Unduh Aplikasi

PAA UPTD BNTR Tahun 2019 Hanya Rp 3,1 Miliar dari Target Rp 8,97 Miliar

PAA UPTD BNTR Tahun 2019 Hanya Rp 3,1 Miliar dari Target Rp 8,97 Miliar
Foto: Dok AJNN

BANDA ACEH - Pemerintah Aceh melalui Dinas Peternakan Aceh mengelola dua peternakan ayam ras petelur untuk memenuhi kebutuhan telur di Aceh. Pengelolaannya dilakukan di bawah Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD), yang berlokasi di Blang Bintang dan Saree, Kabupaten Aceh Besar.

Keberadaan peternakan ayam petelur itu pada kenyataanya belum mampu memenuhi kebutuhan masyarakat Aceh sendiri. Saat ini, telur dari provinsi tetangga Sumatera Utara, masih mendominasi slot-slot pasar yang tersebar di 23 kabupaten atau kota di Aceh.

Pengelolaan peternakan milik pemerintah daerah tersebut bisa dikatakan sebagai salah satu cara yang ditempuh, agar secara perlahan Aceh dapat mengurangi ketergantungan pemenuhan salah kebutuhan pokok tersebut. Tentu nawaitu itu harus diapresiasi, sekaligus harus diawasi sebab menggunakan anggaran negara. Dalam dua tahun terakhir saja, terdapat puluhan miliaran rupiah uang negara yang dibelanjakan untuk membeli pakan ternak ayam ras petelur itu, baik peruntukkan di UPTD Balai Ternak Non Ruminansia (BTNR) Blang Bintang maupun Saree.

Guna meningkatkan produksi telur dan penerimaan Pendapatan Asli Aceh (PAA) atas pengelolaan PUTD Ayam Petelur tersebut, pada tahun anggaran 2019 Disnak Aceh kembali menggelontorkan anggran Rp 26,9 miliar untuk pengadaan pakan dan peningkatan sarana dan prasarana di kedua peternakan ayam ras petelur itu.

Anggaran tersebut dipergunakan untuk beberapa kegiatan sebagai berikut: Pengadaan bahan baku pakan ayam ras petelur UPTD BTNR dengan pagu Rp 1,2 miliar. Pengadaan pakan layer ayam ras petelur UPTD BTNR dengan pagu Rp 1,4 miliar. Pengadaan Egg Tray dengan pagu Rp 1,1 miliar. Pembangunan Instalasi Penampung air bersih UPTD BTNR Blang Bintang dengan pagu Rp 100 juta.

Setelah itu, pekerjaan rehab tempat pakan dan minum kandang ayam Blang Bintang dengan pagu Rp 153 juta. Pengadaan antibiotik, vitamin, egg simultan dan vaksin untuk ayam ras petelur dengan pagu Rp 150 juta. Pengadaan insektisida, disinfektan, herbisida dan penghilang bau kandang ayam ras petelur dengan pagu Rp 140 juta.

Selanjutnya, Disnak Aceh juga melakukan pengadaan pallet plastik untuk UPTD BTNR itu, anggaran yang dialokasikan sebesar Rp 150 juta. Kemudian, dalam laman SiRUP LKPP juga terdapat anggaran pengadaan tambahan pakan layer ayam ras petelur UPTD BTNR dengan alokasi anggaran sebesar Rp 22,5 miliar.

Dari data yang diperoleh oleh AJNN, untuk tahun 2019 Dinas Peternakan Aceh melalui UPTD BTNR yang berlokasi di Blang Bintang dan Saree menargetkan PAA sebesar Rp 8,97 miliar.

Kendati puluhan miliar rupiah sudah dikucurkan, namun peternakan itu belum cukup mampu memenuhi target yang ingin dicapai. Selain belum mampu memenuhi kebutuhan telur di Aceh, peternakan milik pemda itu juga belum memberi sumbangsih yang signifikan bagi penerimaan asli Aceh (PAA). Dari target PAA yang telah ditetapkan, dari dokumen LHP BPK atas Laporan keuangan Pemerintah Aceh tahun anggaran 2018, Dinas Peternakan Aceh hanya mampu merealisasikan sebesar Rp 3,12 miliar, jauh dari target yang telah ditetapkan yaitu sebesar Rp 8,72 miliar.

Realisasi PAA ini jauh dibawah tahun sebelumnya, dimana pada tahun 2019 konstribusi realisasi PAA melalui UPTD Ayam Petelur ini sebesar Rp 10,68 miliar dari target sebesar Rp 4,5 miliar. Padahal anggaran yang dikucurkan untuk mendukung pencapaian target PAA pada tahun 2018 lebih kecil yaitu hanya sebesar Rp 12,7 miliar.

Foto: Dok AJNN

Untuk diketahui bahwa hasil penjualan telur ayam tahun 2018 pada UPTD BTNR terjadi penyelewengan yang mana kasus ini sedang dalam proses hukum pada Pengadilan Tipikor Banda Aceh.

Temuan adanya penyelewengan hasil penjualan telur pada UPTD BTNR terkonfirmasi berdasarkan hasil laporan audit dari BPKP perwakilan Aceh, yang mana hal ini terungkap dalam dakwaan kasus korupsi penjualan telur ayan ras pada UPTD BTNR.

Dalam temuan BPKP tersebut disebutkan bahwa penerimaan hasil penjualan telur ayam tahun 2016 sebesar Rp 846 juta lebih, sementara tahun 2017 hasil penjualan sebesar Rp 668 juta lebih, sedangkan tahun 2018 sebesar Rp 11 miliar lebih. Sementara penyetoran hasil penjualan telur ayam tersebut ke kas daerah di tahun 2016 hanya Rp 85 juta, tahun 2017 hanya Rp 60 juta dan tahun 2018 hanya sebesar Rp 9,7 miliar lebih.

Komentar

Loading...