Unduh Aplikasi

MPD Endus Ada Prostitusi Online Pelajar di Aceh Barat

MPD Endus Ada Prostitusi Online Pelajar di Aceh Barat
Ilustrasi Protistusi Online. Foto: IST

ACEH BARAT -  Majelis Pendidikan Daerah (MPD) mengendus saat ini, ada prostitusi online yang terjadi di Kabupaten Aceh Barat. 

Hal ini diketahui setelah adanya laporan dari Kepala Sekolah SMP, salah satu sekolah yang ada di Kabupaten Aceh Barat.

Ketua MPD Kabupaten Aceh Barat, Irsadi Aristora menyebutkan pihaknya mengetahui adanya prostitusi online berdasarkan laporan yang diperoleh dari pihak sekolah salah satu SMP di Kabupaten tersebut.

"Kita dapat laporan dari kepala sekolah dari salah satu sekolah SMP. Kalau sekolah tersebut ada siswanya yang menjadi korban prostitusi online," ujar Irsadi Aristora kepada AJNN, Jumat (27/11) di Meulaboh.

Bahkan menurut Irsadi, sesuai dengan pengakuan kepala sekolah tersebut, di SMP itu ada dua siswa yang menjadi korban.

Pasca mendapat laporan tersebut pihak MPD langsung menyampaikan persoalan tersebut kepada Satuan Bakti Pekerja Sosial (Peksos) Perlindungan Anak Kementrian Sosial.

Irsadi mejelaskan bahwa dalam aksinya sang mucikari tidak segan-segan mengancam korban jika tidak mau memenuhi keinginannya. Menurutnya, ancaman yang dilakukan oleh pelaku yakni dengan cara menyebarkan foto atau video syur yang direkam oleh si mucikari tersebut lewat media sosial.

Sementara itu Riska Misfuri, Peksos, Kementerian Sosial RI dibawah Dinas Sosial Kabupaten Aceh Barat menyebutkan, dari hasil investigasi yang dilakukan pihaknya sementara ini selain siswa SMP ada juga siswa SMA yang menjadi korban prostitusi online tersebut.

Dijelaskannya, dalam aksi yang dilakukan mucikari tersebut berawal dari berkenalan dengan para korbannya melalui media sosial Facebook. Dari sana sang mucikari, awalnya memikat korban.

"Memang sekarang banyak yang menggunakan media sosial tanpa batas oleh siapa saja termasuk dari korban. Nah disini awalnya korban didekati dan dipacari, lalu dari sana sang mucikari ini beraksi," kata Riska Masfuri.

"Setelah pacaran maka pelaku meminta hubungan lebih atau layaknya pasangan suami istri dengan cara merekam aksinya," sambungnya.

Setelah aksi ini mulus dilakukan, kata dia, baru setelah itu korban dijual kepada lelaki hidung belang. 

Jika korban tidak mau, kata Riska, maka pelaku mengancam menyebar video syur yang pernah direkamnya itu melalui jejaring sosial baik facebook maupun WhatsApp.

Tapi menurut Riska, meskipun kasus tersebut telah tersebar, namun korban maupun pihak sekolah belum bersedia melaporkan kasus tersebut kepolisi, sehingga pendampingan dari Peksos harus terhenti sementara. 

Komentar

Loading...