Unduh Aplikasi

Nelayan Aceh Timur yang Ditahan di Myanmar Bertemu Staf KBRI Yangon

Nelayan Aceh Timur yang Ditahan di Myanmar Bertemu Staf KBRI Yangon
Foto: Ist

BANDA ACEH - Jamaluddin, pawang Kapal Motor (KM) Bintang Jasa, yang ditahan di penjara wilayah Kawthoung, Myanmar, karena diduga melakukan pencurian ikan di wilayah teritorial negara itu, bertemu dengan Staf KBRI Yangon Bidang Fungsi Protokol dan Konsuler, Cahya Pamengku Aji, pada Kamis (3/10) siang, .

Hal ini disampaikan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Aceh asal Kabupaten Aceh Timur, Iskandar Usman Al-Farlaky. Menurutnya, Staf KBRI itu menjenguk Jamaluddin setelah selesai mengurusi jenazah Zulfadli, pawang KM Troya, yang meninggal beberapa hari yang lalu.

”Sekarang mereka masih di Kawthoung. Jarak wilayah Kawthoung dengan Yangon untuk perjalanan darat sekitar 30 jam,” kata Al-Farlaky usai berkomunikasi dengan pihak KBRI Yangon, Kamis (3/10).

Kata Iskandar, Jamaluddin ditangkap bersama dengan 15 awak kapal lainnya. Kapal nelayan tersebut mati mesin sehingga terbawa arus ke perairan Myanmar. 15 orang awak kapal dilepaskan setelah mendapat pengampunan. Namun Jamaluddin selaku pawang kapal masih ditahan sampai kini. Ia ditahan sejak tanggal 6 November 2018 lalu.

Berbagai upaya pembebasan pawang kapal nelayan asal Aceh Timur telah dilakukan pihaknya, termasuk menyurati Kemlu RI dan KBRI di Yangon. Iskandar sendiri masih sangat instens berkomunikasi dengan pihak KBRI di Yangon, yang kini berada di Kawthoung baik untuk proses pemulangan jenazah Zulfadli maupun upaya pembebasan Jamaluddin.

Iskandar yang dikenal aktif mengadvokasi nelayan asal Aceh Timur itu, menambahkan, Staf KBRI telah berhasil bertemu Jamaluddin di kantor penjara Kawthoung dengan didampingi aparat setempat selevel Polres di Indonesia. Pertemuan itu setelah mendapat izin dari Pemerintah Myanmar di Nay Pyi Taw.

“Berdasarkan foto yang saya dapatkan dari pihak KBRI, pertemuan ini dengan penuh haru dan didampingi pihak kepolisian setempat. Pihak KBRI juga merespon baik permintaah kita agar menggunakan kekuatan diplomasi untuk membebaskan Jamaluddin, sebab dia tidak sengaja masuk ke perairan Kawthoung,” ujar mantan Sekjend BEM UIN Ar-Raniry ini.

Iskandar Menambahkan, pada Kamis (3/10) malam, pihak Protokol dan Konsuler KBRI juga mengundang aparat keamanan disana bersama jaksa wilayah, kepala penjara, kepala kepolisian, kepala rumah sakit, tokoh agama Islam, dan pejabat terkait lainnya yang telah membantu pengurusan jenazah almarhum Zulfadli, sekaligus membicarakan upaya membantu Jamaluddin yang masih ditahan.

Sebagaimana diketahui, Iskandar Usman Alfarlaky mengungkap fakta baru soal nelayan Aceh Timur yang ditangkap aparat kepolisian Myanmar beberapa waktu lalu. Menurutnya, para nelayan itu diciduk bukan karena mencuri ikan di negara itu.

"Mereka hanyut karena kapal yang mereka tumpangi kerusakan mesin. Jadi, mereka masuk ke perairan Myanmar bukan untuk mencuri ikan," ungkap Iskandar dalam sidang paripurna DPRA dihadapan Plt Gubernur Aceh Nova Iriansyah, Selasa (13/11) tahun lalu.

Sebelumnya, 16 nelayan yang melaut dengan KM Bintang Jasa dari Kuala Idi, Aceh Timur, ditangkap dan ditahan di kantor polisi Kawthaung, Provinsi Tanintharyi, Myanmar. Ke-16 nelayan Aceh Timur yang ditangkap tersebut yakni Jamaluddin, Nurdin, Samidan, Efendi, Rahmat, Saifuddin, Nazaruddin, Syukri, Darman, Safrizal, Umar, M Aris, Jamaluddin, Sulaiman, M Akbar, dan Paiturrahman.

Komentar

Loading...