Unduh Aplikasi

Pandemi dan Peran Generasi Good Looking

Pandemi dan Peran Generasi <i>Good Looking</i>
Nelliani, M.Pd. Foto: Ist

Oleh: Nelliani, M.Pd

Good looking. Istilah yang belakangan ini viral di dunia maya maupun dunia nyata. Berawal dari pernyataan kontroversial Menteri Agama Fachrul Razi saat menjadi pembicara pada webinar bertajuk “Strategi Menangkal Radikalisme Pada Aparatur Sipil Negara” di kanal YouTube Kemenpan RB (2/9/2020). Menurut Menag, paham radikalisme masuk masjid salah satunya melalui anak yang good looking. 

Pada kesempatan tersebut Fachrul Razi mengungkapkan, “Cara masuk radikalisme gampang; pertama dikirimi seorang anak yang good looking, penguasaan bahasa Arabnya bagus, hafiz, mulai masuk jadi imam, lama-lama orang situ bersimpati, diangkat jadi pengurus masjid, kemudian mulai masuk temannya dan lain sebagainya, mulai masuk ide-ide seperti yang kita takutkan”.

Pernyataan Menag tersebut menuai reaksi dan tanggapan dari berbagai pihak. Mulai dari tokoh politik sampai tokoh agama meminta Menag arif membuat penyataan sehingga tidak meresahkan umat Islam. Para tokoh tersebut berpendapat bahwa, stigmatisasi terhadap Islam akan memunculkan banyak persepsi yang mengakibatkan public fobia kepada umat Islam dan ajarannya.

Menurut kamus Inggris- Indonesia karangan John M. Echols dan Hassan Shadily, merujuk pada kata sifat, good looking memiliki arti cantik, tampan, ganteng, bagus dan rupawan. Frasa good looking bila diterjemahkan secara bebas bermakna seseorang yang mempunyai penampilan yang menarik.

Apabila konteksnya diperluas, good looking tidak hanya menggambarkan penampilan jasmani (fisik) saja, seperti, berpakaian rapi, bersih dan menutup aurat. Namun juga menunjukkan kecantikan batiniah (rohani) seseorang, misalnya cerdas, senantiasa menebar kebaikan, berakhlak mulia, jujur dan sebagainya. 

Terlepas dari pernyataan Menag yang kontroversial, sejatinya negara dan bangsa Indonesia mengharapkan lahirnya generasi yang good looking. Hal tersebut merupakan tujuan dari Pendidikan Nasional Indonesia seperti termaktub dalam Undang-undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional.

Sebagaimana bunyi pasal 3 bab II menyebutkan bahwa, tujuan pendidikan nasional adalah untuk mengembangkan potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertakwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, berilmu, kreatif, mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab. Dengan istilah berbeda, tujuan utama pendidikan dapat kita maknai sebagai upaya membentuk peserta didik menjadi pribadi yang good looking dan good attitude (cerdas intelektual, cerdas spiritual serta cerdas secara emosional). 

Dalam bahasa Arab istilah good looking disebut juga qurrata a’yun. Qurrata a’yun secara harfiah diartikan sebagai anak yang menyejukkan pandangan mata. Tidak hanya menyejukkan mata secara lahiriah, namun juga menyejukkan mata batin. Bahkan setiap orang tua senatiasa mendoakan anak-anaknya menjadi qurrata a’yun (penyejuk mata) bagi kedua orang tuanya. Sebagaimana kata Ibnu Abbas Radhiyallahu Anhu, “Qurrata a’yun maksudnya keturunan yang mengerjakan ketaatan, sehingga dengan ketaatannya itu membahagiakan orang tuanya di dunia dan akhirat”. 

Kondisi Indonesia yang dilanda pandemik membutuhkan peran generasi muda yang good looking. Pemuda yang tangguh, sehat, cerdas, mandiri, kreatif dan inovatif, memiliki empati terhadap sesama serta bertakwa kepada Allah SWT. Sebagai sosok muda yang selalu dinamis, penuh energi dan optimis, pemuda harus berperan aktif sebagai kekuatan moral, kontrol sosial, dan agen perubahan yang berkontribusi membantu pemerintah dalam perjuangan menghadapi wabah pandemi corona.

