Unduh Aplikasi

Mundur Sajalah, Firli

Mundur Sajalah, Firli
Ilustrasi: daihatsu

FIRLI Bahuri terus mempertontonkan tingkah aneh. Kemarin, Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi ini bertemu dengan Pemimpin Dewan Perwakilan Rakyat, Puan Maharani. 

Sekilas, pertemuan antarpimpinan lembaga ini wajar. Namun saat melihat perkara Harun Masiku, kader Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan dan upayanya masuk ke lembaga DPR dengan cara menyuap seorang komisioner Komisi Pemilihan Umum, pertemuan ini jelas menyimpan sejumlah cacat.

Puan Maharani adalah pengurus partai yang diduga mendorong proses pergantian antarwaktu bermasalah itu. Pertemuan tertutup KPK dan Puan, yang diketahui publik itu, semakin menunjukkan bahwa komisioner KPK saat ini mirip politikus ketimbang pemberantas “tikus”.

Apalagi, nama Puan sempat muncul dalam kasus kartu tanda penduduk elektronik yang menyeret bekas politikus Partai Golkar Setya Novanto. Puan disebut-sebut menerima fee dari proyek triliunan rupiah itu.

Belum lagi, KPK sendiri gagal menggeledah kantor PDIP usai penangkapan Wahyu. KPK yang sebelumnya garang, kini seperti tanpa percaya diri. Bahkan untuk menggeledah kantor PDIP, sebagai bagian dari pengembangan kasus Wahyu, KPK tak mampu.

Harusnya para pemimpin KPK mengisolasi diri. Memastikan tidak ada pertemuan-pertemuan tak disengaja atau disengaja dengan para politikus.

Apalagi, dengan wewenang besarnya, para pemimpin dan pegawai KPK akan senantiasa dihadapkan dengan godaan. Namun bagi Firli, pertemuan dengan DPR ini tidak mengganggu nurani.

Kalau mau melihat ke belakang, urusan etika sepertinya jauh dari kamus Firli. Saat menjabat sebagai deputi di KPK, misalnya, Firli pernah bertemu dengan Zainul Majni, bekas Gubernur Nusa Tenggara Barat, yang saat itu diduga terlibat dalam kasus korupsi yang ditangani KPK.

Integritas adalah kunci keberhasilan KPK memberantas korupsi. Tanpa integritas, sulit bagi komisioner untuk menjadi garda terdepan dalam pemberantasan korupsi.

Di saat yang sama, satu per satu, penyidik yang dianggap berseberangan dengan Firli malah dikembalikan ke instansi asal. Mereka yang dulu menentang Firli, dihilangkan perannya. Kalau terus menerus seperti ini, Firli lebih baik mundur. Karena keberadaannya di komisi antirasuah itu malah jadi antitesis perlawanan terhadap koruptor.

Iklan Kriyad

Komentar

Loading...