Unduh Aplikasi

Mungkinkah Luis Milla Kembali Latih Timnas?

Mungkinkah Luis Milla Kembali Latih Timnas?
Foto: Charlie/Antara

JAKARTA - Timnas senior Indonesia mendapat hujatan. Simon McMenemy ditekan untuk lepas jabatan.

Empat hasil mengecewakan di Kualifikasi Piala Dunia 2022 cukup menjadi acuan. Kalah 2-3 dari Malaysia, takluk 0-3 dari Thailand, tertunduk 0-5 melawan Uni Emirat Arab, dan mengakui keunggulan Vietnam 1-3.

Publik sudah habis kesabaran. Pencinta sepak bola Tanah Air ramai-ramai menyuarakan agar Luis Milla kembali mendapat kepercayaan.

Suara masyarakat tampaknya sejalan dengan Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora).
Sekretaris Menpora, Gatot S. Dewo Broto menuturkan sudah ada pembicaraan soal niat merekrut Luis Milla sebagai pelatih kepala Timnas senior.

“Sebenarnya sudah lama saya mendengar omongan-omongan kecil tentang Luis Milla. Lewat WhatsApp, Ade Wellington (mantan Sekjen PSSI) menyampaikan keinginan Luis Milla yang ingin kembali. Milla merasa sudah jatuh cinta dengan Indonesia. Namun, bagaimana caranya?” ujar Gatot di Kantor Kemenpora.

Gatot mengaku sadar wacana pengembalian Luis Milla yang digulirkan Kemenpora sebagai bentuk respons keinginan publik. Penikmat sepak bola tampak jenuh dengan kekalahan beruntun Timnas.

Sesmenpora juga melihat penerimaan masyarakat terhadap Milla. Memang, tak ada gelar bergengsi yang diraih Milla bersama Timnas selama 1,5 tahun lebih masa jabatannya. Tapi, paling tidak, pelatih asal Spanyol itu memberikan karakter permainan buat tim Merah-Putih.

Pencinta sepak bola Indonesia senang dengan filosofi yang dibawa Milla. Bermain cepat dengan operan pendek, fisik pemain digembleng agar mumpuni menerapkan strategi. Determinasi pun selalu ditampilkan di lapangan.

Beda hal ketika Timnas dinakhodai Simon. Tim Merah-Putih tak berkarakter, tak punya daya juang dan determinasi, strategi permainannya pun tidak jelas.

Kemenpora ternyata tak sebatas melempar wacana. Beberapa cara menjajaki pengembalian Milla sudah dilakukan.

“Pemerintah sejauh ini sebagai fasilitator saja. Kalau kami perlu datang langsung untuk berbicara dengan Milla, kami tidak keberatan. Sekaligus (biar Milla percaya) ada pemerintah di belakang PSSI. Kuncinya nanti di PSSI, mau atau tidak. Kami tidak bisa memaksa,” tutur Gatot.

Bicara gaji Milla, Gatot masih menampik pemerintah akan ikut campur. Lagi-lagi, ia menegaskan bahwa peran pemerintah hanya membuka jalan negosiasi.

“Pak Ade Wellington rupanya baru bertemu Milla di Spanyol. Duta Besar Indonesia di Madrid juga menyatakan Milla ingin ke Indonesia. Gaji masih negosiasi. Yang jelas pemerintah sejauh ini tidak ada anggaran untuk itu (gaji Milla),” kata Gatot.

Lebih lanjut, Gatot membeberkan bahwa penyediaan anggaran hanya untuk gaji Milla bisa membuat cabang olahraga (cabor) lain iri.

“Kami harus adil kepada cabor-cabor lain. Pemerintah harus memikirkan hal lain. Kalau cuma memfasilitasi komunikasi dengan Milla tidak apa-apa. Jika menyangkut tanggungan gaji, nanti kami diprotes cabor lain," kata Gatot.

"Wong, PSSI sudah istimewa dengan terbitnya Inpres (Instruksi Presiden) Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional. Cabor lain juga menanyakan kenapa tidak ada Inpres-nya,” lanjutnya.

Perlu diketahui, gaji Milla mencapai Rp20 miliar setahun. Berdasarkan Inpres tadi, PSSI sebenarnya bisa meminta bantuan pemerintah—Kemenpora—untuk menggaji eks pemain Valencia tersebut.

Dalam Inpres itu, Presiden meminta Menpora mengembangkan kurikulum dan bakat pesepak bola Indonesia. Rasanya tak ada yang menolak bahwa Milla sanggup melakukan instruksi itu. Tengok saja kiprahnya selama berada di Indonesia.

Selain mengurusi Timnas senior, Milla juga mengambil alih Indonesia U-23. Bahkan, ia melakukan supervisi langsung kepada Indonesia U-19 yang kala itu dilatih Indra Sjafri.

Milla tak ingin tiga jenjang Timnas itu punya filosofi bermain berbeda-beda. Kondisi itu membuat Milla leluasa untuk mengambil pemain dari kelompok usia mana pun karena sudah punya gaya bermain sama.

Ia membuka mata bahwa Indonesia kaya akan pesepak bola berbakat. Milla pula yang sanggup mengeluarkan kemampuan terbaik pemain.

Dengan kata lain, Milla sudah meletakkan fondasi yang baik. Plus, kerangka pengembangan pesepak bola.

Tak ada salahnya Kemenpora turun gunung membantu penggajian Milla. Paling tidak, bila sudah dianggarkan, maka laporan pertanggungjawabannya jelas alias bisa transparan. Beda hal jika lagi-lagi cuma PSSI yang mengupah Milla. Sebab, federasi punya rapor merah soal transparansi.

Jangan sampai Milla tertunggak lagi gajinya. Padahal, uangnya benar-benar tidak ada atau ada tapi entah ke mana. Tidak ada yang tahu.

Sekarang memang siapa Menpora yang baru belum terang. Susunan kabinet akan diumumkan setelah Jokowi-Ma’ruf Amin selesai dilantik pada 20 Oktober. Bukan tidak mungkin Menpora anyar mau memenuhi permintaan publik serta menyanggupi gaji pelatih 53 tahun itu.

Lalu, bicara adil atau tidak terhadap cabor lain bolehlah menengok gairah olahraga sendiri. Sepak bola merupakan olahraga nomor satu di Tanah Air. Industrinya pun sudah jauh mengungguli cabor lain. Soal penonton, tentunya jauh lebih banyak dan fanatik dibanding cabor lain.

Kenapa tidak pemerintah menggelontorkan dana Rp20 miliar agar Timnas jauh lebih baik. Bila wacana ini cuma berhenti sebagai diskursus lagi, hati publik pastinya retak. Kecintaan Milla kepada Indonesia pun bertepuk sebelah tangan.

“Ya, Milla cinta sama Indonesia. Yang mau Milla itu banyak. Dia masih menahan saja. Kalau tidak cinta, mungkin dia sudah lari ke negara lain yang gajinya jauh lebih gede. Dia masih menunggu peluang ke Indonesia. Tinggal Indonesia mau memanfaatkan atau tidak,” pungkas Gatot.

Komentar

Loading...