Unduh Aplikasi

Menjaga Kesimbangan Antara Kesehatan dan Perekonomian

Menjaga Kesimbangan Antara Kesehatan dan Perekonomian
Teuku Munandar. Foto: Ist

Oleh: Teuku Munandar

Di masa pandemi seperti saat ini, antara ekonomi dan kesehatan akan terjadi trade off. Saat protokol kesehatan khususnya Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) diperketat untuk menekan kenaikan kasus Covid-19, maka sektor ekonomi akan mengalami tekanan. Sementara sebaliknya saat protokol kesehatan diperlonggar, roda perekonomian dapat bergerak meskipun dampak negatifnya adalah kenaikan kasus Covid-19.

Hasil penelitian McKinsey & Company pada Juni 2020 menyebutkan bahwa berkurangnya mobilitas selama lockdown berkolerasi dengan menurunnya angka penularan virus. Sedangkan pada sisi lain, dampak pengetatan PSBB pada ekonomi tercermin dari merosotnya pertumbuhan ekonomi di beberapa negara, bahkan menjurus ke kontraksi.

Bagi masyarakat berpendapatan tetap seperti PNS, atau yang memiliki tabungan yang cukup untuk membiayai kebutuhan hidup dalam jangka panjang, maka pengetatan PSBB tidak akan menimbulkan permasalahan ekonomi rumah tangga.

Namun bagi masyarakat yang bekerja di sektor informal, dengan pendapatan yang tidak tetap dan sangat bergantung pada aktivitas masyarakat, maka pengetatan PSBB akan menimbulkan permasalahan baru, yaitu kesulitan dalam mencukupi kebutuhan pangannya.

Mereka bukan tidak takut terhadap ganasnya virus korona, tapi ada bahaya lainnya yang lebih mereka takuti, yaitu ancaman kelaparan yang menyerang dirinya dan keluarga akibat hilangnya penghasilan. Bayangkan, apa yang terjadi bagi masyarakat kecil pembuat kue-kue tradisional yang biasa dijajakan di warung kopi, bila pemerintah melakukan pengetatan PSBB, atau mayoritas masyarakat memilih untuk memilih berdiam diri di rumah meskipun PSBB sudah dilonggarkan.

Kemungkinan besar si pembuat kue akan kehilangan penghasilan dari penjualan kuenya, padahal selama ini hasil penjualan kue menjadi sumber utama untuk membiayai kebutuhan hidupnya.

Hal yang sama juga terjadi pada masyarakat yang bekerja di sektor informal lainnya seperti pengemudi becak dan transportasi online. Belum lagi dampak lainnya yang lebih besar diantaranya bertambahnya jumlah pengangguran akibat banyak usaha yang tidak sanggup lagi menggaji pegawainya di tengah lesunya permintaan barang/jasa oleh masyarakat.

Pasar menjadi sepi, warkop/restoran tidak ada pengunjung, dan tempat wisata terlihat lenggang. Ada yang bilang bukankah perdagangan masih bisa berjalan, melalui media online/daring. Memang betul, transaksi online bisa menjadi salah satu solusi di masa pandemi.

Namun dengan budaya masyarakat dan segala keterbatasan yang masih dihadapi dalam aktivitas perdagangan elektronik di Aceh, transaksi online belum bisa berperan banyak untuk menggantikan transaksi tradisional dalam aktivitas perdagangan masyarakat.

Lalu bagaimana solusi yang tepat untuk menghadapi permasalahan kesehatan dan ekonomi ini? Saya menilai kebijakan yang dipilih oleh Pemerintah Indonesia sudah tepat, dengan mengambil jalan tengah berupa pelonggaran di bidang kesehatan agar ekonomi dapat berputar, namun protokol kesehatan tetap menjadi perhatian.

Jadi masyarakat diperkenankan melakukan aktivitas, namun harus disiplin terhadap protokol kesehatan, diantaranya mengenakan masker, menjaga jarak, menghindari pertemuan di ruang tertutup dan kerumunan, serta membudayakan mencuci tangan.

Kebijakan serupa juga dilakukan oleh beberapa negara di Eropa diantaranya Italia, seperti yang dikemukakan oleh Perdana Menteri Giuseppe Conte, bahwa untuk menghindari kerusakan sosial ekonomi yang semakin parah, pembukaan lockdown dilakukan dengan persyaratan semua perusahaan harus menerapkan protokol kesehatan dengan ketat.

Agar kebijakan yang ditempuh berjalan dengan baik, penegakkan aturan harus dilakukan, untuk memastikan masyarakat mematuhi protokol kesehatan dalam aktivitas kesehariannya. Pengusaha dan pelaku ekonomi yang melanggar aturan, harus ditindak secara bertahap, mulai dari diberikan peringatan hingga penutupan usaha. Dengan begitu, tujuan dari pelonggaran PSBB untuk menjaga berputarnya roda perekonomian namun tetap concern memitigasi peningkatan kasus Covid-19 dapat tercapai.

Jangan sampai akibat kesalahan segelintir pengusaha yang tidak menerapkan protokol kesehatan di tempat usahanya, menjadikan pemerintah mengambil langkah pengetatan PSBB yang dampaknya dirasakan oleh seluruh pengusaha. Semoga dengan menjaga keseimbangan antara upaya untuk menekan kasus Covid-19 dengan tetap menggerakkan perputaran roda perekonomian, dampak yang ditimbulkan akibat pandemi Covid-19 baik dari segi kesehatan maupun ekonomi dapat diminimalisir.

Penulis adalah Kepala Tim Advisory Ekonomi Keuangan Bank Indonesia Provinsi Aceh

Note: Tulisan ini tulisan pribadi, tidak mewakili lembaga tempat penulis bekerja

Komentar

Loading...