Unduh Aplikasi

INTERMESO

Pancasila Berdengung

Pancasila Berdengung
Ilustrasi: LDII

SAAT para pendiri negara ini merumuskan Pancasila sebagai dasar negara, yang mereka harapkan bukan semua warga negara ini akan mampu menghafal satu per satu sila. Sila-sila itu terlalu bernilai untuk sekadar dihapalkan dan dijadikan alat politik untuk menakut-nakuti lawan.

Mari kita lihat Pancasila mulai sila terakhir; Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia. Sila ini adalah tujuan Pancasila. Para bapak bangsa tidak menjanjikan kekayaan sosial, atau kemakmuran sosial, setelah bangsa ini menjalani seluruh urutan dari sila-sila tersebut. Tidak ada nilai-nilai materialistis. Belum tercapainya keadilan sosial ini merupakan sumbangan dari kegagalan negara yang dilambangkan dalam “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan dalam permusyawaratan perwakilan”.

Sila keempat ini adalah representasi dari nilai negara. Di sana ada kata rakyat, permusyawaratan dan perwakilan. Permusyawaratan melambangkan Dewan Perwakilan Rakyat dan Perwakilan melambangkan pemerintah.
Tapi kita tak perlu marah-marah pada sila ke empat. Mari lihat sila ke tiga; Persatuan Indonesia. Sila ini merepresentasikan partai politik, organisasi, dan kelompok-kelompok dalam masyarakat. benarkan organ-organ ini berfungsi sebagai pemersatu dan mengajarkan persatuan kepada seluruh rakyat Indonesia?

Saat ini, organ-organ itu tak lagi mengenal kata kekompakan, tak ada persatuan. Satu partai politik dengan partai politik lain saling sikut. Satu organisasi kemasyarakatan dengan organisasi kemasyarakatan saling merendahkan. Bahkan dalam satu pemerintahan, tak jarang seorang pemimpin berseberangan dengan wakilnya. Pertanyaannya, mengapa ini bisa terjadi?

Untuk menjawab hal itu, mari lihat isi sila kedua; kemanusiaan yang adil dan beradab. Secara substansi, sila ini menggambarkan pendidikan. Pendidikan lah yang menciptakan manusia yang adil dan beradab.
Dan kini, kita mendapati bahwa pendidikan, semakin lama, semakin kehilangan arah. Pendidikan tak lagi memberikan kegembiraan bagi siapa saja yang menjalaninya. Baik di sekolah, di kampus atau di balai-balai pengajian. Semua diukur dalam ukuran materi. Bukan menilai. Alhasil, semua orang di negara ini tidak pernah diajarkan untuk menghormati proses. Mereka dipaksa memburu hasil.

Lantas, dari semua sengkarut dalam keempat sila dalam Pancasila ini, mari kita lihat sila pertama: Ketuhanan Yang Maha Esa. Benarkan pemerintah menjalankan seluruh tugasnya berdasarkan ketuhanan? Benarkan penegak hukum bekerja berdasarkan mengutamakan nilai-nilai tauhid? Benarkan para hakim bertindak dengan memohon petunjuk dari Allah, Tuhan, atau apapun yang menjadi melambangkan Ketuhanan Yang Maha Esa.

Yang terjadi, selama ini, negara menjadikan “keuangan yang maha esa”, “kekayaan yang maha esa”, atau “kekuasaan yang maha esa”. Lantas, setelah nilai-nilai dalam dasar negara itu kabur, seluruh rakyat pantas bertanya, “di mana Pancasila yang selalu didengung-dengungkan itu?”

Komentar

Loading...