Unduh Aplikasi

Pandemi, Biologi, dan Pemulihan Ekonomi Kurva V Cina (II)

Pandemi, Biologi, dan Pemulihan Ekonomi Kurva V Cina (II)
Foto: Ist

Oleh: Ahmad Humam Hamid
 
Apa yang telah diperbuat oleh Cina yang mendahulukan pendekatan biologi dari pendekatan ekonomi, dan apa pula hasilnya. Cina yang mempunyai pendududuk mencapai 1,43 miliar telah melaksanakan  sejumlah 160 juta test. Bandingkan dengan Indonesia yang mempunyai penduduk sekitar seperlima dari Cina dengan jumlah total test mendekati 4.5 juta (Worldometer, Oktober 28, 2020).
 
Cina telah melaksanakan test dengan sangat agresif dan melakukan penelusuran massif yang disertai dengan karantina kawasan dan lockdown yang intensif. Bila dibandingkan dengan jumlah penduduknya maka jumlah kasus Covid-19 per satu juta penduduk  sampai akhir Oktober 2020 adalah  adalah 60 kasus- Indonesia 1.483 kasus. Ketika konversi jumlah test per satu juta penduduk dibuat, maka jumlahnya menjadi 111.163 test - Indonesia 16.139 test.
 
Keseriusan pendekatan biologi memberi hasil yang sangat nyata, Cina kini yang jumlah penduduknya seperlima penduduk bumi berada pada posisi global nomor 55 dalam  jumlah kasus, sementara Indonesia pada peringkat 18. Bandingkan pula dengan 10 besar teratas AS, Brazil, India, Rusia, Spanyol, Perancis, Mexico, Inggris, Argentina, dan Columbia.
 
Hasil yang diperoleh memang cukup spektakuler. Lihat saja angka kematian Cina 4.634 kasus- Indonesia 13.612 kasus. Ketika angka ini dikonversi kepada jumlah kematian per 1 juta penduduk, maka Cina  3 kematian-Indonesia 50 kematian. Angka-angka itu menjadi lebih kontras bila dibandingkan dengan apa yang terjadi di AS. Dengan jumlah penduduk lebih dari 330 juta, jumlah kasus AS mendekati 9, 3 juta, dengan jumlah kematian lebih dari 223.131 orang.
 
Jumlah test Covid sebenarnya lebih banyak di AS dibandingkan dengan di  Cina bila dibandingkan dengan total jumlah penduduk . Dengan jumlah penduduk lebih dari 330 juta, AS telah melakukan 411.162 persatu juta penduduk. Bila Cina mempunyai kematian 3 orang persatu juta penduduk, maka angka kematian AS adalah 703 orang.
 
Konsistensi Cina untuk sepenuhnya menggunakan pendekatan biologi yakni  menyelasaikan  pengendalian penyakit didahulukan dari urusan ekonomi kini terbukti manjur. Sebaliknya betapapun jumlah test yang dibuat di AS, tanpa diikuti dengan penelusuran yang massif, karantina, dan pengawasan pelaksanaan protokol Covid-19 di wilayah publik yang ketat tidak banyak membantu, bahkan yang terlihat justeru memburuk. Seperti diketahui, kebijakan presiden Trump dalam hal Covid-19 adalah kebijakan kombinasi biologi dan ekonomi, untuk tidak mengatakan lebih berat kepada pendekatan ekonomi.
 
Kerja keras Cina kini membuktikan hasil yang luar biasa. Ditengah-tengah pesimisme global tentang pertumbuhan ekonomi, Cina keluar sebagai pemenang pertama pada kuartal ketiga dengan angka yang mencengangkan. Ketika semua negara maju dan kaya tengah berjuang untuk keluar dari kontraksi pertumbuhan yang parah, pertumbuhan Cina tidak hanya positif, tetapi juga relatif baik, 4,9 persen. Kini, hampir semua pihak, IMF, Bank Dunia, dan berbagai lembaga berkompeten lainnya sepakat bahwa secara keseluruhan pertumbuhan Cina tahun 2020 adalah 1.9 persen. Pada saat yang sama, dipastikan tidak ada negara lain manapun yang akan mampu keluar dari pertumbuhan negatif.
 
Kenyataan ini memberikan indikasi awal bahwa pemulihan ekonomi Cina akan mengikuti kurva V, yakni sebuah keadaan resesi ekonomi parah sesaat yang menurun tajam, namun tak lama kemudian segera naik untuk kembali ke posisi semula, bahkan mungkin lebih baik. Padahal dugaan banyak pihak, termasuk para CEO Cina bahwa pemulihan ekonomi Cina akan mengkuti kurva U, turun tajam, kemudian butuh maktu relatif lama untuk bangkit dan kembali ke posisi semula.
 
Para ekonom dengan sangat cerdas menggunakan huruf Romawi untuk membuat pemahaman awam untuk dapat mengerti proses pemulihan ekonomi akibat resesi atau depresi ekonomi sebuah negara. Ada beberapa huruf Romawi yang digunakan, namun yang paling umum adalah kurva V, U, W,dan kurva L.
 
