Unduh Aplikasi

POTRET KEMISKINAN DI ACEH UTARA

Nurdin Hidup di Gubuk Tepas Bambu Yang Hampir Roboh

Nurdin Hidup di Gubuk Tepas Bambu Yang Hampir Roboh
Kondisi rumah Nurdin di Aceh Utara. Foto: AJNN.Net/Sarina

ACEH UTARA - Kemiskinan dan tempat hunian yang tidak layak masih terus menghantui Provinsi Aceh. Kemerdekaan yang idamkan untuk mensejahterakan masyarakat hingga kini sepertinya belum terealisasi kan.

Seperti terlihat di Gampong Alue Majrun, Kecamatan Syamtalira Bayu, Kabupaten Aceh Utara. Potret kemiskinan masih terpampang luas di desa terpencil tersebut.

Saat AJNN menulusuri perdalaman dari Kabupaten Aceh Utara itu, puluhan rumah terlihat masih sangat tidak layak untuk di huni masyarakat setempat. Mulai dari dinding yang terbuat dari tepas bambu yang berlubang besar dan terancam roboh, hingga rumah yang hanya memiliki setengah dinding saja.

Kondisi rumah Nurdin di Aceh Utara. Foto: AJNN.Net/Sarina

Misalkan dapat dilihat dari rumah milik Nurdin (45). Ayah dari dua orang anak itu tinggal di gubuk panggung berdinding tepas bahkan terancam roboh jika diterjang angin. Kendati demikian, pria yang berprofesi sebagai buruh upahan tersebut tak mematahkan semangat untuk tetap tinggal di istananya itu.

Dua puluh lima tahun sudah, Nurdin bersama istrinya Salbiah, mempati rumah tak layak huni tersebut. Akan tetapi, hingga tahun 2018 ini belum tersentuh akan bantuan jenis bangunan apapun dari Pemerintah Daerah setempat.

“Saya penduduk asli disini, saya bertahan disini bersama anak saya Nursiah (13) dan M Riski (8),” kata Nurdin di rumahnya yang berada di sekitaran pohon-pohon sawit tersebut.

Kondisi rumah Nurdin di Aceh Utara. Foto: AJNN.Net/Sarina

Pendapatan yang diperoleh sehari-hari Nurdin sebagai buruh upahan hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. Namun ketika tidak ada pekerjaan, bahkan sampai berhari-hari, apalagi kondisinya saat ini baru selesai menjalani operasi kaki.

“Saya baru operasi penyakit di kaki saya, dan sudah beberapa hari tidak bisa bekerja, dan istri saya pun sakit-sakitan karena batuk-batuk, ketika saya sakit seperti ini dia yang bekerja,” ungkapnya.

Tahun lalu, kata Nurdin, rumahnya sudah pernah miring dan hampir roboh. Akan tetapi, berkat swadaya dan gotong royong tetangga setempat, rumah tersebut kembali di kembalikan seperti semula, sehingga mereka bisa menghuninya lagi.

“Kami tidak berharap apa-apa, namun jika ada bantuan rumah kami sangat bersyukur. Agar ketika hujan dan angin melanda tidak ada kekhawatiran lagi,” harapnya.

Komentar

Loading...