Unduh Aplikasi

Merawat Harmoni di Pusong 

Merawat Harmoni di Pusong 
Suasana di Gampong Pusong, Kecamatan Banda Sakti, Kota Lhokseumawe. Foto: AJNN/Sarina

PAGI baru saja menampakkan wujud. Suasana Gampong Pusong terlihat ramai. Kendaraan berseliweran memecah keheningan di gampong yang terletak di Kecamatan Banda Sakti, Lhokseumawe. Anak-anak kecil berlarian atau bermain sepeda, orang tua duduk di warung-warung menyeruput kopi panas dari atas piring kecil. 

Desa memang selalu ramai. Bahkan hingga tengah malam. Warga desa ini sebagian besar bekerja sebagai nelayan. Sebagian lain berjualan ikan di Pasar Pusong. Ada juga yang bekerja sebagai pegawai negeri dan berdagang.

Tak hanya profesi, penduduk di desa ini juga terdiri dari berbagai keyakinan agama. Keuchik Gampong Pusong Lama, Teungku Kaharuddin, mengatakan penduduk nonmuslim hidup bermasyarakat dengan penduduk asli yang beragama Islam. 

“Mereka berbaur dengan masyarakat muslim. Kita juga menerima mereka tanpa memandang latar belakangan agama,” kata Kaharuddin, Senin lalu. 

Di kampung ini, kata Kaharuddin, berdiri dua Vihara Buddha Tirta dan HKBP Gereja Methodist Indonesia. Jarak antara gereja itu dengan masjid hanya sekitar satu kilometer. Menurut Kaharuddin, masyarakat muslim tidak pernah merasa terganggu dengan kehadiran mereka. Apalagi ketika beribadah, penduduk minoritas itu juga tidak pernah mengganggu. Masing-masing warga, kata Kaharuddin, saling menghormati.

Pada 1998, saat terjadi demonstrasi menuntut reformasi, yang disertai dengan aksi penjarahan serta penyerangan terhadap etnis Cina, sejumlah orang berniat membakar gereja yang dibangun di Pusong. Namun rencana itu tak terwujud setelah warga Pusong memberikan penjelasan kepada orang-orang tersebut untuk saling menghargai. 

Kaharuddin mengatakan keharmonisan di Pusong, yang diwarisi secara turun menurun, adalah buah dari keterbukaan dan rasa saling percaya antarumat beragama. Dia berharap agar warisan ini juga dapat diteruskan oleh generasi berikut dan menjadi legasi setiap generasi di Pusong.

Ketua Yayasan Vihara Budha Tirta, Eddy, mengatakan hubungan seluruh warga Pusong, apapun agama mereka, sangat harmonis. Seluruh warga, kata dia, saling bersosial dan bekerja sama. Mereka, kata Eddy, tak pernah diteror atau menerima ancaman meski berstatus sebagai warga minoritas. 

“Gereja kita juga pernah diancam bakar dulu. Namun warga Pusong ini jiwa sosialnya luar biasa, mereka sanggup tahan badan untuk mencegah itu,” kata Eddy. “Kami juga mengucapkan terima kasih banyak kepada penduduk Pusong yang selalu bersikap baik dan peduli terhadap kami.”

Teungku Syuhada Abdullah, salah satu pemuka masyarakat Pusong, mengutip sebuah hadis, mengatakan sepanjang kaum nonmuslim tidak mengganggu, maka umat Islam tidak boleh mengganggu mereka. 

“Di manapun mereka berada, apalagi mereka minoritas, kalau memang mengikuti aturan di lokasi tertentu, di mana saja bisa hidup. Dan umat Islam tidak boleh mengganggu mereka,” kata Syuhada .

Antropolog Universitas Malikussaleh, Teuku Kemal Fasya, mengatakan selama ini tidak ada hal yang memantik perselisihan berlatar belakang agama. Namun selama ini, pemerintah jarang mengampanyekan multikulturalisme. 

“Yang jadi masalah, karena tidak ada promosi dari Pemerintah tentang multikulturalisme, jadi konfigurasi antarumat berjalan dalam logika adaptasi,” kata Kemal.

Selama ini, kaum minoritas mencoba memahami mayoritas dan mayoritas tidak bersikap agresif kepada minoritas yang adaptif itu. Di sini, kata dia, harus ada momen kegiatan bersama antarumat pada momen-momen kebudayaan dan seremonial nasional.

Misalnya pada momen pawai 17 Agustus, harus ditampilkan parade dari komunitas berbeda dengan pakaian dan identitas mereka yang asli, dan bukan artifisial, misalnya harus dipakaikan selendang atau celana perempuan Aceh.

Kemal mengatakan semua kebudayaan harus diberikan ruang mengekspresikan keunikan mereka, sepanjang tetap dalam konteks daerah yang bersyariat, seperti di Uni Emirat Arab, Qatar, Kuwait, Malaysia. Bukan model represif seperti Sudan, Yaman, Pakistan, atau ISIS.

Kondisi kehidupan antarumat beragama di Lhokseumawe, kata Kemal, tidak menunjukkan gelagat ketidakrukunan. Bahkan tak ada pemaksaan bagi nonmuslim untuk berpindah agama atau menggunakan simbol agama Islam, seperti mengenakan jilbab.

Kepala Kementerian Agama Lhokseumawe, Tgk Boihaki, umat Islam hidup dalam toleransi. Hal ini menyebabkan hubungan sosial terjalin dengan baik. “Kita tidak boleh memaksa keyakinan kita kepada orang lain,” kata Boihaki.

Memang, kata Boihaki, ada aturan yang membatasi umat Nasrani atau lainnya tidak untuk tidak memperluas tempat ibadah atau mendirikan bangunan baru. Namun mereka bebas merawat atau merenovasi rumah ibadah tersebut. “Mungkin Pusong patut dijadikan percontohan untuk menyatukan kembali perpecahan akibat isu agama di seluruh Nusantara.”

Komentar

Loading...