Unduh Aplikasi

Mitigasi Setengah Hati

Mitigasi Setengah Hati
Ilustrasi: Devex.

KESIAPSIAGAAN terhadap bencana harusnya menjadi agenda rutin. Hal ini tidak sekadar dilakukan di saat-saat tertentu, salah satunya adalah momentum peringatan tsunami, setiap 26 Desember.

Setelah 16 tahun berlalu, kesadaran terhadap dahsyatnya bencana itu semakin menjauh. Lihat saja betapa warga tak lagi peduli terhadap bahaya yang mengancam setiap saat. 

Ketidakacuhan masyarakat terhadap ancaman ini harusnya jadi cermin bagi penguasa. Tidak hanya di tingkat pusat, namun juga di daerah-daerah. Karena apa yang terjadi di tengah masyarakat adalah refleksi dari sikap pemerintah yang cenderung memudahkan segala urusan. 

Selama ini, pemerintah melakukan pendekatan proyek terhadap mitigasi bencana. Masing-masing lembaga memiliki program kebencanaan sendiri-sendiri. Padahal seharusnya mitigasi terhadap bencana ini memiliki satu rencana induk yang diaplikasikan dalam program pembangunan dan terhadap kehidupan sosial. 

Salah satu contoh adalah semakin padatnya kawasan-kawasan permukiman di pesisir laut. Padahal, seharusnya, masyarakat didorong untuk menjauhi garis pantai. Bangunan-bangunan yang berjarak dekat dengan pantai pun seharusnya dibuat lebih tinggi sehingga dapat difungsikan sebagai bangunan evakuasi saat tsunami datang. 

Kesiapsiagaan merupakan salah satu faktor penting bagi masyarakat dalam menghadapi bencana. Hal ini penting untuk mengurangi risiko bencana. Gempa bumi, tsunami, adalah fenomena alam. Yang harus dilakukan oleh masyarakat adalah memastikan tidak ada korban jiwa saat bencana itu datang. 

Publik berharap agar Qanun Pendidikan Kebencanaan, yang akan segera disahkan di Dewan Perwakilan Rakyat Aceh, menjadi salah satu alat untuk meningkatkan pemahaman dan kesadaran terhadap bencana. Sebagai masyarakat yang menetap di atas Cincin Api, mitigasi bencana adalah kunci agar tak ada nyawa yang melayang sia-sia hanya karena kelalaian. 

Komentar

Loading...