Unduh Aplikasi

Menyalahkan Tuhan

Menyalahkan Tuhan
Ilustrasi: Times.

JUMLAH korban akibat banjir besar di dua kabupaten di Aceh harusnya cukup bagi pemerintah untuk segera bertindak. Banjir itu benar-benar mengorbankan banyak hal dan memiskinkan banyak orang. 

Di Aceh Utara, hujan dengan intensitas tinggi, selama tiga hari berturut-turut, menyebabkan 87 desa di 23 kecamatan di wilayah di Aceh Utara dikepung banjir. Hujan juga menyebabkan Krueng Keureuto dan Krueng Peuto meluap. Debit air tak sanggup ditampung sungai dan meluber ke permukiman warga.

Di daerah ini, sedikitnya 18 ribu jiwa harus mengungsi dari tempat tinggal mereka. Akses jalan terputus. Rumah-rumah rusak dan tertimbun lumpur. Bendungan banjir.

Di Aceh Timur, banjir menyebabkan 184 desa di 17 kecamatan di Aceh Timur dikepung banjir. 1.911 kepala keluarga, atau sekitar 7.168 jiwa, terpaksa mengungsi. 3.000 hektare sawah terancam gagal panen.

Banjir ini harus segera ditangani serius. Di mulai dari hulu. Pemerintah daerah Aceh Utara dan Aceh Timur perlu bekerja sama dengan Pemerintah Kabupaten Aceh Tengah dan Pemerintah Kabupaten Bener Meriah harus duduk bersama membahas masalah ini.

Penanganan ini tak bisa dilepaskan dari sungai yang menghubungkan empat daerah itu. Penanganan yang salah, termasuk kerusakan hutan di bagian hulu, sangat berpengaruh pada limpasan yang merendam daerah-daerah di pesisir.

Kita tak boleh terus menyalahkan Tuhan atas banjir ini. hujan memang turun dengan deras, tapi buruknya kondisi tutupan permukaan bumi, terutama di kawasan hutan dan resapan, membuat air dari gunung tak terbendung.
Tanah yang terbawa air lantas mengendap di lantai sungai yang menyebabkan pendangkalan. Kondisi ini terjadi bertahun-tahun tanpa dibuat antisipasinya.

Karena itu, Pemerintah Aceh harus mengajak seluruh kepala daerah di Aceh duduk dan membahas tentang pemeliharaan kawasan hulu. Banjir ini sudah cukup menjadikan memiskinkan. Dan kita tidak bisa terus menerus menyalahkan Tuhan atas kegagalan kita merawat ciptaannya. 

Komentar

Loading...