Unduh Aplikasi

INTERMESO

Mulutmu, Belatimu

Mulutmu, Belatimu
Ilustrasi: pngdownload

SEBENCI-bencinya terhadap Wiranto, Bang Awee tetap tak terima saat Menteri Koordinator Bidang Hukum dan Hak Asasi Manusia itu ditusuk belati. Akibat tindakan itu, bekas ajudan Presiden Suharto itu harus menjalani perawatan intensif akibat luka di perut. Luka Wiranto itu seperti dirasakan juga oleh Bang Awee yang bukan siapa-siapa.  

Beberapa hari lalu, di Pandeglang, Banten, Wiranto ditikam oleh seorang pria saat melawat ke sebuah pesantren termasyhur di daerah itu. Terlepas apapun motivasi pelaku, menjadikan seorang menteri senior sebagai target kejahatan adalah kejahatan serius. “Di era modern ini, paling-paling kita melihat seorang politikus di luar negeri dilempari telur oleh seorang pemuda. Memang tidak melukai fisik. Harga diri, mungkin,” kata Bang Awee kepada kami di sebuah warung kopi di Lampu Merah Batoh, Banda Aceh, kemarin malam.

Menurut Bang Awee, di negeri ini, kisah kekerasan terhadap jenderal hanya terjadi saat sekelompok tentara menculik jenderal pada masa Presiden Sukarno berkuasa. Kejadian ini dikenal dengan sebutan G-30-S PKI. Dalam film yang terus menerus diputar pada menjelang Hari Kesaktian Pancasila, saat itu Bang Awee masih duduk di sekolah dasar. 

Tapi Wiranto bukan jenderal sembarangan. Dia adalah salah satu dari sedikit orang yang bertahan di setiap pergantian rezim. Kejadian itu jelas menjadi sebuah tamparan terbesar citra kepolisian. Bisa dikatakan, mereka gagal mengamankan pejabat negara. Apalagi, mereka terlihat sangat garang terhadap mahasiswa dan para demonstran yang memprotes pelemahan Komisi Pemberantasan Korupsi lewat komisioner bermasalah dan revisi undang-undang, beberapa waktu lalu. 

Belakangan ini, sosok Wiranto dikenal menjadi pembicaraan karena ucapan yang kontroversial dan rada tak peka. Dia menyebut kabut asap akibat kebakaran hutan di Riau tak separah diberitakan saat banyak anak-anak dan orang dewasa mengalami sesak napas akut. Dia juga dianggap pengungsi di Maluku setelah gempa bumi adalah beban pemerintah. Saat pemilihan umum, Wiranto mengusulkan para penyebar kabar bohong di media sosial dijerat dengan pasal terorisme. Dengan sesama bekas jenderal pun dia juga berseteru. Padahal itu bukan urusan yang penting-penting amat.

Tapi ini semua harusnya tidak jadi pembenaran bagi seseorang untuk mencederai orang lain. Ketidaksukaan itu harusnya bisa disampaikan lewat saluran-saluran demokrasi yang ada. Berlaku anarki bukan sebuah penyelesaian. Tidak di Pandeglang, tidak pula di Wamena. Hal itu malah membuat orang tak bersimpati.  Apalagi Wiranto hanya manusia biasa yang menjalankan perannya sebagai pembantu presiden. 

Namun Bang Awee berharap reaksi negara tidak berlebihan dalam menangani hal ini. Para pejabat dan juga hendaknya tidak terburu-buru memberikan stigma "radikalisme" terhadap penusuk Wiranto. Polisi harus membuka lebar pengusutan kasus ini, terutama motivasi dan aktor intelektual di balik tindakan brutal itu. Kepolisian jangan terlalu cepat menyimpulkan pelaku adalah seorang ekstrimis kanan. Hal ini hanya akan memperburuk suasana, khususnya umat Islam, yang terlalu jenuh dengan model penyelesaian seperti ini.

Di zaman yang serba sulit seperti ini, orang gampang terpancing dan terpengaruh. Tidak ada pekerjaan, perut yang lapar. Ketidakadilan hukum. Semua itu harus dihitung sebagai faktor yang mempengaruhi cara pikir masyarakat. Di masa sulit seperti ini, sedikit tawaran uang dan iming-iming "syahid", bisa membuat orang berubah untuk berbuat sesuatu yang tak masuk di akal.  

“Tapi dari semua ini, ada hikmah yang bisa kita ambil. Jangan sampai kejadian ini menjauhkan pejabat dari rakyat. Kejadian itu tak bisa disamaratakan. Masih banyak orang baik di negeri ini.  Berhati-hatilah sebelum bertindak dan berbicara.  Karena mulutmu adalah harimaumu,” kata Bang Awee.

Komentar

Loading...