Unduh Aplikasi

Pandemi dan Kejenuhan Belajar Daring

Pandemi dan Kejenuhan Belajar Daring
Foto: Ist

Oleh: Nelliani, M.Pd

Pembelajaran jarak jauh (daring) merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang tertuang dalam Surat Edaran Kemdikbud Nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijakan pendidikan dalam masa darurat covid-19. Kebijakan tersebut sebagai upaya menjaga proses pendidikan tidak terhenti meskipun dalam suasana pandemic. Aturan tersebut juga memberi keleluasaan bagi sekolah untuk melaksanakan proses pembelajaran, seperti sekolah dapat menerapkan kurikulum adaptif selama pandemic, tidak adanya target kurikulum, serta penyesuaian penggunaan dana Bantuan Operasional Sekolah untuk mendukung terlaksananya aktivitas belajar mengajar. Kemdikbud juga bekerja sama dengan layanan operator telekomunikasi meluncurkan bantuan belajar kuota gratis bagi guru dan siswa yang dapat digunakan saat pembelajaran online. 

Sejak pandemi menerjang, sudah lebih dari delapan bulan sistem belajar dari rumah dilaksanakan. Disadari atau tidak, lamanya durasi waktu yang digunakan untuk sekolah daring berakibat pada psikologis peserta didik. Salah satu dampak psikologis yang dialami siswa adalah munculnya learning burnout atau kejenuhan belajar. Faktanya, diberbagai kanal media sosial ekspresi kebosanan dan keresahan siswa terkait sekolah daring banyak bertebaran. Hal tersebut juga dikuatkan oleh survey Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak yang menyatakan bahwa, sebanyak 58% anak-anak merasa belajar dari rumah tidak menyenangkan (kemenpppa.go.id). 

Menurut para ahli, kejenuhan belajar merupakan kondisi emosional yang dialami peserta didik ketika merasa lelah, dan jenuh secara mental ataupun fisik sebagai akibat tuntutan pekerjaan atau beban belajar yang meningkat. Timbulnya kelelahan ini karena perasaan bersalah, tidak berdaya, tidak ada harapan, kesedihan yang mendalam yang secara terus-menerus menghasilkan perasaan tidak nyaman yang pada gilirannya meningkatkan rasa kesal, kelelahan fisik, kelelahan mental dan emosional. Pada kasus-kasus tertentu, kejenuhan belajar dapat menyebabkan stress berat dan berpotensi memicu depresi dan usaha bunuh diri. 

Tentu kita masih mengingat kasus bunuh diri siswi SMA yang membuat dunia pendidikan kembali berduka. Sebagaimana diberitakan, ‘Siswa Bunuh Diri di Gowa Diduga karena Tuntutan Belajar Daring”. (mediaindonesia.com/19/10/2020). MI (16), siswi kelas 2 salah satu SMA di Gowa, Sulawesi Selatan nekat mengakhiri hidupnya dengan menenggak cairan berisi racun rumput di rumahnya. Dari hasil penyelidikan sementara, korban diduga depresi karena banyaknya tugas sekolah selama belajar daring. 

Penyebab 

Kejenuhan belajar (learning burnout) merupakan salah satu masalah belajar yang sering dialami peserta didik. Para ahli menyebutkan beragam faktor penyebab kejenuhan belajar pada siswa. Menurut Jacob et al (2003) dalam artikelnya Student Burnout as a Function Personality, Social Support, and Work Load, secara garis besar ada 3 faktor penyebab kejenuhan belajar yaitu karakteristik pribadi, dukungan sosial dan beban akademis. 

Menurut Jacob, faktor pertama yang menyebabkan siswa mengalami kejenuhan belajar adalah karakteristik pribadi. Pengertian karakteristik disini yaitu suatu sifat, kebiasaan atau karakter yang melekat pada pribadi individu. Faktor karakteristik diri ini sangat luas sekali wilayahnya dalam menentukan kejenuhan belajar. Individu yang memiliki konsep diri rendah, terlalu perfeksionis dan idealis, tidak mampu mengendalikan emosi serta kurang terampil dalam mengelola stress akan rentan mengalami kejenuhan belajar. 

