Unduh Aplikasi

PA Lagi, PA Lagi

PA Lagi, PA Lagi
ilustrasi

DALAM beberapa tahun terakhir, hampir tak ada kabar yang menyenangkan tentang Partai Aceh. Entah itu yang tersebar di media massa atau lewat bisik-bisik di jaringan pesan whatsapp.

Dan kabar itu semakin sering didengar setelah Musyawarah Partai Aceh Bansigom Aceh, di Hotel Grand Aceh, pada April 2016, acara yang sedianya menjadi tempat penyatuan visi dan misi Partai Aceh dalam menyambut Pemilihan Kepala Daerah 2017.
.
Sejak itu, kabar tentang perpecahan di tubuh Partai Aceh semakin santer. Terutama di daerah-daerah. Dewan Pimpinan Aceh Partai Aceh seperti selalu berseberangan dengan kader-kader di daerah dalam menentukan para kandidat.

Termasuk di Nagan Raya, asal para kader yang marah dan merusak sejumlah barang di DPA Partai Aceh, di Banda Aceh, kemarin. Ini adalah buntut dari ketidaksukaan mereka setelah pengurus pusat partai menolak hasil musyawarah wilayah yang menentukan Chalidin Oesman sebagai ketua partai baru di Nagan Raya.

Namun ternyata, jalur demokrasi tak menarik perhatian. Meski berstatus sebagai politik--sebuah perlambangan demokrasi modern--semua keputusan mutlak berada di tangan sang ketua umum dan orang-orang dekatnya. Hasil dari rapat-rapat penting, terutama yang menentukan langkah partai di daerah, tak pernah didengar.

Kekalahan di Pilkada 2017 tak benar-benar menjadi pelajaran bagi para petinggi Partai Aceh. Tidak hanya pada pemilihan gubernur dan wakil gubernur, sejumlah kandidat bupati dan wakil bupati serta wali kota dan wakil wali kota yang diusung Partai Aceh tak mampu memenangkan pemilih. Ini adalah harga mahal yang harus dibayar untuk mengetahui kekuatan di Pemilihan Umum 2019. 

Sepertinya, para petinggi partai kesulitan menentukan arah “perjuangan” dan cenderung bersikap sendiri-sendiri tanpa memikirkan masa depan partai yang elektabilitasnya terus melorot. Dan yang dipertontonkan adalah politik kasar yang cenderung menunjukkan otot ketimbang otak.

Partai ini adalah partai penerus amanah perjanjian damai antara Gerakan Aceh Merdeka dan Pemerintah Indonesia. Para pengurus partai harus menyadari hal ini dan berpikir lebih ke dalam untuk mengingat kembali tujuan perdamaian yang perjuangkan dengan darah syuhada. Bukan sekadar barter politik.

Komentar

Loading...