Unduh Aplikasi

Mulutmu Harimaumu, Adi

Mulutmu Harimaumu, Adi
ilustrasi

SETIAP orang di negeri ini berhak menyampaikan pendapat. Ini adalah negara bebas, meski tak bisa dikatakan sekuler. Sejak reformasi bergulir, hampir setiap hal dapat dikritik dan dibicarakan. Tak ada tabu sepanjang itu diyakini kebenarannya.

Orang-orang berlomba mengutarakan pendapat di warung-warung kopi, di media sosial, di halaman-halaman koran, di dalam ruang diskusi. Satu-satunya ganjalan yang kerap kali digunakan untuk membungkam kebebasan berpendapat adalah pasal-pasal pidana tentang pencemaran nama baik dan ujaran kebencian.

Sayang, kebebasan berpendapat ini sering kali disalahartikan dengan kebebasan untuk mengatakan apa saja. Termasuk menghasut dan menjelek-jelekkan orang lain secara terang-terangan di depan acara resmi semisal kampanye politik.

Seperti yang diutarakan oleh Suadi Sulaiman alias Adi Laweung, juru bicara salah satu partai politik lokal. Dia menyebut dua tokoh senior Gerakan Aceh Merdeka yang menjabat dan sedang menjabat sebagai Gubernur Aceh, Zaini Abdullah dan Irwandi Yusuf, dengan sebutan laknat. Kata-kata itu disampaikan di hadapan sejumlah orang di Sabang.

Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, laknat berarti orang yang terkutuk. Mungkin saja Adi Laweung bermasalah dengan dua sosok tersebut karena sesuatu hal yang tak diketahui oleh publik. Atau mungkin Adi Laweung hanya mencari sensasi agar dianggap “pejuang partai” dan mendapat tempat dari atasannya sebagai pengikut setia. Maklumlah, Zaini dan Irwandi dianggap pembelot. Mereka berseberangan dengan kebijakan partai yang diwakili Adi Laweung pada Pemilihan Kepala Daerah Aceh 2017.

Tapi tetap saja alasan-alasan itu belum cukup untuk membuat Adi Laweung berbicara vulgar. Dia seperti tak memikirkan dampak perkataan yang diucapkan secara terbuka. Bukan saja soal menebar kebencian atau penghinaan, lebih buruk lagi, perkataan ini dapat menjerumuskan partai yang diwakilinya karena publik akan semakin mengecap partai itu sebagai partai yang “minim” sopan santun.

Sebagai seorang publik figur, Adi Laweung harusnya berpikir lebih cepat ketimbang nafsu di ujung lidahnya. Karena perkataannya sebagai representasi partai dapat diikuti oleh pengikut yang membabi buta dengan tindakan yang lebih buruk. Kata-kata itu dapat memicu perselisihan dan menambah ketegangan dalam proses pilkada.

Mengutip sebuah petuah bijak, lisan seorang yang berakal berada di bawah kendali hatinya. Ketika dia hendak berbicara, maka dia akan bertanya terlebih dahulu kepada hatinya. Apabila perkataan tersebut bermanfaat bagi dirinya, maka dia akan berbicara. Bila tidak, maka dia akan diam.

Adapun orang yang bodoh, hatinya berada di bawah kendali lisannya. Dia akan berbicara apa saja yang ingin diucapkan oleh lisannya. Seseorang yang tidak bisa menjaga lidahnya berarti itulah dirinya yang sebenarnya. Harusnya partai yang diwakili AdiLaweung berpikir ulang tentang keberadaannya sebagai juru bicara partai itu.

Komentar

Loading...