat yang ditentukan, sementara semakin rendah kemajuan ekonomi, semakin banyak pula pekerjaan yang membutuhkan kehadiran fisik, karena yang dibutuhkan adalah pekerjaan manual yang tidak mungkin dikerjakan di rumah.
 
Sekalipun belum ada data konklusif tentang prosentase karyawan yang bekerja di rumah di sejumlah negara ASEAN, survey awal terhadap kelanjutan kerja di rumah mereka cukup  signifikan. Survey yang dibuat oleh YouGovSurvey (2020) menemukan dua negara ASEAN  mempunyai potensi tertinggi untuk terus bekerja di rumah, Singapore,55 persen, dan Filipina 44 persen. Walaupun angka itu belum tetap, yang pasti karyawan di kedua negara itu, sekalipun keadaan sudah membaik, mereka tak akan secepatnya kembali bekerja di kantor. Tidak hanya di kedua negara itu, karyawan yang bekerja di rumah dinegara ASEAN lainnya juga serupa, namun dengan prosentase yang berbeda, Negara-negara itu adalah Malaysia, 29 persen, Indonesia, 23 persen, dan Vietnam, 23 persen.
 
Pada tahun 2018, ketika buku 21st Lessons for 21st Century,  ditulis sejarawan dan filosof kondang, Yuval Noah Harari belum memasukoan variabel pandemi Covid-19 memprediksikan  tentang perobahan besar kerja, pekerja, dan dunia kerja dalam 50 tahun mendatang. Ia meramalkan pada tahun 2050 akan terjadi sebuah keadaan yang sama sekali berbeda total dengan saat ini, ketika hampir semua pekerjaan akan diambil alih oleh berbagai perangkat yang menggunakan prinsip algoritma.
 
Tidak hanya pekerjaan manual, akan tetapi juga pekerjaan kognitif akan beralih kepada perangkat yang diatur oleh prinsip algoritma. Lebih dari itu, seorang pekerja tidak akan lagi terikat dengan waktu dan ruang, dan kerja dirumah, kerja di tempat terpencil, dan kantor dalam tas adalah menjadi suatu pemandangan biasa.
 
Kini, setelah Covid-19 datang, prediksi Harari tampaknya akan meleset, dan mungkin akan terjadi dengan lebih cepat, dan bahkan akan sangat cepat. Pandemi telah dan akan menjadi katalis prinsip yang ditemukan oleh Alkhwarizmi  menjadi loncatan peradaban  yang luar biasa.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh 

Komentar

Loading...