Unduh Aplikasi

Pandemi, Pembelajaran Digital dan Ancaman Moralitas

Pandemi, Pembelajaran Digital dan Ancaman Moralitas
Foto: Ist

Oleh: Nelliani, M.Pd

Di saat energi bangsa tercurah mengatasi pandemic, kita dihadapkan pada persoalan moralitas yang mengancam generasi penerus bangsa. Sebagaimana diwartakan dari laman ajnn.net/01/09/2020, virus game judi online kembali mewabah di Aceh. Menurut Direktur Eksekutif Masyarakat Informasi dan Teknologi (MIT) Aceh, Teuku Farhan. Permainan game judi online ini makin marak dan digemari oleh anak-anak sampai orang dewasa. Sementara pemerintah dan pemilik warung membiarkan saja judi dalam genggaman anak-anak muda tersebut.

Game judi online asal China ini sangat cepat popular di kalangan pengguna HP Android. Game ini sangat mudah dimainkan sehingga membuat penggunanya mudah sekali kecanduan. Ibarat virus, game ini berdampak buruk bagi penggunanya, mulai dari memburuknya kesehatan, menyebabkan gangguan kejiwaan, dampak finansial sampai menyerang masalah akidah.

Fenomena kecanduan game online menambah daftar panjang persoalan moralitas dikalangan remaja dan pelajar selama pandemic corona. Bila dicermati, ada beberapa faktor yang menjadi penyebabnya. Pemberlakuan sistem pembelajaran jarak jauh berakibat terbatasnya ruang gerak dan interaksi guru dengan siswa. Selain itu, penggunaan perangkat digital sebagai media pembelajaran dalam waktu lama tidak menjamin peserta didik aman dari paparan konten negatif. Demikian pula, lemahnya kontrol orang tua dan keluarga membuat mereka mudah terlibat dalam segala macam perilaku amoral.

Sebagaimana kita ketahui, sejak virus corona menerjang Indonesia terhitung sudah enam bulan program belajar dari rumah dilaksanakan. Aktivitas belajar mengajar beralih dari tatap muka ke interaksi di kelas-kelas digital. Hal tersebut menyebabkan pengurangan layanan pendidikan dari guru ke siswa. Guru tidak leluasa mengedukasi siswa dalam membimbing, mendidik, mengarahkan maupun memotivasi. Selain itu sistem pembelajaran online menambah jauhnya pengawasan terhadap peserta didik yang sangat membutuhkan perhatian. Guru tidak bisa langsung memantau perilaku siswa. Bagi peserta didik yang “bermasalah”  berkonsultasi secara daring bukan merupakan solusi yang tepat.

Meskipun secara formal kegiatan pendidikan masih bisa dilaksanakan secara online, namun pendidikan moral peserta didik selama pandemic sedikit terabaikan. Selama pembelajaran virtual intensitas perjumpaan guru dan siswa berkurang dan komunikasi hanya dilakukan lewat dunia maya. Kedekatan batin yang terjalin melalui bimbingan, arahan, dan tauladan antara siswa dan guru tidak berjalan baik. Peserta didik seperti kehilangan figur yang digugu dan ditiru. Kondisi tersebut membawa kekosongan dalam diri siswa terhadap nilai-nilai pendidikan moral dan karakter.

Selain itu, pembelajaran jarak jauh mensyaratkan penggunaan perangkat teknologi digital sebagai media pembelajaran. Interaksi virtual dalam waktu lama secara tidak langsung membentuk ketergantungan dan kecenderungan siswa terhadap media tersebut. Terlebih lagi dunia digital dengan segala kebebasannya menawarkan berbagai fasilitas, kemudahan serta konten-konten menarik yang membuat siswa betah berlama-lama. Jika sudah demikian bukan tidak mungkin media online sebagai salah satu pintu masuk penyebab menurunnya moralitas generasi muda khususnya pelajar.

Sistem pembelajaran online disatu sisi menjadi solusi pada masa pandemic.  Namun di sisi lain sejumlah dampak buruk juga mengintai.  Pada masa normal, siswa menghabiskan waktunya di sekolah dengan berbagai kegiatan edukatif. Ruang interaksi sosial terbuka sehingga mereka dapat berkreasi menyalurkan energinya. Keterlibatan dalam berbagai aktivitas fisik dan sosial membantu siswa mengasah kecerdasan berpikirnya, meningkatkan kesehatan mental (mengurangi depresi, kecemasan dan stress) dan menjadi ajang menyalurkan hoby dan bakat.