Pembelajaran daring dimana sebagian besar aktivitas belajar berada di ruang-ruang digital memiliki ragam keterbatasan. Setiap hari peserta didik harus terserap layar ponsel demi mengikuti proses belajar melalui berbagai aplikasi yang disediakan sekolah. Kelas daring yang minim interaksi, dengan tidak semua guru terampil mendayagunakan teknologi sebagai media belajar kreatif sudah cukup membuat peserta didik jenuh. Bagi siswa perfeksionis dan idealis, akan sangat kecewa, merasa terbebani dan stress bila materi yang disampaikan guru tidak mampu dipahami sehingga membuat tugas akademiknya bertambah-tambah. 

Selain unsur karakteristik pribadi, kejenuhan belajar dapat terjadi karena faktor dukungan sosial. Dalam konteks ini, dukungan sosial berkaitan dengan lingkungan belajar maupun hubungan guru, siswa dan orang tua. Selama sekolah daring, tidak semua anak berada dalam posisi aman dengan lingkungan yang mendukung proses belajarnya. Kondisi keluarga yang penuh konflik dan gaduh, suasana rumah yang berantakan sangat berefek pada psikologis anak dimana mereka sulit berkonsentrasi sehingga berpotensi mengalami kejenuhan belajar.

Di sisi lain, tidak adanya interaksi langsung dengan guru dan teman saat pembelajaran daring juga menjadi pemicu munculnya kejenuhan siswa. Pada kondisi normal, kegiatan diskusi bersama kelompok belajar atau sekedar saling sharing sesama  teman menjadi hal rutin. Bagaimanapun itu merupakan suatu bentuk refreshing dan dukungan belajar yang dapat mengurangi kejenuhan. Namun, semua itu hilang ketika sekolah dijalankan dengan moda daring. Demikian juga, bagi siswa yang mengalami kesulitan belajar, berkomunikasi dan melakukan bimbingan secara daring bukanlah suatu hal yang menyenangkan. 

Belajar dari rumah merupakan sebuah konsep belajar yang dapat membentuk kemandirian peserta didik. Siswa mengelola sendiri waktunya dan bebas menentukan kapan harus belajar sesuai batasan-batasan yang diizinkan guru. Namun, permasalahannya sebagian besar siswa tidak memiliki management waktu yang baik, sehingga belajar yang tidak terjadwal memungkinkan bertambahanya beban tugas yang harus diselesaikan. Selain itu, bagi siswa yang berdomisili di daerah terkendala jaringan, menunggu sinyal bagus dapat membuat tugas-tugas belajarnya menumpuk. Pada akhirnya, beban akademis yang berlebihan berpeluang memicu rasa stress dan kejenuhan siswa dalam belajar. 

Dampaknya 

Tidak dapat dipungkiri, pembelajaran daring selama pandemi telah menempatkan peserta didik pada titik jenuh. Fenomena tersebut terlihat dari menurunnya motivasi dan minat siswa dalam menyelesaikan setiap tugas-tugas akademiknya. Meskipun guru sudah berusaha merancang pembelajaran sedemikian sederhana, dan mengupayakan dengan berbagai media agar lebih interaktif, namun semangat belajar siswa tidak kunjung meningkat. Bentuk resistensi lain dari kejenuhan belajar juga mengakibatkan proses pembelajaran tidak berjalan efektif sebagaimana diharapkan. 

Dampak lain dari rasa jenuh pembelajaran daring terlihat dari banyaknya peserta didik terlibat dalam hal-hal yang tidak bermanfaat. Mereka melampiaskan kejenuhan dengan bermain game online, media sosial atau mengakses konten-konten yang sangat tidak mendidik dan mencerdaskan. Tentu bukan harapan kita jika kebiasaan-kebiasaan tersebut menjadi bagian dari kebiasaan baru dari kehidupan mereka yang akan bermuara pada persoalan moralitas dan krisis karakter. 

Mencermati fenomena yang terjadi, besar harapan kepada pemerintah dan segenap elemen pendidikan untuk terus mengupayakan kebijakan terbaik menyikapi persoalan pendidikan di masa pandemi. Sejatinya, kejenuhan pembelajaran daring sudah berada di titik yang mengkhawatirkan, dan harus kita sadari akibatnya bagi masa depan generasi penerus bangsa. Jika pemerintah mampu membuat pelaksanaan pilkada berstandar pandemi, kenapa untuk keberlanjutan pendidikan harus menunggu waktu?.

Penulis adalah Guru SMA Negeri 3 Seulimeum, Aceh Besar

Komentar

Loading...