Unduh Aplikasi

Omzet Menurun, Ini Kiat Pengusaha Sate Bertahan di Tengah Pandemi

Omzet Menurun, Ini Kiat Pengusaha Sate Bertahan di Tengah Pandemi
Pekerja membakar sate. Foto: AJNN/Sarina 

LHOKSEUMAWE - Ansaruddin (30), pengusaha sate asal Gerugok, Kecamatan Gandapura, Kabupaten Bireun, tetap bertahan meskipun pendapatan merosot di tengah pandemic Coronavirus Disease (Covid-19) yang melanda penjuru dunia khususnya Provinsi Aceh.

Nyak Din, sapaan akrab anak keempat dari empat bersaudara pasangan M Daud dan Fatmawati itu mengaku sudah dua tahun membuka usaha sate di Kota Lhokseumawe.

Sagobi atau singkatan dari Sate Gerugok Bireuen tersebut menjadi usaha perdana setelah dua tahun menjadi pekerja di salah satu warung sate di Gerugok.

“Motivasi awal saya yakni, ada salah satu anggota DPRK di Bireuen, mengatakan saya harus bangkit dan harus bisa membuka usaha sendiri. Dengan diberikan modal awal oleh dia, Alhamdulillah saat ini sudah berhasil kami buka cabang,” kata pria berstatus lajang tersebut kepada AJNN, Senin (18/1).

Nyak Din mengaku saat ini sudah mampu merekrut 11 orang tenaga kerja, untuk dua warung, yakni di Kawasan Kandang, Kecamatan Muara Dua, dan Punteut Kecamatan Blang Mangat, Kota Lhokseumawe.

“Tenaga kerja itu kami rekrut dari pemuda-pemuda pengangguran atau belum memiliki pekerjaan,” ujarnya.

Dalam sehari, kata Nyak Din, mampu menghabiskan 50 kilogram daging sapi, untuk bahan baku diambil dari daerah lokal Lhokseumawe. Sementara pengahsilan mencapai Rp15 juta per hari.

“Kami mengambil daging lokal, karena dalam sehari harus habis, dan besok harus ganti daging lain. Karena prinsip saya daging hari ini jangan disimpan untuk besok,” jelasnya.

Nyak Din menyebutkan, kendala saat ini dalam membuka usaha yakni pengaruh ekonomi, apalagi di tengah pandemi Covid-19. Semua bahan baku mahal dan pendapatan juga merosot.

“Selama pandemi, pendapatan menipis, namun kami tetap menjaga kualitas dan cita rasa agar tidak berkurang. Bumbu kacang dan bumbu kuning juga harus dijaga, jangan mentang-mentang sudah maju dan laku banyak, kilogramnya dikurangi,” ungkap Nyak Din.

Dalam satu tusuk sate, Nyak Din mengatakan hanya Rp3 ribu saja, sementara dalam satu porsi biasanya berkisar Rp30 ribu dengan jumlah 10 tusuk sate.

“Dalam sehari, pengunjung sampai ratusan, karena kami membukanya hingga malam,” ungkapnya.

Nyak Din berharap, semua karyawan yang bekerja di warungnya itu, ke depan bisa membuka usaha sendiri. Dan tidak terpaku selalu menjadi pekerja di tempat orang lain.

“Minimal, satu saja dari pekerja-pekerja disini bisa membuka usaha atau warung sate milik sendiri di masa mendatang,” imbuhnya.

Komentar

Loading...