Tetapi selama belajar dari rumah, sebagian peserta didik memanfaatkan masa “libur panjang” tersebut untuk hal yang tidak produktif. Pembatasan aktivitas dan ruang gerak juga berdampak bagi psikologis mereka. Tidak sedikit peserta didik mengeluh jenuh dan bosan, sulit berkonsentrasi, kesepian, cemas, stress berlebihan dan emosi yang labil karena sulit beradaptasi dengan kondisi selama pandemic. Hal tersebut menjadi alasan bagi siswa menghabiskan waktu dengan media digital. Maka kita sering mendapatkan anak- anak dan pelajar larut dengan permainan game online, media sosial, dan gadgetnya. Demikian juga pergaulan bebas (berpacaran), penggunaan narkoba, judi online semakin marak saja di era pandemic ini.

Masa remaja merupakan masa pencarian identitas dimana setiap pribadi memiliki rasa penasaran dan keingintahuan yang tinggi. Apalagi didukung dengan tersedianya fasilitas smartphone dan internet sebagai medianya. Siapa yang mampu menjamin mereka “aman” dari paparan konten-konten negatif. Tidak sedikit para pelajar memanfaatkan internet untuk hal yang tidak sewajarnya. Rasa penasaran yang sulit dibendung menggiring mereka mengakses situs-situs berbau pornografi, menyaksikan video dan gambar-gambar yang tidak normatif bahkan ikut menyebarluaskan bagi pengguna internet lainnya.

Sepanjang pandemic ini, kasus pergaulan bebas maupun kekerasan seksual cukup menyita perhatian masyarakat. Public tentu masih mengingat kasus sepasang remaja yang berstatus pelajar di Aceh Tamiang digerebek warga karena tidur dalam satu kamar. Belum lagi selesai dengan itu, kita dikagetkan berita seorang remaja asal Kluet Tengah, ditangkap Polres Aceh Selatan karena menyebarkan foto vulgar mantan pacar. (ajnn.net, 05/06/2020). Ditangerang, seorang remaja OR (16) meninggal karena diperkosa bergilir oleh 8 orang berawal dari kenalan di facebook. (merdeka.com/24/06/2020). Yang lebih memiriskan adalah kasus penangkapan 37 pasangan siswa SMP di sebuah hotel di Jambi karena diduga hendak melakukan pesta seks.(tribunnews.com/10/07/2020). Belum lagi kasus yang tidak mencuat di media seperti kecanduan game online dan penggunaan narkoba yang makin marak di kalangan anak-anak dan pelajar.

Kasus-kasus tersebut mengungkap fakta betapa merosotnya moral remaja yang notabene adalah generasi penerus bangsa. Dan yang lebih mengkhawatirkan pandemic menjadi sebab dimana mereka harus senantiasa terhubung dengan perangkat digital. Pendidikan moral yang sangat mereka butuhkan terpaksa tertunda karena sekolah ditutup dan tempat-tempat pengajian dilarang buka. Mirisnya lagi, perhatian dan kepedulian pemerintah menangani ancaman moralitas ini tidak “seserius” penanganan terhadap covid-19 itu sendiri.

Maraknya perilaku amoral dikalangan remaja dan pelajar tidak terlepas dari lemahnya kontrol orang tua. Sikap terlalu permisif kepada anak tanpa dibarengi dengan aturan dan pengawasan yang bijak merupakan kekeliruan. Misalnya, orang tua mudah memberikan gadget dan berbagai fasilitas lain kepada anak tetapi abai dalam mengontrol penggunaannya. Selain itu, peran orang tua dalam memberikan pendidikan agama belum sepenuhnya dilakukan. Demikian pula, minimnya perhatian orang tua tentang penanaman nilai-nilai moral dan karakter. Anehnya lagi, ada sebagian  orang tua merasa tidak cukup waktu menciptakan bonding bersama putra putrinya.

Mencermati fenomena yang ada, ketegasan pemerintah sangat dibutuhkan mengatasi problematika moralitas ini. Pemberlakuan sensor terhadap konten-konten negatif harus lebih dikuatkan termasuk ketegasan hukum bagi yang melakukan pelanggaran. Pemerintah memiliki otoritas menutup dan memblokir semua situs dan konten negatif yang berpotensi merusak moral anak bangsa. Muatan kurikulum pendidikan sebaiknya lebih diprioritaskan pada penanaman nilai-nilai spiritual, moral dan karakter. Terlebih dimasa darurat covid-19, dimana peserta didik kehilangan sosok guru yang menjadi role model pembentukan karakternya di sekolah.

 Selanjutnya penguatan peran keluarga dan agama menjadi kuncinya. Keluarga merupakan madrasah pertama bagi anak-anak, tanggung jawab dan kesadaran orang tua sangat penting untuk menanamkan nilai-nilai agama, karena keluarga dan agama merupakan benteng terakhir yang dapat membendung persoalan moral di era digital.

Penulis adalah Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar 

Komentar

Loading...