Unduh Aplikasi

Mengurangi risiko bencana secara psikologis

BANDA ACEH -  Sudahkan kita belajar dari pengalaman gempa dan Tsunami Aceh pada tahun 2014 lalu, bagaimana kalau semua itu terulang kembali? Begitulah sebuah pertanyaan yang dilontarkan oleh Yulia Direski.

Pertanyaan tersebut diutarakannya pada diskusi publik, pengurangan risiko bencana sedunia, Senin (13/10) di Banda Aceh. Diskusi tersebut diadakan oleh Himpunan Mahasiswa Magister Ilmu Kebencanaan (Hibeuna) Unsyiah.

Menurut  Yulia, Psikolog Unsyiah ini, Aceh tidak benar-benar belajar dari pengalaman masa lalu dalam mengguragi resiko bencana, pada umumnya masyarakat tidak mampu mengendalikan kepanikan, pada saat bencana, ia memisalkan masyarakat masih mengalami kepanikan yang luar biasa pada saat gempa tahun 2012 lalu.

Hal tersebut disebabkan selama ini masyarakat hanya di beri pemahaman mengurangi resiko bencana hanya sebatas fisik saja sedangkan secara Spisikologis masih belum memadai.

“Sehingga menimbulkan kepanikan yang luar biasa pada saat dilanda bencana,” ujar Yulia.

Ia mengemukakan kesiap siaga bencana dalam masyarakat tidak hanya di bekali dengan pelatihan fisik belaka, melainkan harus di dukung  oleh kesiapsiaga secara psikologis, mental dalam menghadapi situasi sulit.

“Kesiap siaga secara psikologis sangat penting untuk menuntut seseorang tidak hanya memiliki pengetahuan tentang resiko, tapi juga memiliki kemampuan untuk mengatasi ketegangan  dan kepanikan yang di picu oleh suatu keadaan bencana,” jelas Yulia.

HENDRA KA

Komentar

Loading...