Oligopoli Bandar Pulsa

Oligopoli Bandar Pulsa
Salamuddin Daeng. Foto: IST.

Oleh: Salamuddin Daeng

Merger Indosat dan Tri, lepas dari perhatian publik. Padahal nilai merger kedua perusahaan penjual pulsa internet ini bernilai sekitar Rp85 triliun. Demgan demikian penguasaan pasar keduanya dipastikan makin besar.

Indosat menguasai 16 persen pasar, sedangkan tri sekitar 19 persen dari 200 juta pengguna seluler di tanah air. Ini angka yang besar, akan sangat dominan terhadap pesaingnya.

Lalu apa peran pemerintah atau usaha pemerintah dalam mengatasi masalah bersatunya perusahaan- perusahaan besar yang semakin lama semakin mengontrol pasar dan mengontrol harga? Apa pula yang dilakukan Komisi Pengawas Persaingan Usaha (KPPU) dalam menyelamatkan kantong konsumen di era digitalisasi? Atau minimal menyelamatkan anak-anak orang miskin atas kebutuhan pulsa murah sekolah online?

Secara teori, jika banyak pemain masuk ke pasar maka harga akan lebih kompetitif dan menjadi murah. Perusahaan makin efisien karena harus menang dalam bersaing. Kalau demikian bukankah tugas pemerintah membuat iklim usaha yang sehat, semua pihak bisa masuk ke pasar, serta memastikan tidak ada bandar besar yang mengendalikan pasar.

Masalahnya yang  terjadi saat ini, perusahaan-perusahaan telekomunikasi melakukan merger. Kondisi ini menciptakan pasar yng semakin oligopolistik. Akibatnya, pasar dikuasai oleh kelompok yang saling besepakat satu sama lain tentang semua hal, termasuk seenaknya mengatur harga.

Baca Selanjutnya...
Halaman 12

Komentar Pembaca

Berkomentarlah secara bijaksana dan bertanggung jawab. Komentar sepenuhnya menjadi tanggung jawab komentator seperti diatur dalam UU ITE.
Loading...

Berita Terkini