Tidak dapat dipungkiri, seiring merebaknya virus corona, semakin banyak generasi muda terlibat dalam persoalan moralitas. Pergaulan bebas, penyalahgunaan narkoba dan obat-obatan terlarang, pornografi, kecanduan game online, judi online maupun tindak kriminal lainnya mengalami peningkatan selama pandemi.

Beragam faktor turut menyumbang maraknya kasus moralitas dikalangan generasi muda, antara lain krisis ekonomi orang tua yang terdampak corona, kondisi kesehatan yang rentan terhadap ancaman covid-19, pembatasan interaksi sosial, maupun keterbatasan akses pendidikan. Selain itu, kebebasan penggunaan gawai dan internet juga berpotensi menjadi ancaman moralitas di masa pandemi.

Peran Generasi Good Looking

Pada titik ini, peran generasi muda sebagai kekuatan moral dapat diwujudkan dengan menumbuhkembangkan aspek moral spiritual dalam setiap dimensi kepemudaan. Kecerdasan spiritual generasi muda sangat penting untuk menjaga harmonisasi antara kehidupan jasmani yang bersifat materialistic dengan kehidupan rohani yang bersifat spiritualistic. Bekal moral spiritual akan membimbing dan mengarahkan setiap perilaku generasi muda ke arah positif.

Demikian juga, seorang pemuda tidak mudah terlibat dalam hal-hal yang bersifat destruktif, mampu mengelola emosi dan mengendalikan diri, bijak menyikapi setiap tantangan,  serta mampu memberi keteladanan sebagai kaum terpelajar. 

Peranan pemuda sebagai kontrol sosial dapat diimplementasikan dengan memperkuat fungsi pengawasan terhadap hal-hal yang terjadi di sekitarnya. Fungsi pengawasan disini untuk merespon kebijakan- kebijakan pemerintah sehingga sesuai dengan amanat undang-undang dasar yaitu mengutamakan kepentingan dan kesejahteraan rakyat. Apalagi di tengah krisis pandemi corona, dimana masih ada kebijakan-kebijakan pemerintah yang dianggap belum sepenuhnya berpihak kepada rakyat.

Para anak muda good looking dengan daya pikir kritis dan objektifnya diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran, kritik dan saran yang membangun kepada pemerintah untuk kebijakan yang lebih baik. 

Generasi good looking adalah generasi yang mampu mengambil peran sebagai agent of change yang akan memberikan andil besar dalam penanganan pandemi corona. Agent of change merupakan orang-orang yang dapat bertindak sebagai pemicu terjadinya sebuah perubahan.

Dalam hal ini, para pemuda dapat menjadi penggerak terjadinya perubahan yang berdampak positif bagi lingkungan, bangsa dan negara. Karena usia muda adalah masa yang paling optimal dan produktif untuk menciptakan sebuah perubahan. Kaum muda memiliki energi, waktu, idealis, visi misi serta terampil dalam penguasaan teknologi informasi.

Sebagai agent of change banyak hal penting yang dapat dilakukan menghadapi kondisi saat ini. Salah satunya yaitu memberikan informasi yang mencerdaskan, ikut memberantas masifnya penyebaran hoax serta mengedukasi orang-orang di lingkungannya tentang pandemi Covid-19.

Para anak muda juga dapat menjadi penggerak penerapan protokol kesehatan yang baik, seperti disiplin menggunakan masker ketika di keramaian, rutin mencuci tangan serta menerapkan physical distancing. Demikian juga, menjadi penggerak dalam aksi-aksi sosial, misalnya membuka donasi peduli covid-19, ataupun menjadi relawan sebagai bentuk empati sosial bagi masyarakat yang membutuhkan.

Menyadari urgennya peran generasi muda, maka sudah saatnya para kaum muda menggunakan segenap potensinya dalam menjawab setiap tantangan dan peluang. pandemi menjadi momentum untuk bergerak maju, senantiasa optimis dan pantang menyerah, bukan meratapi keterpurukan atau larut dalam aktivitas yang tidak berfaedah. Jadilah generasi good looking yang mampu membawa bangsa ini menjadi bangsa yang maju dan berperadaban. 

Penulis adalah Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar

Komentar

Loading...