Unduh Aplikasi

Pandemi Covid-19, Pembangunan Tiga Jembatan Rangka Baja di Aceh Barat Terhenti

Pandemi Covid-19, Pembangunan Tiga Jembatan Rangka Baja di Aceh Barat Terhenti
Abutment jembatan rangka baja Gaseu-Sipot tampak udara. Foto: Ist

ACEH BARAT - Pandemi CoronaVirus Disease (Covid-19) menjadi pil pahit bagi warga pedalaman Kabupaten Aceh Barat. Pasalnya akibat dari wabah virus itu, sejumlah proyek prioritas di kabupaten itu terpaksa dihentikan.

Salah satunya adalah pembangunan jembatan penghubung di Kecamatan Sungai Mas, Kecamatan Panton Reu, dan juga Kecamatan Pante Ceureumen.

Tiga jembatan ini padahal merupakan urat nadi bagi perekonomian warga pedalaman di tiga kabupaten setempat. Pasalnya tiga jembatan itu merupakan cikal bakal terwujudnya jalan lingkar atau ring road yang dapat mempermudah koneksi akses antar kecamatan pedalaman.

Jembatan Gaseu-Sipot misalnya, jika jembatan ini selesai dibangun maka akan terkoneksi dengan Woyla Induk serta ibukota Sungai Mas, Tutut bahkan Panton Reu, bagi warga Gaseu yang hendak ke Tutut dan Panton Reu.

Agar tereasilasinya tiga jembatan tersebut, Pemerintah Kabupaten Aceh Barat berencana mengusulkan kembali pada anggaran tahun 2021 mendatang.

Kepala Dinas Pekerjaan Umum Dan Penataan Ruang, Kurdi, mengatakan saat ini untuk jembatan Gaseu-Sipot yang berada di Sungaimas membutuhkan anggaran sebesar Rp 18 miliar. Namun karena pandemi pada tahun ini hanya dilakukan pengadaan Rp 5 miliar dari taget yang harusnya jembatan tersebut dapat difungsikan tahun 2021.

"Untuk jembatan Geseu-Sipot kami hanya lakukan pengadaan tahun ini sebesar Rp5 miliar rupiah, sedangkan sisanya Rp 13 miliar kami usulkan pada tahun anggaran 2021," kata Kurdi.

Ia menambahkan, jembatan lainnya yang terhenti pembangunannya yakni jembatan Krueng Manggi yang menghubungkan Kecamatan Panton Reu dengan Kecamatan Pante Ceureumen. Untuk jembatan ini, membutuhkan anggaran Rp 9 miliar.

Jembatan lainnya, kata dia, yang juga menjadi perioritas dan akan diusulkan kembali pada tahun anggaran 2021 mendatang yakni Jembatan Lango-Lawet dengan kebutuhan anggaran Rp 6 miliar.

"Target kami tahun 2021 tiga jembatan yang menjadi perioritas ini bisa fungsional akhir tahun 2021 atau awal tahun 2022, sehingga mobilisasi masyarakat mudah, baik itu melintas antar kecamatan maupun antar Kabupaten," ucap Kurdi.

Ia menjelaskan, dengan jadinya jembatan tersebut juga akan memudahkan warga dalam mengangkut hasil bumi maupun ke kebun dan ke sawah, sebab menurutnya bukan tidak ada warga Woyla memiliki kebun di Sungai Mas.

"Begitu juga antara Sungai Mas dengan Panton Reu, Panton Reu dengan Pente Cereumen. Kecamatan-kecamatan ini saling terkoneksi dan memiliki hubungan kecamatan-kecamatan ini setiap warga memiliki kebun berada tidal hanya di Kecamatan yang mereka diami," sebutnya.

Harusnya, kata dia, pada tahun ini pemkab setempat memiliki anggaran Sisa Lebih Pembiayaan (SILPA) 2019 sebesar ,Rp10 miliar untuk digunakan namun karena Covid-19 membuat anggaran tersebut pun tidak dapat digunakan lantaran dialihkan.

Karena itu pula, kata dia, pihaknya terus mengejar percepatan pembangunan tiga jembatan tersebut sehingga akses warga mudah dalam segala aktivitas, terutama saat mengangkut hasil bumi mereka.

Untuk mempercepat proses itu, kata dia, pada Anggaran Pendapatan dan Belanja Kabupaten Perubahan 2020 ini akan mengusulkan anggaran perencanaan tiga paket jembatan itu dengan kebutuhan biaya sebesar Rp200 juta rupiah.

"Selain itu kami juga akan menyelesaikan pembangunan jembatan Sawang Teubee-Alue Peudeung pengganti Ulee Raket dengan kebutuhan anggaran tahun depan 13 miliar lagi," sebutnya.

Komentar

Loading...