Unduh Aplikasi

PERINGATAN 12 TAHUN TSUNAMI

Monumen Tsunami di Aceh Barat Bisa Jadi Pusat Penilitian

Monumen Tsunami di Aceh Barat Bisa Jadi Pusat Penilitian
Plt Bupati Aceh Barat resmikan monumen tsunami di Desa Pasir. Foto: Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Pelaksana tugas (plt) Bupati Aceh Barat, Rachmat Fitri HD, mengatakan monumen tsunami berupa tugu di Desa Pasir, Kecamatan Johan Pahlawan tidak hanya dapat dijadikan sebagai objek wisata sejarah, namun juga menjadi pusat penelitian dam pendidikan atas peristiwa tsunami.

Menurut Rachmat apa yang diinisiasi oleh masyarakat Desa Pasir beserta Pemerintah Desa setempat patut diapresiasi, lantaran dengan ada monumen tersebut kedepannya akan terus menjadi pengingat bagi anak cucu tentang adanya peristiwa bersejarah berupa bencana gempa bumi dan tsunami.

“Apalagi monumen yang dibangun ini mencatat nama- nama korban tsunami yang merupakan warga desa ini sebanyak enam ratus lebih, serta ditugu depan bentuknya ada seperti gelombang laut, yang uniknya ada satu tugu lagi dengan ketinggian tujuh meter,” kata Haji Nanda--sapaan Rachmat Fitri HD, pada acara memperingati 12 tahun tsunami di Aceh Barat, Senin (26/12).

Baca: Warga Desa Pasir Bangun Monumen Tsunami Pakai Dana Desa

Dikatakannya, berdasarkan keterangan yang tertulis ditugu sepanjang tujuh meter tersebut, melambangkan tentang desa itu pernah dilanda gelombang tsunami setinggi tujuh meter, sehingga membuat desa itu porak poranda tanpa tersisa satu bangunan pun.

Tugu itu pula nantinya yang akan menjadi pengingat bagi warga pasir khsususnya dan warga Aceh Barat umumnya bagaimana tsunami menerjang Aceh 12 tahun silam itu.

"Apa yang telah dilakukan oleh Desa Pasir dapat ditiru oleh desa pesisir lainnya yang dulunya juga mengalami peristiwa yang sama, seperti Desa Kuala Bubon, dan Lhok Bubon yang berada di Kecamatan Suak timah," ujarnya.

Dirinya mengungkapkan sebenarnya pemerintah kabupaten setempat juga telah berencana membangun monumen tsunami berupa museum, bahkan telah memiliki master plan pembangunan, namun karena keterbatasan anggaran hingga saat ini perencanaan tersebut belum bisa dilaksanakan.

“Untuk membangun monumen tsunami sebenarnya kami ada niat, rencananya kami akan bangun museum sebagai tempat pendidikan, namun karena anggaran saat ini harus kami genjot ke insfrastruktur dasar seperti irigasi dan beberapa kebutuhan lainnya, sehingga ditunda dulu,” ujarnya.

Komentar

Loading...