Unduh Aplikasi

Menjerat Yang Tersirat

Menjerat Yang Tersirat
Ilustrasi: the lovett centre.

EKSPOSE yang dilakukan di Kantor Badan Pengawasan Keuangan dan Pembangunan Aceh menjadi kunci penting untuk mengungkap dugaan korupsi lanjutan pembangunan pengaman pantai Cunda-Meuraksa di Lhokseumawe. Untuk proyek itu, pemerintah kota mengalokasikan dana sebesar Rp 4,9 miliar serta uang Rp 73,6 juta, keduanya bersumber dari dana Otonomi khusus (Otsus) 2020. 

Rekanan proyek ini telah mengembalikan uang itu ke kas daerah. Persis sejumlah yang mereka ambil dari kas negara meski pekerjaan itu tidak pernah mereka kerjakan. Uang itu ditarik dalam dua termin. Pertama sebesar 20 persen, seolah-olah uang muka Rp 845 juta lebih, dan kedua 88 persen, yakni sebesar Rp 3,4 miliar lebih.

Banyak pihak khawatir kasus ini akan mengendap karena rekanan mengembalikan uang yang coba mereka tilep itu. Namun BPKP Aceh dan Kejaksaan Negeri Lhokseumawe sepakat bawah dalam kejadian ini ditemukan indikasi korupsi. 

Ekspose substansi ini merupakan standar operasional prosedur (SOP) bagi BPKP Aceh untuk menilai layak tidaknya melakukan investigasi atas dugaan korupsi proyek lanjutan pembangunan pengaman pantai Cunda-Meuraksa kota Lhokseumawe. Kejaksaan juga sepakat kasus ini memenuhi unsur melawan hukum dan kerugian negara. 

Namun yang paling penting dalam penuntasan kasus korupsi adalah mengungkap hal yang tersirat. Sering kali aparat penegak hukum hanya mengejar hal-hal yang tersurat, seperti aktor di lapangan dan lain sebagainya. Sedangkan mereka yang mendalangi, orang-orang yang menjadi otak dari sebuah kejahatan melenggang bebas. 

Kasus ini tak boleh berhenti di tingkat rekanan atau aparatur sipil saja. Kejaksaan, dengan bantuan BPKP Aceh, harus menyeret aktor-aktor yang mencoba mencuri uang negara ke meja hijau. Kasus ini adalah kejahatan serius. Sepertinya para pelaku merasa tidak puas dengan kejahatan yang mereka lakukan selama ini dan terus mencoba melakukan kejahatan lain, lagi dan lagi. 

Kejaksaan dan BPKP Aceh juga jangan lupa bahwa yang mereka coba curi adalah uang negara yang berasal dari dana otonomi khusus. Dana besar yang digelontorkan sebagai kompensasi “perang” itu harusnya menjadi instrumen penting dalam peningkatan kesejahteraan rakyat. 

Namun “berkat” orang-orang culas, seperti yang mencoba memanipulasi proyek ini, manfaat uang itu sangat sedikit dirasakan oleh rakyat Aceh. Harus ada efek jera agar kasus seperti ini tidak terulang. 

Komentar

Loading...