Banyak pihak yang menduga bahwa AS dan sejumlah negara maju Eropah akan mengalami proses pemulihan kurva U dimana setelah posisi  kinerja ekonomi menurun dan berhenti, lalu akan berjalan datar selama periode tertentu, untuk kemudian akan naik secara perlahan dan butuh waktu untuk kembali ke posisi semula.
 
Indonesia bisa saja mendapatkan kurva U dan butuh waktu sampai dengan dua tahun untuk kembali ke posisi semula, sama halnya dengan sejumlah negara lain. Walaupun vaksin kini sudah diambang mata, kurva U belumlah sebuah kepastian yang mudah di dapat, karena pandemi ini belum sangat diketahui sifat bilogisnya, seperti mutasi dan lain-lain. Peluang untuk mendapat pemulihan kurva W, keadaan turun naik yang berulang mungkin akan didapat dalam beberapa bulan ke depan, ketika vaksin mulai diterapkan. Kalau momentum itu dapat dipenuhi dengan baik, maka proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia  4.8 persen pada tahun 2021, akan mengantarkan Indonesia kembali ke kurva U.
 
Sebuah survey yang dibuat oleh lembaga Virtual Capitalist pada bulan september yang lalu tentang pandangan dan proyeksi 600 CEO global tentang prospek pemulihan ekonomi global dan terhadap negara mereka sendiri, mempunyai kesamaan dan keragaman. 42 persen CEO menyatakan  ekonomi global akan mengalami kurva U, sementara 32 persen menyatakan kurva L, selebihnya 16 persen kurva W dan 11 persen kurva V. Mereka adalah CEO dari AS, Uni Eropah, Jepang, Negara Arab kawasan teluk, dan Cina.
 
Para CEO AS, Uni Eropah, dan Cina umumnya memberi pilihan mayoritas pada pemulihan kurva U, dan sedikit pada kurva W. Jepang dan negara kawasan teluk yakin bahwa negara mereka akan mengalami kurva pemulihan huruf L, yang akan butuh waktu lama untuk kembali ke posisi semula. Menariknya  ada 21 persen CEO Cina yakin bahwa negara mereka akan mengalami pemulihan mengikuti kurva V. Proyeksi mereka kini terbukti, sementara kurva apa yang akan terjadi dengan negara-negara lain belum dapat dipastikan secara akurat.
 
Tentang kenapa CEO Jepang dan negara-negara kawasan Teluk di Timur Tengah menyatakan pesimis dengan mayoritas menyebut kurva L mungkin mereka punya alasan tersendiri. Untuk diketahui, pemulihan ekonomi kurva L adalah sebuah keadaan dimana krisis ekonomi yang terpuruk butuh waktu lama bergerak di lantai dasar untuk waktu yang relatif panjang dan butuh waktu untuk kembali naik dan mencapai posisi semula. Dalam hal Covid-19, maka ukurannya adalah paling kurang, kembalinya angka pertumbuhan ekonomi positif dan tumbuh menaik untuk kembali mencapai angka sebelum pandemi.
 
Pemikir dan negarawan pada era awal industrialisasi di Eropah dan AS banyak yang sepakat bahwa salah satu ukuran kemajuan peradaban adalah hadirnya kesehatan publik yang kokoh. Itulah sebabnya perencanaan kota Eropah, undang-undang kesehatan di Eropah dan AS pada masa itu sangat kuat dan sepenuhnya dicurahkan untuk untuk memberi yang terbaik pada kesehatan publik. Dan kesehatan publik kemudian seolah disepakati menjadi ukuran kemajuan negara, ukuran modernitas.
 
Capaian Cina dalam mengendalikan pandemi, terutama dengan menerapkan pendekatan biologi telah memberikan hasil yang cukup luar biasa kepada ekonominya. Pemulihan dengan kurva V untuk wilayah biologi dan ekonomi dalam maktu yang kurang dari setahun adalah prestasi. Salah satu klaim Martin Jacques tentang tidak ada modernitas tunggal telah terbukti. Fakta pengendalian dan pemulihan ekonomi Cina adalah bukti bahwa Cina mempunyai “modernitas” alternatif yang tidak kalah posisinya dibandingkan dengan “modernitas” barat yang diperkenalkan oleh AS dan Eropah.
 
Kishore Mahbubani, diplomat kawakan Singapore dan mantan Dekan Lee Kuan Yew School for Public Policy di Universitas Nasional Singapore mempunyai banyak kesamaan dengan Martin Jacques dalam melihat kebangkitan Cina. Dalam  tour buku barunya di negara-negara Eropah dan AS, Has China Won (2020), pertanyaan yang paling sering ditanya kepada Kishore oleh peserta adalah, “apa benar Cina telah memenangkan hegemoni global ?”, ia mempunyai jawaban yang unik. Terhadap petanyaan itu ia selalu menjawab, “not yet”  yang artinya masih belum, sembari memperingatkan jika tidak hati-hati, Cina segera akan.  Mungkin semenjak hari-hari ini dan ke depan, kalau ada pertanyaan yang serupa, jawabannya pasti bukan lagi  “not yet”, tetapi kalimat atau kata lain yang kita belum tahu.

Penulis adalah Guru Besar Fakultas Pertanian Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh

Komentar

Loading...