Unduh Aplikasi

Operasi Bayi Hidrosefalus tanpa Anus Terganjal Kekakuan BPJS

Operasi Bayi Hidrosefalus tanpa Anus Terganjal Kekakuan BPJS
ilustrasi
BANDA ACEH – Kelahiran bayi ini tak sempurna. Kepalanya tumbuh besar, melebihi ukuran badan. Badannya ringkih. Sejak lahir, bayi berusia satu minggu ini divonis menderita hidrosefalus, penumpukan cairan di dalam otak yang membuat ukuran kepalanya membesar. Jika tidak segera ditangani, cairan ini terus menekan otak dan melemahkan fungsi otak.

Ketiadaan anus semakin menyempurnakan cobaan yang dirasakan Maya Oktavina, 40 tahun, ibu si bayi. Sejak lahir pula Rahman--sebut saja begitu, karena memang orang tuanya belum menabalkan nama--mendapatkan perawatan khusus.

Saat Rahman berada dalam kandungan, Maya telah mendaftarkan diri ke Badan Penyelenggaraan Jaminan Sosial (BPJS). Kepada petugas BPJS di Langsa, kota yang mereka tinggali, Maya menyampaikan niat untuk mendaftarkan diri dan anaknya ke program kesehatan universal ini.

Namun atas keterangan seorang petugas BPJS, niat ini diurungkan. Petugas itu berkata hanya Maya yang bisa mendaftar. Sementara si bayi akan didaftarkan ketika lahir. “Ibu tidak bisa mendaftarkan anaknya sekarang, tapi nanti kalau sudah lahir,” ujar Fahzi, adik kandung Maya, menirukan ucapan petugas BPJS.

Singkat kata, lahirlah Rahman di Rumah Sakit Cut Nyak Dhien, Langsa. Saat melihat kelahiran yang tak sempurna, keluarga memutuskan untuk memindahkan Rahman ke Rumah Sakit Umum Kota Langsa. Tidak lama di rumah sakit itu, Rahman dibawa ke Rumah Sakit Umum Daerah Zainoel Abidin, di Banda Aceh. Sesaat setelah ibunya mendapati anak lelakinya tak memiliki anus.

Saat mereka hendak mengeluarkan bayi itu dari rumah sakit, keluarga nahas ini harus berhadapan dengan penolakan rumah sakit karena si bayi belum terdaftar dalam BPJS. Keterangan ini berbeda dengan kata-kata petugas BPJS Langsa saat dia hendak mendaftarkan bayi dalam kandungannya.

Niat Maya membawa anaknya pun dihalang-halangi. Rahman boleh keluar dari rumah sakit setelah membayar Rp 6 juta. Biaya menyewa ambulan Rp 2,8 juta ditambah dengan biaya perawatan dan lainnya.

“Itu saya yang bayar. Dan saya bawa anak ini ke Banda Aceh, karena tidak sanggup melihat dengan kondisi seperti ini,” kata Fahzi.

Fahzi pun bergerak cepat. Bayi itu lantas didaftarkan ke BPJS Aceh. Namun operasi untuk mengangkat penyakit itu harus menunggu. Karena dalam aturan BPJS, biaya ini bisa ditanggung 14 hari setelah pasien didaftarkan. Bahkan saat pihak rumah sakit tak bisa berbuat banyak karena aturan ini tak bisa diubah, bahkan saat si bayi tengah sekarat.

Pihak keluarga mengaku tidak sanggup menunggu lama proses operasi anak itu. Kondisi Rahman semakin kritis. Dan biaya pengobatan di kamar ICU juga sangat mahal. Sehari mencapai Rp 1,2 juta. “Sudah enam hari berlalu. Jika ditunggu 14 hari lagi, kalikan saja berapa uangnya. Bahkan kata dokter biaya operasi khusus anusnya saja mencapai Rp 50 juta,” kata Fahzi.

Fahzi mengatakan pihak rumah sakit bersedia membantu keponakannya itu. Operasi bayi ini dijadwalkan pada 11 April mendatang. “Pelayanan yang diberikan dari rumah sakit sangat bagus. Mereka mau membantu apa yang mereka bisa bantu, baik dari segi uang perawatan atau hal lain,” kata Fahzi.

Saran petugas rumah sakit untuk mengeluarkan Rahman dari rumah sakit juga tak mungkin diikuti. Keluarga tak berani mengambil risiko. Keluar dari rumah sakit berarti kondisi Rahman tak terpantau. Keluarga ini hanya berharap BPJS dapat membantu dengan mengubah kebijakan yang kaku dengan pertimbangan kemanusiaan.

“Kami sudah meminta kepada BPJS biar dapat pelayanan yang bagus. Saya bilang, ‘mohon pak, inikan emergency, hidrosefalus dan tidak ada usus lagi.’ Tapi mereka tetap berbicara sistem,” kata Fahzi.

Komentar

Loading...