Unduh Aplikasi

Mimpi Menerangi Aceh di Atas Bus Malam

Mimpi Menerangi Aceh di Atas Bus Malam
Pelepasan mahasiswa oleh Manajemen PLN Aceh dalam kegiatan Mahasiswa Ikut Bersama PLN Menerangi Aceh. Foto: ist
Idealisme adalah kemewahan terakhir yang hanya dimiliki oleh pemuda.”
― Tan Malaka

FOTO-foto itu memang tak berbicara. Tapi itu cukup untuk menjelaskan banyak hal. Keceriaan dan kegembiraan terpancar jelas di wajah para mahasiswa pilihan dari seluruh universitas dan sekolah tinggi yang diajak menyambangi pusat-pusat energi dan operasional milik PT Perusahaan Listrik Negara di Medan, Sumatera Utara.

Keberangkatan itu terjadi tak lama setelah puluhan mahasiswa berdemo di depan kantor PLN Aceh. Mereka memprotes pelayanan buruk perusahaan pemegang monopoli listrik itu. Pelayanan tak becus yang membuat listrik di Banda Aceh dan hampir seluruh wilayah Aceh bermasalah.

Kepergian ini meninggalkan beribu tanda tanya. Terutama tentang alasan PLN mengajak mahasiswa untuk berpiknik. Namun bagi PLN, ini adalah upaya yang harus mereka lakukan untuk mengurangi tekanan publik karena tak mampu mengurusi listrik. Langkah ini tak salah jika dilihat dari sudut pandang PLN. Ini adalah cara humas perusahaan bekerja; merangkul semua; mengurangi tekanan.

Namun akan lain ceritanya jika masyarakat yang melihat. Masyarakat yang cukup menderita akibat pemadaman listrik. Bahkan mahasiswa lain juga mempertanyakan alasan “kawan-kawan” mereka berangkat dengan biaya dari PLN. Mereka menyebutnya sebagai “penghianatan” terhadap nilai-nilai idealisme yang harusnya tetap dipertahankan oleh mahasiswa.

Di kalangan mahasiswa dan "dunia pergerakan mahasiswa", hal ini juga bukan baru pertama terjadi. Di setiap perjuangan, akan ada orang-orang yang maju dan tampil ke panggung, saat teman-teman lain “berdarah-darah”. Yang teranyar adalah tunduknya sejumlah aktivis Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) seluruh Indonesia. Mei tahun lalu, mereka berkoar-koar ingin melengserkan Presiden Joko Widodo.

Namun dalam sekejap hal ini berubah. Dengan pesonanya, Jokowi mengundang mahasiswa ini ke Istana Negara. Meski tak membatalkan aksi, hal ini cukup membuat suara mahasiswa terpecah. Dan memang, inilah cara untuk meredam pergerakan.

Pandangan segerombolan mahasiswa tentang pelayanan listrik di Aceh, sepulang dari usaha mereka “mengumpulkan data” di Medan, tentu menarik untuk kita tunggu. Jangan-jangan, kursi empuk bus malam benar-benar meninabobokkan mereka. Dan keinginan untuk menerangi Aceh, hanya mimpi belaka. Tan Malaka pernah berujar, “bergelap-gelaplah dalam terang, berterang-teranglah dalam gelap.”

Komentar

Loading...