Unduh Aplikasi

Mimpi Piala Adipura di Tengah Serakan Sampah

Mimpi Piala Adipura di Tengah Serakan Sampah
Tumpukan sampah di drainase Lueng Aneuk Aye, Pusat Pasar Tradisional Meulaboh. Foto: AJNN.Net/Darmansyah Muda

ACEH BARAT - Sampah masih menjadi pemandangan buruk di Meulaboh, Ibu Kota Kabupaten Aceh Barat. Hampir setiap titik, baik itu di saluran pembuangan air, maupun tepi ruas jalan protokol masih terdapat serakan sampah.

Pemandangan sampah di Aceh Barat sangat berbanding terbalik dengan mimpi Bupati Ramli MS, yang ingin mendapatkan Piala Adipura pada tahun ini.

Seperti yang terpantau AJNN, di saluran drainase Lhueng Aneuk Aye yang berada di pusat pasar tradisional Meulaboh, masih terlihat tumpukan-tumpukan sampah, baik sampah plastik maupun sampah sayuran.

Tumpukan sampah di sungai mati atau suak, Desa Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan, Aceh Barat. Foto: AJNN.Net/Darmansyah Muda

Tidak hanya di lokasi tersebut, serakan sampah juga terdapat di saluran parit sekitar Taman Hijrah. Di lokasi yang sering dimanfaatkan oleh pedagang kuliner Kaki Lima (K5) terdapat jenis sampah botol dan sampah plastik.

Selain itu, di Jalan Nasional juga terdapat beberapa titik tumpukan sampah, seperti di persimpangan Lorong Kuini, di lokasi ini menjadi tempat pembuangan sampah rumah tangga warga sekitar. Sampah juga terlihat di dalam sungai mati atau suak, yang berada di Desa Suak Ribee, Kecamatan Johan Pahlawan.

Menanggapi persoalan sampah yang hingga saat ini masih menjadi pemandangan buruk di daerah tersebut, Kepala DLHK, Muliadi, mengatakan pihaknya terus berupaya menjadikan Ibu Kota Aceh Barat itu bebas sampah.

Tumpukan sampah di selokan Taman Hijrah, Desa Panggong Meulaboh. Foto: AJNN.Net/Darmansyah Muda

Memang menurutnya, menjadikan daerah tersebut bebas sampah merupakan tantangan berat, mengingat kesadaran warga yang masih kurang dalam menjaga lingkungan kebersihan.

"Selama ini untuk menjadikan daerah kita bebas sampah, kami terus menyisir titik yang ada tumpukan sampah, dan kami bersihkan jika ada sampah begitu juga dengan tempat yang ada tumpukannya selalu kami angkut," kata Muliadi, Selasa (11/6).

Menurutnya selama ini warga masih menumpuk sampah di kawasan atau areal bebas sampah, seperti di ruas Jalan Nasional tepatnya Simpang Lorong Kuini. Di daerah itu, kata dia, setiap pagi sampah diangkut sekitar pukul 08.00 WIB, namun pukul 10.00 WIB sampah kembali menumpuk.

Kata dia, yang membuang sampah di Simpang Lorong Kuini bukan hanya warga di sekitar, namun yang tinggal daerah lain, sehingga saban hari tumpukan sampah di area steril tersebut selalu menggunung.

 Warga sedang membuang sampah di Simpang Lorong Kuini (Jalan Nasional) yang merupakan daerah steril sampah. Foto: AJNN.Net/Darmansyah Muda

"Kadang-kadang kalau kedapatan petugas, saat ada warga yang membuang sampah disitu selalu ditanya petugas, bapak tinggal dimana nanti biar sampahnya kami jemput saja jangan lagi buang disini, dan memberitahukan itu daerah steril," ungkapnya.

Muliadi menambahkan, pihaknya akan terus berusaha menyadarkan warga dan menjadikan daerah itu bebas sampah. Apalagi Pemerintah Kabupaten Aceh Barat bertekad memperoleh Piala Adipura dari Kementerian Lingkungan Hidup.

Tak mudah memang, kata dia, untuk mendapatkan Piala Adipura, namun rasa optimis terus dilakukan oleh otoritas yang berwenang dalam menciptakan kebersihan di Aceh Barat.

"Kami akan sebarkan spanduk, selebaran untuk mengimbau warga tidak buang sampah sembarangan. Karena untuk mendapat Piala Adipura, ada beberapa indikator yang dinilai seperti kenyamanan, keindahan, kebersihan, ketertiban, dan beberapa hal lainnya," ungkapnya.

Iklan Kriyad

Komentar

Loading...