Unduh Aplikasi

Nikmatnya Hidup Dalam Penjara

Nikmatnya Hidup Dalam Penjara
ilustrasi

LEMBAGA pemasyarakatan harusnya menjadi tempat yang ramah bagi seorang narapidana. Meski mereka berstatus sebagai seorang terhukum, mereka berhak mendapatkan fasilitas yang memadai. Air bersih, listrik, pemeriksaan kesehatan, dan lain sebagainya. Penjara jadi pengingat bahwa kebebasan yang direngut dari mereka adalah upaya agar mereka menghargai aturan yang saat keluar dari lembaga pemasyarakatan.

Bagi mereka yang tajir, biasanya para koruptor dan bandar narkoba, penjara adalah tempat yang nyaman. Mereka diberikan keleluasaan untuk mendapatkan fasilitas lebih. Ada alat pendingin ruangan, televisi, laptop. Kecurangan sangat nyata. Kalau sekadar menyelundupkan telepon genggam, mungkin sulit dilacak. Tapi kalau barang selundupan ke dalam penjara sebesar spring bed, itu sudah luar biasa. 

Mereka mendapatkan keleluasaan untuk mengakses listrik di kamar mereka. Ini terlihat saat pemeriksaan setelah rusuh di penjara Lambaro, dua hari lalu. Bahkan sudah menjadi rahasia umum jika seorang narapidana tajir dapat keluar masuk penjara, sesuai kebutuhannya. Saat matahari tenggelam, mereka pulang ke rumah dan kembali sebelum azan subuh berkumandang.

Di sinilah muncul kesenjangan. Penjara jadi tempat persemaian. Para narapidana yang “setengah nakal” harus berjibaku untuk mendapatkan hak-hak mereka. Mereka harus masuk ke dalam lingkaran untuk mendapatkan kemawahan yang didapat dari kerja sama dengan sipir di penjara itu.

Ketimpangan sengaja diciptakan untuk menentukan harga. Pengelola penjara menciptakan pasar. Mereka membiarkan satu atau dua orang narapidana berpengaruh mendistribusikan narkoba dan menikmati fasilitas mewah. Narapidana lain dijadikan konsumen. Mereka yang tak punya uang dipaksa gigit jari melihat ketidakadilan berlaku di depan mata.

Di samping hak-hak yang dimilikinya, narapidana juga mempunyai kewajiban. Mereka mengikuti program pembinaan dan kegiatan tertentu. Patuh, taat, dan hormat kepada petugas, menjaga kebersihan diri dan lingkungan hunian serta mengikuti kegiatan yang dilaksanakan dalam rangka kebersihan lingkungan hunian, dan mengikuti apel kamar yang dilaksanakan oleh petugas pemasyarakatan.

Karena itu, para narapidana yang terlibat dalam kerusuhan itu harus mendapatkan hukuman berat dan tegas karena melanggar kedisiplinan. Negara tak boleh memberikan hak remisi, cuti mengunjungi keluarga, cuti bersyarat, asimilasi, cuti menjelang bebas, dan pembebasan bersyarat dalam tahun berjalan.

Negara juga harus memberikan sanksi tegas kepada Kepala Lembaga Pemasyarakatan Kelas II Banda Aceh (Lapas Lambaro). Dengan kekuasaan penuh di tangan, seharusnya yang bersangkutan memastikan sistem dan aturan yang dibuat berjalan utuh, tanpa digerogoti oleh kepentingan sipir nakal yang mencoba mencari keuntungan dari kedekatan dengan para narapidana.   

Komentar

Loading...