Unduh Aplikasi

Nasib Mursyidah: Janda Miskin Tiga Anak Menanti Vonis Hakim

Nasib Mursyidah: Janda Miskin Tiga Anak Menanti Vonis Hakim
Mursyidah bersama dua anaknya. Foto: AJNN.Net/Sarina

LHOKSEUMAWE - Soe Jaga Aneuk, Meunyoe Lon di Penjara. Itulah kalimat yang keluar dari mulut Mursyidah, seorang janda yang didakwa dengan perkara perusakan Pangkalan Gas LPG 3 kilogram di Gampong Meunasah Masjid, Kecamatan Muara Dua, Kota Lhokseumawe.

Sudah jatuh tertimpa tangga. Pribahasa itu terkesan melekat di diri wanita yang memiliki tiga orang anak tersebut. Pasalnya, disaat menanti vonis dari Majelis Hakim di Pengadilan Negeri Lhokseumawe, suami tercinta yang sudah hidup berumah tangga belasan tahun bersamanya meninggal dunia.

Sembari duduk beralas tikar yang dilentangkan di atas lantai semen, Mursyidah menceritakan pahitnya kisah hidup yang dialaminya. Sesekali mata menatap anak yang duduk di samping, wanita itu memulai kisahnya.

“Saya menikah tahun 2006 lalu, bersama almarhum suami yang bernama Hamdani. Alhamdulillah kami dikaruniai tiga orang anak dua laki-laki M Raja (10), Mirza dan satu perempuan, Fitriani (12),” katanya sambil tangan mencari-cari surat yang diserahkan ke Jaksa beberapa bulan lalu.

Di rumah berukuran 4x6, berdinding papan dan berlantaikan semen. Mursyidah mengaku baru saja ditinggal suaminya 12 hari lalu. Hamdani (alm) meninggal dunia karena menderita penyakit paru-paru.

“Sakit sudah lama, namun paling parah dan harus berobat sejak enam bulan terakhir. Dan suami saya bertambah parah, saat meminta saksi yang melihat orang perusakan pintu pangkalan gas LPG. Tapi saksi itu tidak mau bicara karena di bawah ancaman oknum kepolisian,” ujar Mursyidah kepada AJNN, sambil meneteskan air mata.

Baca: Haji Uma Minta Hakim Bebaskan Mursyidah: Dia Pahlawan Bangsa

Sejak meninggal suami, Mursyidah mengaku tidak berkerja. Untuk kebutuhan makan dan sekolah anak, Dia mendapatkan sumbangan dari tetangga dan sejumlah dermawan.

“Waktu suami masih hidup, saya bekerja sebagai buruh upah cuci baju tetangga, dan membuat keripik untuk dijual di warung dengan harga Rp1000, guna memenuhi kebutuhan keluarga, karena suami tidak sanggup kerja dalam kondisi sakit-sakitan,” tutur wanita berkulit sawo matang itu.

Tangisan Mursyidah pecah, ketika anggota DPD Republik Indonesia, Sudirman atau kerap disapa Haji Uma menyambangi rumahnya. Terisak-isak wanita dari keluarga tidak mampu itu mengadukan nasibnya kepada dewan perwakilan daerah asal Aceh tersenut.

“Teungku Haji, saya tidak tahu mengadu kemana, saya orang miskin. Selama ini hanya Allah, kuasa hukum dan wartawan yang selalu menemani serta mendampingi saya dalam kasus ini. Hari ini saya mohon pak tolong bantu saya,” ujar Mursyidah pada Haji Uma yang diwarnai juga isak tangis dari tetangga.

Dengan tatapan polos dan raut wajah yang gelisah disertai gundah. Mursyidah mengaku teringat nasib ketiga anaknya, jika Dia dijebloskan ke penjara. Karena Jaksa Penuntut Umum sudah menuntut dirinya selama 10 bulan penjara.

“Bagaimana nasib anak-anak saya, sama siapa mereka tinggal dan siapa yang merawatnya jika saya dipenjara. Saya tidak tahu kepada siapa mengadu lagi, karena disini saya tidak memiliki saudara,” katanya.

Mursyidah hanya bisa pasrah dengan putusan yang akan disampaikan majelis hakim pada 5 November 2019 mendatang, di Kantor Pengadilan Negeri Lhokseumawe.

“Saya berharap, semoga ada keadilan. Dan saya sangat berterimakasih kepada kuasa hukum dan wartawan yang sudah setia menemani saya dari awal hingga menjelang vonis oleh Majelis Hakim,” tuturnya.

Komentar

Loading...