Unduh Aplikasi

Meugang di Pidie Jaya, Protokol Kesehatan Covid-19 Terabaikan

Meugang di Pidie Jaya, Protokol Kesehatan Covid-19 Terabaikan
Kondisi meugang di Pasar Lueng Putu, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Foto: AJNN/Muksal

PIDIE JAYA - Kondisi pelaksanaan hari meugang di Kabupaten Pidie Jaya seperti meugang-meugang sebelumnya. Namun, protokol kesehatan yang dikeluarkan pemerintah demi mencegah penyebaran virus corona atau Covid-19 terabaikan.

Seperti diketahui, pemerintah telah mengimbau untuk menjaga jarak dan memakai masker saat keluar rumah. Hal itu untuk mencegah penyebaran virus corona. Namun, himbauan tersebut terpantau tidak diindahkan pada pelaksaan meugang di Kabupaten Pidie Jaya.

Kepala Disperindagkop Pidie Jaya, M Nasir yang dikonfirmasi AJNN, Kamis (23/4), pihaknya telah menetapkan protokol kesehatan dengan membatasi jarak antar pedagang, tetapi, banyaknya masyarakat yang ingin membeli kebutuhan meugang tidak dapat dibendungkan.

"Untuk pedagang daging telah kami batasi minimal jarak 3 meter antar pedagang. Kami juga memberikan masker kepada penjual daging. Namun ramainya masyarakat ke pasar kan tidak mungkin kita bubarkan. Dan kami juga menempatkan 20 petugas di setiap pasar guna memberi sosialisasi kepada masyarakat," kata Nasir.

Ia menyebutkan, meski pada hari meugang banyak masyarakat ke pasar, tetapi penjual daging tidak sebanyak seperti hari meugang sebelumnya.

"Penjual daging tidak sebanyak meugang tahun lalu, karena batas jarak tersebut. Apalagi di Kecamatan Bandar Dua (Ulee Gle), disana penjual dan pembeli pada meugang ini berkurang, karena masyarakat Kecamatan Jangkabuya yang biasanya beli daging ke pasar Ulee Gle tidak banyak yang membeli hari ini, di Jangkabuya semua gampong kemarin ada pemotongan hewan yang dibagikan secara gratis kepada masyarakat," jelasnya.

Sementara untuk harga daging meugang Pidie Jaya hari ini bertahan pada harga dari Rp 170 ribu hingga Rp 180 ribu.

Kondisi meugang di Pasar Lueng Putu, Kecamatan Bandar Baru, Pidie Jaya. Foto: AJNN/Muksal

"Harga dagingnya Rp 170 ribu - Rp 180 ribu," sebut Ansari, salah seorang penjual daging di Pasar Kecamatan Bandar Baru.

Sementara itu, Kepala Puskeswan Kecamatan Bandar Baru, Mukhlis yang bertugas sebagai pemeriksa kesehatan hewan dan pemotogan di tempat umum dalam kecamatan itu menerangkan, daging meugang di Kabupaten Pidie Jaya sangat layak untuk dikonsumsi.

"Tidak ditemukan cacing pada daging, bebas penyakit, dan sangat layak untuk dikonsumsi," terang pria yang tenar dengan nama Mukhlis Ben AW itu.

Dikatakan, untuk Kecamatan Bandar Baru pada meugang kali ini, pemotongan hewan turun drastis. Biasanya, di kecamatan paling barat Pidie Jaya itu pemotongan hewan mencapai 60 hingga 70 ekor.

"Meugang kali ini hanya 35 ekor hewan yang dipotong di Kecamatan Bandar Baru. Hal ini karena,mungkin batasan jarak yang ditetapkan pemerintah demi mencegah penyebaran virus corona, dan juga ada pemotongan hewan hampir di setiap gampong," jelasnya.

Untuk diketahui, setiap pedagang daging meugang di Pidie Jaya wajib membayar retribupemerinksaan dan pemotongan hewan kepada pemerintah setempat sebesar Rp 60 ribu, kewajiban itu sesuai Qanun Bupati Pidie Jaya nomor 2 tahun 2014.

Besaran retribusi itu belum termasuk retribusi kepada Disperindagkop sebesar Rp 50 ribu setiap lapak.

Komentar

Loading...