Unduh Aplikasi

Mengungkap Misteri Dibalik Kaburnya Imigran Rohingya dari BLK Lhokseumawe

Mengungkap Misteri Dibalik Kaburnya Imigran Rohingya dari BLK Lhokseumawe
Dandim 0103 Aceh Utara, Oke Kristiyanto. Foto: AJNN/Sarina

LHOKSEUMAWE – Sepekan lebih dihabiskan Kodim 0103 Aceh Utara mengintai upaya percobaan agen trafficking membawa kabur Imigran asal Myanmar etnis Rohingya dari Balai Latihan Kerja (BLK) Meunasah Mee, Kandang, Kota Lhokseumawe.

Bermodus menggunakan angkutan umum jenis labi-labi, wanita berinisial TP (Rohingya) yang bekerja sebagai tukang strika dari Medan, dibayar upah Rp1 juta oleh Rohim (agen) saat ini tinggal disalah satu hotel di Medan Sumatera Utara, untuk menjemput tiga rohingya dari BLK Lhokseumawe dan membawanya ke kota tersebut.

“Kita sudah sepekan mengintai upaya membawa kabur Rohingya dari Camp (tempat penampungan sementara, kali pertama kita tangkap lima orang, namun tidak ada bukti, dikembalikan lagi ke BLK Lhokseumawe,” kata Dandim 0103 Aceh Utara, Oke Kristiyanto, Sabtu (17/10) malam.

Dikatakan Dandim, setelah gagal di kali pertama, petugas kembali memergoki mobil berwarna merah, hendak memasuki areal BLK Lhokseumawe, namun karena lebih dulu kepergok dengan petugas, mobil tersebut bergegas kabur.

“Ini untuk kali ketiga, kita berhasil memergoki dan menangkap mereka, lima orang. Satu wanita etnis rohingya yang datang dari Medan untuk menjemput, Supir labi-labi dan tiga Imigran Rohingya yang baru keluar dari BLK,” ujarnya.

Sebelum tiga Imigran Rohingya memasuki angkutan labi-labi, mereka terlebih dahulu dihubungi oleh Rohim dan meminta keluar Camp, untuk menaiki kendaraan yang sudah menunggu di depan.

Namun, TP wanita yang diupah dari Medan itu, menunggu dan mengintai di salah satu kafe dengan modus membeli jus, setelah tiga Imigran Rohingya dari BLK keluar masuk ke labi-labi, lalu Rohim (agen) menghubungi TP untuk naik ke mobil tersebut dan bergegas pergi.

“Disinilah kita  menangkap mereka. Kenapa kita terus intai?, karena ini merupakan tindak lanjut dari kaburnya tujuh Imigran Rohingya dari BLK dalam jangka waktu tiga hari. Namun tidak ada tindakan Prefentif dari UNHCR, yang saat ini merupakan leding sektor penanganan warga negara asing (WNA) di Indonesia,” tutur Dandim.

Imigran Rohingya tersebut, sambung Oke, memanfaatkan momen salat magrib untuk keluar dari BLK, sehingga pihaknya berinisiatif untuk masuk ke area abu-abu dan tidak diranah hukum.

“Lima orang yang kita tangkap itu sempat kita bawa ke Makodim, sembari menunggu dijemput Polres Lhokseumawe, dan saat ini mereka sudah diamankan di Mapolres Lhokseumawe untuk menindak lanjutinya,” ungkap Oke.

Soal keamanan, kata Oke, pihaknya tidak bisa meningkatkannya. Pasalnya, terjebak oleh  terminology pengungsi, namanya pengungsi tidak boleh ditahan, dan ini membuat petugas menjadi serbasalah. Kecuali status mereka dibuat sebagai  imigran gelap, itu sah ditahan.

“Kita dari Kodim hanya membantu dan mensuport UNHCR dan Imigrasi, jika ada area abu-abu yang tidak terkafer oleh hukum, kita masuk didalamnya,” jelas Oke.

Oke berharap kepada UNHCR, harus menjadi leding sektor penanganan Imigran Rohingya tersebut. Karena WNA merupakan tanggungjawab mereka, sementara WNI yang tanggungjawab Pemerintah Daerah.

“Itu (penanganan) tugas UNHCR di depan, bukan satuan tugas. Karena UNHCR sudah diberikan mandate serta dana dari PBB untuk mengurus mereka. Kecuali, kalau Rohingya itu Imigran gelap, baru Imigrasi di depan,” imbuhnya.

Komentar

Loading...